Perjalanan JIWA
Published by Lia RosS on 02 April, 2007 at 4:34 PM.
Yang kita tahu, emosi atau jiwa memiliki keterkaitan dengan fikiran. Kalo ada ungkapan umum dari mata turun ke hati, maka ada juga petuah orang bijak, dari fikiran turun ke jiwa. Hingga kita bisa mengelola hati yang mudah sekali dibolak-balik ini, dibantu dengan menjaga fikir.
Sebagai pere, diri adalah segalanya, bahkan tubuhnya adalah orientasi hidup dia. Pere cantik dan molek adalah perempuan dengan lekuk-lekuk yang elok, pinggang ramping, panggul besar, perut rata, payudara penuh, lengan paha betis ramping, kulit mulus dan licin. Untuk menjadi elok yang bisa membuat semua mata lelaki membelalak, tersedia berbagai olah tubuh. Airmata menahan sakit, berdarah-darah menghancurkan lemak, perut keroncongan menahan lapar menjadi teman keseharian. Itulah, kesabaran, beban financial, waktu, tenaga dan energi adalah konsekuensinya.
Toh, memang tidak semua orang dilahirkan memiliki kesempurnaan, tapi semua orang dengan berbagai syariat yang ada bisa memiliki sebagian atau keseluruhan kesempurnaan itu. Semua, merupakan cara-cara TUHAN memberi kesempatan pada makhluk untuk menyempurnakan karya-NYA
Sebagaimana jasad, jiwa pun memiliki bentuk. Sebagian orang menafsirkan ada jiwa kebinatangan yang selalu di cap rendah, padahal justru kita bisa belajar dari hewan, semisal segalak-galaknya harimau tidak akan memakan anaknya. Meski tak bisa kita pungkiri kalau ayam memang terbiasa melakukan hubungan seksual dengan siapa saja, pun dengan keturunannya sendiri.
Ada juga jiwa bumi, pepohonan, malaikat yang diasosiasikan dengan cahaya, kebenaran, positif, putih, bersih, terang. Setiap saat jiwa-jiwa itu berperang dan bergesekan saling menipis atau menebalkan.
Mari memulai perjalanan mengolah jiwa itu. Saat sakit hati karena perlakuan pasangan, teman, orang tua, atasan, keinginan yang belum juga terwujud, atau segala hal yang terjadi diluar keinginan, respon awal mungkin bercampur baur, muka memerah, kemarahan yang terlontar, tangisan, dendam, doa-doa buruk tak tertahan. Setelah semua berlalu, kita pasti tersadar betapa buruknya respon kita. Dan ada keinginan untuk memiliki prilaku spontan yang lebih baik.
Good !! Sudah mulai melangkah. Selanjutnya, saat terjadi lagi sesuatu diluar harapan, tahan untuk tidak melontarkan kata-kata kasar, menjaga mimik muka tetap normal tidak pucat atau memerah, bahkan tetap senyum. Caranya dengan diam sejenak. Tidak segera merespon, memilih pergi menjauh, mencari tempat tenang, matikan handphone, setelah reda baru berkomunikasi kembali. Akan keluar kata-kata dan sikap yang baik meski hati masih merasa sakit dan doa-doa buruk masih tersimpan.
Masih belum puas kan ?. Coba yang ni. Ketika terasa kepedihan, rasakanlah seperti sedang membuang lemak dipinggang agar ramping. Flek hitam yang sedang dilaser hingga wajah bisa putih mulus. Belajar bersabar dengan menahan diri dari kerakusan makan kan bisa. Perempuan pasti kuat menahan sakitnya, jadikan saja olah fisik itu menjadi pembelajaran olah jiwa.
Boleh juga mengabaikan kesakitan, masukkanlah fikiran-fikiran positif bahwa sebenarnya orang yang menyakiti tidak bermaksud buruk, ingat hal-hal indah yang pernah terjadi, bayangkan pahala-pahala sabar yang akan kita tuai kelak, sampai yakini bahwa ALLOH selalu berikan yang terbaik, pasti selalu ada hikmah kebaikan dibalik apapun yang terjadi.
Terujung, rasakan sakit itu, rasakan sesakit-sakitnya, kuasai dari ujung terdalam sampai sisi terluas. Ketika sampai dipuncak kesakitan, balik dengan cepat menjadi kenikmatan. sakit yang nikmat.
