Diary Ramadhan
Published by Lia RosS on 26 October, 2005 at 3:32 PM.
Pra Ramadhan
Sejak bulan Rajab Rosul senantiasa berdoa ”Allohuma baariklana fii rajab wa sya'ban wa balighna fii Ramadhani, Alloh, berkahilah kami dibulan Rojab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”
Begitu pun dengan kami, sebulan sebelum Ramadhan, kami sudah diingatkan untuk mempersiapkan menyambut bulan mulia ini. Setiap hari mata menggetarkan hati dengan melihat tulisan yang terpampang di depan masjid yang biasa dilewati ”Ramadhan 27 hari lagi” setiap hari berkurang, semakin medekati.
Seminggu sebelum Ramadhan hati semakin deg-degan, akankah sampai dibulan berkah ini ? seorang teman kantor meningggal persis 7 hari sebelum Ramadhan mnghampiri. Bisakah Ramadhan kali ini lebih baik ? bisakan menikmati kemenangan dengan istiqomah sesudah bulan mulia berganti ?
10 hari pertama
Diawal-awal tentu sangat semangat, 2 juz setiap hari, membeli tafsir dan buku spiritual lainnya, berjamaah menjalankan ritual yang wajib, i’tikaf dan lain-lain. Namun ditengah-tengah terselip pertanyaan ”benarkah nawetunya karena ALLOH ataukah melakukan amalan akhirat dengan niat mendapatkan dunia ?”. Alhamdulillah ingat lagi petuah seorang guru, ”bungkus serahkan semua pada-NYA, jangan karena takut tidak ikhlas kemudian meninggalkan amal baik”. Apapun itu TUHAN, tolongkan berikan niat terbaik, luruskan, ampuni jika ada niat salah yang terselubung.
Pertanyaan itu justru yang membuat tersungkur dan tersedu di rumah-NYA, betapa nikmatnya dikaruniai bisa merasakan kehadiran-NYA apalagi dalam ruku dan sujud. Selalu tidak mulus. Memang, dihari ke-7 terserang flu berat yang membuat tidak kuat menikmati ritual secara jama’i, menyesal sampai hampir menyalahkan takdir ”ALLOH kenapa nikmat ini KAU ambil, apa salahku?”. dengan sangat terpaksa memilih berbaring sambil menelusuri Al Misbah nya ustadz Quraish Shihab. Setiap kata yang dibaca selalu saja memaksa air mengaliri pipi. Pernah tertidur ketika membaca, terbangun karena merasa mata basah padahal tidak ada mimpi sama sekali. Kenapa pipi basah ? saya merasa tubuh ini berdzikir mengingati-NYA setiap saat tanpa perlu diinstruksikan otak ataupun hati, tubuh memang suci, seperti tumbuhan yang selalu bertasbih, hatilah yang kadang membawa tubuh melenceng ”maafkanlah aku wahai tubuh, jika hati ini membuat kau jauhi takdirmu yaitu patuh pada titah-NYA”
Sampai hari ke-10 masih belum juga bisa ruku dan sujud dengan sempurna, meski sudah memaksakan berritual secara jamaah, kembali menuntut ”TUHAN aku merindui-MU hadir dalam shalatku”. Padahal sudah berjanji untuk tidak akan menuntut TUHAN lagi, untuk kebaikan sekalipun, ”ampunilah”. Tanpa ruku dan sujud, hanya duduk pasrah beristighfar pun TUHAN menghadiri hati hingga nikmatnya sama seperti ketika ruku dan sujud.
Yap ! TUHAN ingin ajarkan bahwa jangan mentuhankan sesuatu, termasuk jalan menuju TUHAN karena DIA bisa disentuh dari berbagai pintu. Juga, barangkali selama ini lupa bersyukur atas nikmat bertemu dengan-NYA, bahkan seharusnya kita harus bersyukur karena kita bisa bersyukur.