Sesudahnya, kita akan mensikapi suka dan duka sama saja, tidak hanya sikap elegan tapi hati tetap cool. Tidak hanya fisik yang bisa elok, jiwa pun bisa menjadi cantik.
15 maret 2007
ALLOH menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu...Al Imron 153
Sebagai pere, diri adalah segalanya, bahkan tubuhnya adalah orientasi hidup dia. Pere cantik dan molek adalah perempuan dengan lekuk-lekuk yang elok, pinggang ramping, panggul besar, perut rata, payudara penuh, lengan paha betis ramping, kulit mulus dan licin. Untuk menjadi elok yang bisa membuat semua mata lelaki membelalak, tersedia berbagai olah tubuh. Airmata menahan sakit, berdarah-darah menghancurkan lemak, perut keroncongan menahan lapar menjadi teman keseharian. Itulah, kesabaran, beban financial, waktu, tenaga dan energi adalah konsekuensinya.
Toh, memang tidak semua orang dilahirkan memiliki kesempurnaan, tapi semua orang dengan berbagai syariat yang ada bisa memiliki sebagian atau keseluruhan kesempurnaan itu. Semua, merupakan cara-cara TUHAN memberi kesempatan pada makhluk untuk menyempurnakan karya-NYA
Sebagaimana jasad, jiwa pun memiliki bentuk. Sebagian orang menafsirkan ada jiwa kebinatangan yang selalu di cap rendah, padahal justru kita bisa belajar dari hewan, semisal segalak-galaknya harimau tidak akan memakan anaknya. Meski tak bisa kita pungkiri kalau ayam memang terbiasa melakukan hubungan seksual dengan siapa saja, pun dengan keturunannya sendiri.
Ada juga jiwa bumi, pepohonan, malaikat yang diasosiasikan dengan cahaya, kebenaran, positif, putih, bersih, terang. Setiap saat jiwa-jiwa itu berperang dan bergesekan saling menipis atau menebalkan.
Mari memulai perjalanan mengolah jiwa itu. Saat sakit hati karena perlakuan pasangan, teman, orang tua, atasan, keinginan yang belum juga terwujud, atau segala hal yang terjadi diluar keinginan, respon awal mungkin bercampur baur, muka memerah, kemarahan yang terlontar, tangisan, dendam, doa-doa buruk tak tertahan. Setelah semua berlalu, kita pasti tersadar betapa buruknya respon kita. Dan ada keinginan untuk memiliki prilaku spontan yang lebih baik.
Good !! Sudah mulai melangkah. Selanjutnya, saat terjadi lagi sesuatu diluar harapan, tahan untuk tidak melontarkan kata-kata kasar, menjaga mimik muka tetap normal tidak pucat atau memerah, bahkan tetap senyum. Caranya dengan diam sejenak. Tidak segera merespon, memilih pergi menjauh, mencari tempat tenang, matikan handphone, setelah reda baru berkomunikasi kembali. Akan keluar kata-kata dan sikap yang baik meski hati masih merasa sakit dan doa-doa buruk masih tersimpan.
Masih belum puas kan ?. Coba yang ni. Ketika terasa kepedihan, rasakanlah seperti sedang membuang lemak dipinggang agar ramping. Flek hitam yang sedang dilaser hingga wajah bisa putih mulus. Belajar bersabar dengan menahan diri dari kerakusan makan kan bisa. Perempuan pasti kuat menahan sakitnya, jadikan saja olah fisik itu menjadi pembelajaran olah jiwa.
Boleh juga mengabaikan kesakitan, masukkanlah fikiran-fikiran positif bahwa sebenarnya orang yang menyakiti tidak bermaksud buruk, ingat hal-hal indah yang pernah terjadi, bayangkan pahala-pahala sabar yang akan kita tuai kelak, sampai yakini bahwa ALLOH selalu berikan yang terbaik, pasti selalu ada hikmah kebaikan dibalik apapun yang terjadi.
Terujung, rasakan sakit itu, rasakan sesakit-sakitnya, kuasai dari ujung terdalam sampai sisi terluas. Ketika sampai dipuncak kesakitan, balik dengan cepat menjadi kenikmatan. sakit yang nikmat.