Dihari ke-3, biasa....ngangkot. sepi dari penumpang, duduklah aku didekat pintu karena jarak yang ditempuh pendek. Tak lama, ada perempuan naik, duduk didekat pintu pula, aku males bergeser karena toh tempat duduk didepannya masih luas. Kemudian dia mendorongku, huh langsung kupasang muka jutek, sembarangan banget nih cewek, kesal memenuhi hati. Aku berpaling keluar jendela, terlihat spanduk ”selamat menunaikan ibadah puasa” dari sebuah perusahaan. Langsung tersadar, O ya aku sedang shaum, astaghfirlloh...astaghfirlloh...ucapku berulang-ulang.
Sebagai syukur karena diingatkan spanduk, jadilah aku rutin mengirimkan sms keutamaan-keutamaan Ramadhan. Semoga turut menghikmati seperti yang saya alami. Sebenarnya sih kepingin pula bikin spanduk ”Lia RosS mengucapkan selamat menunaikan ibadah shaum” ha...ha... emang siapa gue.....
10 hari kedua
Menjelang 10 ke-2, muncul was-was, takut tidak sesemangat diawal, benar saja, tidak lagi 2 juz sehari, harus memaksakan diri untuk istiqomah berritual secara jama’i, ”ayolah honey, hanya 1 bulan, hanya 1 bulan” kataku memotivasi. Ah, TUHAN memang teramat baik berikan pemahaman, disuatu sore dalam sepinya masjid kecil, ”Ramadhan, teramat indah, memberi makan ruh yang kelaparan, mengisi dan memenuhi hati, jangan ambil lagi TUHAN, meski sudah bukan Ramadhan lagi” meski belum tuntas 10 hari ke-2, rasanya tak ingin berpisah dengan Ramadhan.
Hmm...manusia?, merasa menjadi orang spesial karena diberi pemahaman, ketika berdiam di masjid, disebelah ada yang shalat dan tersedu, barulah tersadar, ah.. aku biasa-biasa aja, sama dengan yang lain.
17 Ramadhan,
Semakin menipis
Dalam sisanya
Kutelusuri butir perbutir rangkaian tasbih
Menyebut dan memanggil-MU
Mengagungkan dan memuja-MU
menghinakan diri
memohon ampun
atas ketakberdayaan mengelola hati
atas ketakkuasaan dirajai fikir
10 hari terakhir
Makan gratis
Biasa berkutat dengan pekerjaan, yang selalu hitung-hitungan bisnis, kamu beli apa yang jual, saya beli yang kamu jual, begitu kasarnya. Akhir Ramadhan mencoba memerdekakan diri dari semua itu.
Idenya dari bos, tidak hanya memberi tajil berupa kurma atau kolak tapi juga makanan berat agar jamaah tidak kesulitan mencari makan hingga bisa ’itikaf dengan khusuk. Jadilah kami bergotong royong mengumpulkan uang-uang receh dan ramai memasak. Baru tiga hari dana sudah habis dan persediaan bahan makanan pun menipis, hampir putus asa, ya ALLOH masih ingin berbagi tapi gimana lagi. Tidak lama kemudian, seorang teman sms, Alhamdulillah kita dapet dana belasan juta rupiah hingga bisa berbagi lebih banyak dengan kualitas lebih baik.
Program kami menjadi hal yang ditunggu-tunggu, karena varian menunya dari mie kocok, baso tahu, lontong + opor ayam, nasi tutug oncom, sekoteng untuk tengah malam, belum lagi cendol elizabeth yang terkenal di Bandung menjadi pilihan segar untuk membatalkan shaum.
Sembari menikmati ramainya program, secara tak sengaja semakin mengenal diri. Ketika dapat tugas memasak, sangat hati-hati dengan sistematika yang tepat dan rewel akan kebersihan. Jadilah aku disebut miss higienis dan miss perfect. Dulu-dulu ketika orang menyebut begitu sering membela diri tidak merasa, sekarang baru ngeh. Trus ketika dapet tugas mendistribusikan makanan, cerewet masalah antrian, kan gak adil ada orang yang sudah antri lama tapi dapetnya belakangan, belaku kalo ada yang menegur. Kadang sambil gak lihat minta orang antri, pernah nenek-nenek dan ibu hamil juga diminta antri, setelah ngangkat muka baru tersadar dan meminta maaf.
Senangnya ketika antrian sampai 600 orang terlayani dengan baik, kami suka bersorak sambil tepuk tangan namun terdiam menunduk sedih ketika sahur selalu saja ada yang tidak kebagian. Semoga tahun depan lebih baik lagi.
I’tikaf
Untuk warming up, memulai i’tikaf dimalam ke 19, masih tertidur selama 3 jam, biasa banget. Malam ke-21, lebih serius meski masih juga tertidur 1.5 jam. Menurut Imam Ghazali salah satu hujatul Islam yang tak perlu diragukan lagi keshalihannya, apabila hari ke-1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu maka malam lailatul Qodr jatuh pada tanggal 23, Allohu ”alam. Memasukinya, dari pagi sudah deg-degan bisakah mendapatkan malam penuh kemuliaan ? seperti keinginan bisa hidup 1000 tahun, karena tidak memungkinkah maka TUHAN menghadiahi malam 1000 bulan. Segala sesuatu telah dipersiapkan, masih juga tertidur selama 45 menit, ketika terbangun dan melihat beberapa orang tertidur muncul pemikiran betapa nikmatnya tidur, nikmat yang selama ini mungkin lupa disyukuri karena dianggap rutinitas biasa. Bayangkan, apabila kita tidak bisa tidur kita hanya bisa hidup dalam hitungan hari saja.
Perasaan menyesal masih juga muncul, kemudian memilih berjalan-jalan menatap bintang berdialog dengan diri sembari menghilangkan kantuk. Bermalam selanjutnya, ganjil maupun genap berusaha lebih baik meski tidak merasakan keanehan seperti cerita orang-orang sholeh, monas saja sampai menunduk memberikan emasnya, langit tiba-tiba sangat benderang, semua makhluk seperti yang terdiam senyap dan lain sebagainya.
Insiden di malam 25
Di acara memberi makan gratis untuk jamaah ’itikaf, diriuhnya antrian, berdiri seorang lelaki persis didepanku berdiri, otomatis keluar instruksi dari otak untuk memintanya memasuki antrian, saya mengangkat kepala untuk berkata .....saat bertatapan dengannya dunia seperti berhenti berputar, ngeblank, tidak terdengar lagi ramainya teman meminta mangkuk, mie, bawang dan lainnya, hening, sama seperti ketika mencium hajar aswad.
Tersadar oleh ucap salamnya ”Assalamu’alaikum .....” ” ’Alaikumus salam....” jawabku sambil memalingkan muka, ah... hati rasanya berkelejotan, ada yang masuk ke hati yang membuatnya hidup kembali kemudian berkembang mekar menjadi sangat bahagia. Tapi tidak bertahan lama, rasa sakitlah akhirnya yang memenuhi hati membuat tumpah ruah dalam tangis. Ingat akan kepengecutannya hadapi kenyataan, ketidakberaniannya melawan hukum sosial, penghianatannya akan semua kata-kata manis yang keluar dari mulutnya ”sayalah yang akan menjadi belahan jiwamu”.
Kebencianku padanya sama besar dengan keinginan melihatnya hidup bahagia. Meski sudah berikrar tidak akan pernah kembali ke masa lalu, tetap saja doa mengalir untuknya ”Ya ALLOH sayangi, kasihani, cintai dia, bahagiakan dan berkahi hidupnya,”
2 hari terakhir
Pernah merasakan sedihnya ditinggal seseorang ???
Dua kali saya merasakannya, pertama ketika harus berpisah dengan ibu bapak saat harus melanjutkan hidup di ibukota provinsi, sesegukan setiap malam. Kedua ketika memiliki seseorang yang dianggap soulmate ternyata dia hanya persinggahan saja. Sakitnya bukan kepalang. Tapi pedihnya kehilangan Ramadhan diatas dua peristiwa tadi, kalau dua peristiwa diatas sakitnya sebatas rasa saja, tapi kehilangan Ramadhan, seluruh diri merasakan sakit, dari fisik yang menuntut tidak ingin digunakan untuk hal yang tidak baik, rasa biasa diberi makan makanan yang baik, yang paling terluka adalah ruh kehilangan teman yang menjadi cahaya.