Sesudahnya, kita akan mensikapi suka dan duka sama saja, tidak hanya sikap elegan tapi hati tetap cool. Tidak hanya fisik yang bisa elok, jiwa pun bisa menjadi cantik.
15 maret 2007
ALLOH menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu...Al Imron 153
Kiblat DIRI
Published by Lia RosS on at 4:27 PM.
Semua orang menyadari, kemudian bilang kalo kehadiran pere sangat penting, bener banget-banget. Dari menjadi tiang sebuah negara sampe pemberi keputusan tansaksi ekonomi. Ga ironis sebenarnya dengan realitas keseharian yang ditangkap mata dan telinga. Juga tidak perlu memvonis budaya patriarki telah membentuk gap antara perkataan dan kenyataan, palagi konsep misoginis itu.
Media yang sekarang sudah menjadi tuhan memang berperan aktif menginfluens, berbagai iklan yang setiap detik ditayangkan sangat berpengaruh pada kehidupan perempuan. Sebagai contoh, iklan kosmetik yang menawarkan kecantikan agar menarik minat lelaki atau untuk membahagiakan lelaki. Seperti komentar seorang teman lelaki, ngapain ngebagusin tubuh kalo tidak untuk diperlihatkan, emang buat dinikmati sendiri, swalayan kali :-)
Kiblat pere seringkali adalah orang lain, definisi bahagia pere pun ditentukan oleh orang laen. Tidak salah ! bahkan mulia, karena menunjukkan kalo pere makhluk sosial bukan makhluk egois, terutama pabila hal tersebut membuat pere tetap kukuh, tidak mudah goyah, tetep punya orientasi hidup yang jelas.
Penjaja seks kek, istri deposito kek, pembantu rumah tangga kek, pere lugu yang sepertinya mudah dibohongi, atau apapun saja. Pere mesti ngerti dirinya, tau berbagai kelebihan yang dimiliki untuk menutupi sedikit saja kekurangannya. Ha..ha narsis !
Lalu, bagaimana kiblat diri itu ??
Sederhana saja, segala yang terjadi diluar diri, disakiti, dikhianati, diselingkuhi, dibohongi, janji yang tidak ditunaikan, komitmen yang dilanggar, dilecehkan, difitnah, dicintai, disukai tidak membuat pere mudah menangis dan tertawa.
Begitupun dengan yang terjadi di dalam diri. Pergolakan sedahsyat apapun, tidak membuat orang berfikiran negatif. Berusaha semampu diri, membuat orang nyaman berada didekat kita. Memenuhi komitmen yang telah dibuat meski terlihat sepele.
Kebaikan dan kelebihan atau keburukan dan kelemahan menurut definisi orang lain semestinya membuat pere semakin tangguh, membuat kekuatan semakin besar. Dia bisa menjadi magnit bagi sekitarnya. Memiliki kekuatan hakekat yang bisa menggerakkan syariat orang lain.
29 Mar 07
Cobalah, saat seseorang memberi hadiah lebaran, sepotong barang sisa penjualan dan kotor karena terinjak-injak, pun di bungkus koran. Balas, dengan memberinya hadiah kerudung cantik dari luar negeri, pun dibungkus kertas kado yang rapih.
Media yang sekarang sudah menjadi tuhan memang berperan aktif menginfluens, berbagai iklan yang setiap detik ditayangkan sangat berpengaruh pada kehidupan perempuan. Sebagai contoh, iklan kosmetik yang menawarkan kecantikan agar menarik minat lelaki atau untuk membahagiakan lelaki. Seperti komentar seorang teman lelaki, ngapain ngebagusin tubuh kalo tidak untuk diperlihatkan, emang buat dinikmati sendiri, swalayan kali :-)
Kiblat pere seringkali adalah orang lain, definisi bahagia pere pun ditentukan oleh orang laen. Tidak salah ! bahkan mulia, karena menunjukkan kalo pere makhluk sosial bukan makhluk egois, terutama pabila hal tersebut membuat pere tetap kukuh, tidak mudah goyah, tetep punya orientasi hidup yang jelas.