Sebagai perempuan dewasa, pasti ada masa-masa libur melaksanakan ibadah ritual. Subhanalloh, Ramadhan kali ini saya merasa dimanja TUHAN, rehat hanya dua hari saja, dihari pertama dan hari terakhir Ramadhan.
Syawal
Betapa tidak mudahnya istiqomah. Positive Thinking !!! ALLOH sedang mempersiapkan variabel-variabel yang mendukung hidupku lebih lurus.
Sejak bulan Rajab Rosul senantiasa berdoa ”Allohuma baariklana fii rajab wa sya'ban wa balighna fii Ramadhani, Alloh, berkahilah kami dibulan Rojab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”
Begitu pun dengan kami, sebulan sebelum Ramadhan, kami sudah diingatkan untuk mempersiapkan menyambut bulan mulia ini. Setiap hari mata menggetarkan hati dengan melihat tulisan yang terpampang di depan masjid yang biasa dilewati ”Ramadhan 27 hari lagi” setiap hari berkurang, semakin medekati.
Seminggu sebelum Ramadhan hati semakin deg-degan, akankah sampai dibulan berkah ini ? seorang teman kantor meningggal persis 7 hari sebelum Ramadhan mnghampiri. Bisakah Ramadhan kali ini lebih baik ? bisakan menikmati kemenangan dengan istiqomah sesudah bulan mulia berganti ?
10 hari pertama
Diawal-awal tentu sangat semangat, 2 juz setiap hari, membeli tafsir dan buku spiritual lainnya, berjamaah menjalankan ritual yang wajib, i’tikaf dan lain-lain. Namun ditengah-tengah terselip pertanyaan ”benarkah nawetunya karena ALLOH ataukah melakukan amalan akhirat dengan niat mendapatkan dunia ?”. Alhamdulillah ingat lagi petuah seorang guru, ”bungkus serahkan semua pada-NYA, jangan karena takut tidak ikhlas kemudian meninggalkan amal baik”. Apapun itu TUHAN, tolongkan berikan niat terbaik, luruskan, ampuni jika ada niat salah yang terselubung.
Pertanyaan itu justru yang membuat tersungkur dan tersedu di rumah-NYA, betapa nikmatnya dikaruniai bisa merasakan kehadiran-NYA apalagi dalam ruku dan sujud. Selalu tidak mulus. Memang, dihari ke-7 terserang flu berat yang membuat tidak kuat menikmati ritual secara jama’i, menyesal sampai hampir menyalahkan takdir ”ALLOH kenapa nikmat ini KAU ambil, apa salahku?”. dengan sangat terpaksa memilih berbaring sambil menelusuri Al Misbah nya ustadz Quraish Shihab. Setiap kata yang dibaca selalu saja memaksa air mengaliri pipi. Pernah tertidur ketika membaca, terbangun karena merasa mata basah padahal tidak ada mimpi sama sekali. Kenapa pipi basah ? saya merasa tubuh ini berdzikir mengingati-NYA setiap saat tanpa perlu diinstruksikan otak ataupun hati, tubuh memang suci, seperti tumbuhan yang selalu bertasbih, hatilah yang kadang membawa tubuh melenceng ”maafkanlah aku wahai tubuh, jika hati ini membuat kau jauhi takdirmu yaitu patuh pada titah-NYA”
Sampai hari ke-10 masih belum juga bisa ruku dan sujud dengan sempurna, meski sudah memaksakan berritual secara jamaah, kembali menuntut ”TUHAN aku merindui-MU hadir dalam shalatku”. Padahal sudah berjanji untuk tidak akan menuntut TUHAN lagi, untuk kebaikan sekalipun, ”ampunilah”. Tanpa ruku dan sujud, hanya duduk pasrah beristighfar pun TUHAN menghadiri hati hingga nikmatnya sama seperti ketika ruku dan sujud.
Yap ! TUHAN ingin ajarkan bahwa jangan mentuhankan sesuatu, termasuk jalan menuju TUHAN karena DIA bisa disentuh dari berbagai pintu. Juga, barangkali selama ini lupa bersyukur atas nikmat bertemu dengan-NYA, bahkan seharusnya kita harus bersyukur karena kita bisa bersyukur.
Dihari ke-3, biasa....ngangkot. sepi dari penumpang, duduklah aku didekat pintu karena jarak yang ditempuh pendek. Tak lama, ada perempuan naik, duduk didekat pintu pula, aku males bergeser karena toh tempat duduk didepannya masih luas. Kemudian dia mendorongku, huh langsung kupasang muka jutek, sembarangan banget nih cewek, kesal memenuhi hati. Aku berpaling keluar jendela, terlihat spanduk ”selamat menunaikan ibadah puasa” dari sebuah perusahaan. Langsung tersadar, O ya aku sedang shaum, astaghfirlloh...astaghfirlloh...ucapku berulang-ulang.
Sebagai syukur karena diingatkan spanduk, jadilah aku rutin mengirimkan sms keutamaan-keutamaan Ramadhan. Semoga turut menghikmati seperti yang saya alami. Sebenarnya sih kepingin pula bikin spanduk ”Lia RosS mengucapkan selamat menunaikan ibadah shaum” ha...ha... emang siapa gue.....
10 hari kedua
Menjelang 10 ke-2, muncul was-was, takut tidak sesemangat diawal, benar saja, tidak lagi 2 juz sehari, harus memaksakan diri untuk istiqomah berritual secara jama’i, ”ayolah honey, hanya 1 bulan, hanya 1 bulan” kataku memotivasi. Ah, TUHAN memang teramat baik berikan pemahaman, disuatu sore dalam sepinya masjid kecil, ”Ramadhan, teramat indah, memberi makan ruh yang kelaparan, mengisi dan memenuhi hati, jangan ambil lagi TUHAN, meski sudah bukan Ramadhan lagi” meski belum tuntas 10 hari ke-2, rasanya tak ingin berpisah dengan Ramadhan.
Hmm...manusia?, merasa menjadi orang spesial karena diberi pemahaman, ketika berdiam di masjid, disebelah ada yang shalat dan tersedu, barulah tersadar, ah.. aku biasa-biasa aja, sama dengan yang lain.
17 Ramadhan,
Semakin menipis
Dalam sisanya
Kutelusuri butir perbutir rangkaian tasbih
Menyebut dan memanggil-MU
Mengagungkan dan memuja-MU
menghinakan diri
memohon ampun
atas ketakberdayaan mengelola hati
atas ketakkuasaan dirajai fikir
10 hari terakhir
Makan gratis
Biasa berkutat dengan pekerjaan, yang selalu hitung-hitungan bisnis, kamu beli apa yang jual, saya beli yang kamu jual, begitu kasarnya. Akhir Ramadhan mencoba memerdekakan diri dari semua itu.
Idenya dari bos, tidak hanya memberi tajil berupa kurma atau kolak tapi juga makanan berat agar jamaah tidak kesulitan mencari makan hingga bisa ’itikaf dengan khusuk. Jadilah kami bergotong royong mengumpulkan uang-uang receh dan ramai memasak. Baru tiga hari dana sudah habis dan persediaan bahan makanan pun menipis, hampir putus asa, ya ALLOH masih ingin berbagi tapi gimana lagi. Tidak lama kemudian, seorang teman sms, Alhamdulillah kita dapet dana belasan juta rupiah hingga bisa berbagi lebih banyak dengan kualitas lebih baik.