Penjaja seks kek, istri deposito kek, pembantu rumah tangga kek, pere lugu yang sepertinya mudah dibohongi, atau apapun saja. Pere mesti ngerti dirinya, tau berbagai kelebihan yang dimiliki untuk menutupi sedikit saja kekurangannya. Ha..ha narsis !
Lalu, bagaimana kiblat diri itu ??
Sederhana saja, segala yang terjadi diluar diri, disakiti, dikhianati, diselingkuhi, dibohongi, janji yang tidak ditunaikan, komitmen yang dilanggar, dilecehkan, difitnah, dicintai, disukai tidak membuat pere mudah menangis dan tertawa.
Begitupun dengan yang terjadi di dalam diri. Pergolakan sedahsyat apapun, tidak membuat orang berfikiran negatif. Berusaha semampu diri, membuat orang nyaman berada didekat kita. Memenuhi komitmen yang telah dibuat meski terlihat sepele.
Kebaikan dan kelebihan atau keburukan dan kelemahan menurut definisi orang lain semestinya membuat pere semakin tangguh, membuat kekuatan semakin besar. Dia bisa menjadi magnit bagi sekitarnya. Memiliki kekuatan hakekat yang bisa menggerakkan syariat orang lain.
29 Mar 07
Cobalah, saat seseorang memberi hadiah lebaran, sepotong barang sisa penjualan dan kotor karena terinjak-injak, pun di bungkus koran. Balas, dengan memberinya hadiah kerudung cantik dari luar negeri, pun dibungkus kertas kado yang rapih.
Ber-JARAK
Published by Lia RosS on at 4:23 PM.
Meski ganti-ganti channel televisi pada berbagai waktu, informasinya tidak berbeda jauh, bencana dimana-mana. Banjir, kelaparan, gempa yang tidak berhenti, lumpur lapindo, angin puting beliung, tsunami. Sebagian orang mengatakan alam sedang murka atau TUHAN sedang marah. Astaghfirlloh...
Yang masih bisa melihat dari TV atau brows di internet, hanya bisa menangis dalam diam, bersukur karena hal tersebut tidak menimpa diri, mendoakan, menitipkan sedikit rizeki, tafakur, merasakan posisi diri jika berada disituasi tersebut
Kalau kita tidak mengalami langsung atau tidak sempat memberi pertolongan dengan datang langsung, masih saja merasa ada jarak dengan semua itu. Konyol mungkin untuk berempati, kemudian berdoa agar kejadian yang disebut buruk itu menimpa diri.
Padahal, bencana tersebut bisa terjadi tidak hanya diluar diri, bencana itu bahkan terjadi berkali-kali didalam diri. Jiwa kita yang kelaparan, selama ini diabaikan tidak disuapi ketenangan dan kesabaran. Ruh dihantam angin puyuh yang memporakporandakan pertahanan hingga pendarahan telah mengering akibat dosa yang lupa ditaubati. Tsunami telah memisahkan jasad dari jiwa, pun menjauhi ruh. Berujung, pada ledakan bom yang menceraiberaikan diri menjadi tiada. Kebal. Jenuh. Kosong......
1 Apr 07
Yang masih bisa melihat dari TV atau brows di internet, hanya bisa menangis dalam diam, bersukur karena hal tersebut tidak menimpa diri, mendoakan, menitipkan sedikit rizeki, tafakur, merasakan posisi diri jika berada disituasi tersebut
Kalau kita tidak mengalami langsung atau tidak sempat memberi pertolongan dengan datang langsung, masih saja merasa ada jarak dengan semua itu. Konyol mungkin untuk berempati, kemudian berdoa agar kejadian yang disebut buruk itu menimpa diri.
Padahal, bencana tersebut bisa terjadi tidak hanya diluar diri, bencana itu bahkan terjadi berkali-kali didalam diri. Jiwa kita yang kelaparan, selama ini diabaikan tidak disuapi ketenangan dan kesabaran. Ruh dihantam angin puyuh yang memporakporandakan pertahanan hingga pendarahan telah mengering akibat dosa yang lupa ditaubati. Tsunami telah memisahkan jasad dari jiwa, pun menjauhi ruh. Berujung, pada ledakan bom yang menceraiberaikan diri menjadi tiada. Kebal. Jenuh. Kosong......
1 Apr 07