Program kami menjadi hal yang ditunggu-tunggu, karena varian menunya dari mie kocok, baso tahu, lontong + opor ayam, nasi tutug oncom, sekoteng untuk tengah malam, belum lagi cendol elizabeth yang terkenal di Bandung menjadi pilihan segar untuk membatalkan shaum.
Sembari menikmati ramainya program, secara tak sengaja semakin mengenal diri. Ketika dapat tugas memasak, sangat hati-hati dengan sistematika yang tepat dan rewel akan kebersihan. Jadilah aku disebut miss higienis dan miss perfect. Dulu-dulu ketika orang menyebut begitu sering membela diri tidak merasa, sekarang baru ngeh. Trus ketika dapet tugas mendistribusikan makanan, cerewet masalah antrian, kan gak adil ada orang yang sudah antri lama tapi dapetnya belakangan, belaku kalo ada yang menegur. Kadang sambil gak lihat minta orang antri, pernah nenek-nenek dan ibu hamil juga diminta antri, setelah ngangkat muka baru tersadar dan meminta maaf.
Senangnya ketika antrian sampai 600 orang terlayani dengan baik, kami suka bersorak sambil tepuk tangan namun terdiam menunduk sedih ketika sahur selalu saja ada yang tidak kebagian. Semoga tahun depan lebih baik lagi.
I’tikaf
Untuk warming up, memulai i’tikaf dimalam ke 19, masih tertidur selama 3 jam, biasa banget. Malam ke-21, lebih serius meski masih juga tertidur 1.5 jam. Menurut Imam Ghazali salah satu hujatul Islam yang tak perlu diragukan lagi keshalihannya, apabila hari ke-1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu maka malam lailatul Qodr jatuh pada tanggal 23, Allohu ”alam. Memasukinya, dari pagi sudah deg-degan bisakah mendapatkan malam penuh kemuliaan ? seperti keinginan bisa hidup 1000 tahun, karena tidak memungkinkah maka TUHAN menghadiahi malam 1000 bulan. Segala sesuatu telah dipersiapkan, masih juga tertidur selama 45 menit, ketika terbangun dan melihat beberapa orang tertidur muncul pemikiran betapa nikmatnya tidur, nikmat yang selama ini mungkin lupa disyukuri karena dianggap rutinitas biasa. Bayangkan, apabila kita tidak bisa tidur kita hanya bisa hidup dalam hitungan hari saja.
Perasaan menyesal masih juga muncul, kemudian memilih berjalan-jalan menatap bintang berdialog dengan diri sembari menghilangkan kantuk. Bermalam selanjutnya, ganjil maupun genap berusaha lebih baik meski tidak merasakan keanehan seperti cerita orang-orang sholeh, monas saja sampai menunduk memberikan emasnya, langit tiba-tiba sangat benderang, semua makhluk seperti yang terdiam senyap dan lain sebagainya.
Insiden di malam 25
Di acara memberi makan gratis untuk jamaah ’itikaf, diriuhnya antrian, berdiri seorang lelaki persis didepanku berdiri, otomatis keluar instruksi dari otak untuk memintanya memasuki antrian, saya mengangkat kepala untuk berkata .....saat bertatapan dengannya dunia seperti berhenti berputar, ngeblank, tidak terdengar lagi ramainya teman meminta mangkuk, mie, bawang dan lainnya, hening, sama seperti ketika mencium hajar aswad.
Tersadar oleh ucap salamnya ”Assalamu’alaikum .....” ” ’Alaikumus salam....” jawabku sambil memalingkan muka, ah... hati rasanya berkelejotan, ada yang masuk ke hati yang membuatnya hidup kembali kemudian berkembang mekar menjadi sangat bahagia. Tapi tidak bertahan lama, rasa sakitlah akhirnya yang memenuhi hati membuat tumpah ruah dalam tangis. Ingat akan kepengecutannya hadapi kenyataan, ketidakberaniannya melawan hukum sosial, penghianatannya akan semua kata-kata manis yang keluar dari mulutnya ”sayalah yang akan menjadi belahan jiwamu”.
Kebencianku padanya sama besar dengan keinginan melihatnya hidup bahagia. Meski sudah berikrar tidak akan pernah kembali ke masa lalu, tetap saja doa mengalir untuknya ”Ya ALLOH sayangi, kasihani, cintai dia, bahagiakan dan berkahi hidupnya,”
2 hari terakhir
Pernah merasakan sedihnya ditinggal seseorang ???
Dua kali saya merasakannya, pertama ketika harus berpisah dengan ibu bapak saat harus melanjutkan hidup di ibukota provinsi, sesegukan setiap malam. Kedua ketika memiliki seseorang yang dianggap soulmate ternyata dia hanya persinggahan saja. Sakitnya bukan kepalang. Tapi pedihnya kehilangan Ramadhan diatas dua peristiwa tadi, kalau dua peristiwa diatas sakitnya sebatas rasa saja, tapi kehilangan Ramadhan, seluruh diri merasakan sakit, dari fisik yang menuntut tidak ingin digunakan untuk hal yang tidak baik, rasa biasa diberi makan makanan yang baik, yang paling terluka adalah ruh kehilangan teman yang menjadi cahaya.
Sebagai perempuan dewasa, pasti ada masa-masa libur melaksanakan ibadah ritual. Subhanalloh, Ramadhan kali ini saya merasa dimanja TUHAN, rehat hanya dua hari saja, dihari pertama dan hari terakhir Ramadhan.
Syawal
Betapa tidak mudahnya istiqomah. Positive Thinking !!! ALLOH sedang mempersiapkan variabel-variabel yang mendukung hidupku lebih lurus.
Cantik adalah pilihan !!! BUKAN TAKDIR
Published by Lia RosS on at 3:31 PM.
Sudah disadari, meski hanya rok putih dengan potongan payung yang melebar ditambah daun warna pink yang dilukis tangan seorang seniman jogja, memakai atasan kaos pink dengan kerudung putih tetap agak besar juga tetap berkaos kaki, tetap saja kesan seksi akan muncul, palagi dengan cincin besar juga ngepink yang dipake di telunjuk.
Dikelas non formal yang saya ikuti, ada seorang laki-laki (seusia ponakan), fisically 7.5 deh namun dimataku tetap aja anak kecil, tumben-tumbennya dia memillih duduk disebelah dan ... ”pulangnya kemana?...entar mudik kemana ?...kamu (haaa menyebutku kamu) seneng ditempat kerja yang sekarang ?...” menjelang pulang saya memilih pintu yang berbeda melihatnya berjalan pelan menjajari.
ha.. ha.. bahkan ada laki-laki yang sengaja bolak–balik didepanku duduk (GeeR! padahal dia kehilangan duit kali), begitupun diangkot, laki-laki yang sedang bersama pacarnya tetap saja melirik berkali-kali. Dasar !
Membiarkan mata laki-laki memelototi dari ujung kerudung sampai sepatu sampai merasa ditelanjangi. Huh.
Teman-teman perempuan terperangah ” kamu cantik sekali” ... ”ih kamu seksi”... ” saya mau manggil tapi takut salah dikira bukan kamu, sekarang ( enak aja baru sekarang) kamu cantik”, seorang perempuan tak dikenal menunjukku ”tuh, bukunya diambil teteh yang cantik” Teman perempuan yang biasa tampil gaya dan seksi dengan baju dan jins ketat, melirik dengan ujung mata memperhatikan baju yang dipake.
Awalnya saya fikir cantik itu takdir, ternyata tidak, cantik adalah pilihan, semua perempuan bisa cantik. Caranya, dari dalam dengan menanamkan kata ”aku cantik, aku cantik” lakukan berulang-ulang terutama ketika bercermin, maka aura cantik akan muncul dan semua orang pun akan turut merasakan aura kecantikan. Pernah kan kita melihat ada perempuan yang secara bentukan fisik biasa-biasa saja namun terasa kalo dia cantik. Bahkan pernah juga saya duduk bersebelahan dengan perempuan yang secara bentuk fisik mendekati sempurna, tinggi semampai, hidung bangir, mata belo, bibir tipis pokoknya delapan deh, namun tidak merasakan kecantikannya.
Selain itu, otak juga mesti diisi, orang yang berwawasan luas, b’gaul, smart, akan nyaman berinteraksi dengannya karena terpancar kecerdasan yang menambah pesona kecantikannya.
Nah kalo secara fisik, tentu bukan hal yang sulit untuk perempuan yang berdana tebal, tinggal datengin dokter dokter atau salon, dengan 10 juta impression menjanjikan tubuh semampai tanpa lemak, selulit dan strechmark, dengan 3 juta muka bisa mulus tanpa jerawat, komedo dan flek.
Untuk yang dananya terbatas juga mudah saja asal bisa bersabar dan ulet, percaya deh, muka dan badan bisa dimasker sama wortel yangbisa bikin kulit putih dan mulus yang bisa dibeli hanya oleh uang 500-1000 perak. Perhatikan baik-baik wajah, kalo masih bisa dipermak, misal yang alisnya sedikit dan pendek ato rambut yang tipis bisa pake minyak zaitun seharga 8.500 ribu saja , gigi yang kurang rapih bisa pake kawat gigi dengan 750 rb, yang merasa matanya kurang mempesona bisa pake kaca mata, kalo ada yang tidak bisa dirubah, siasati dengan cara bermake up atau berkerudung, Tidak perlu bermake up komplit, namun Yang penting usahakan muka selalu bersih. Mengenai bentuk tubuh, kalo masih bisa hidup sehat atau diet lakukanlah, bersabar menahan keinginan makan makanan gurih. Jika tidak berhasil, lupakan saja gemuk dan pendek, siasati dengan baju yang dipake, banyak kan trik-trik dimajalah yang membahasnya. Misal, untuk yang kurang tinggi atau agak besar, pakailah atasan yang panjangnya sepantat (maaf), jangan pake baju dan kerudung dalam satu warna, jangan pake baju ketat karena akan memperlihatkan lemak dimana-mana. Dan banyak lagi trik lainnya.
Termasuk seksi lho, meski berbaju tertutup dan jilbab rapih, bisa saja perempuan nampak seksi. Kalo yang ni, i’m not recommended, tapi kalo sekali-kali iseng bolehlah untuk ngetest, toh kedepannya bisa dipake untuk yang halal.
Suer! Baru sekali ini berani melakukannya. Meski dari dulu tahu banget teori agar bisa tampil menawan. Padahal jujur, sering muncul keinginan untuk menonjolkan diri ”aku cantik lho”. Namun, memilih tenggelam dalam jubah dan kerudung besar.
Ternyata menyenangkan dipuji dan disanjung. Membuat hari lebih indah dan penuh semangat.
Menjadikan hati penuh bunga.
Meski.... harus kubayar mahal dengan tidak bisa merasakan nikmatnya sujud.
Dikelas non formal yang saya ikuti, ada seorang laki-laki (seusia ponakan), fisically 7.5 deh namun dimataku tetap aja anak kecil, tumben-tumbennya dia memillih duduk disebelah dan ... ”pulangnya kemana?...entar mudik kemana ?...kamu (haaa menyebutku kamu) seneng ditempat kerja yang sekarang ?...” menjelang pulang saya memilih pintu yang berbeda melihatnya berjalan pelan menjajari.
ha.. ha.. bahkan ada laki-laki yang sengaja bolak–balik didepanku duduk (GeeR! padahal dia kehilangan duit kali), begitupun diangkot, laki-laki yang sedang bersama pacarnya tetap saja melirik berkali-kali. Dasar !
Membiarkan mata laki-laki memelototi dari ujung kerudung sampai sepatu sampai merasa ditelanjangi. Huh.
Teman-teman perempuan terperangah ” kamu cantik sekali” ... ”ih kamu seksi”... ” saya mau manggil tapi takut salah dikira bukan kamu, sekarang ( enak aja baru sekarang) kamu cantik”, seorang perempuan tak dikenal menunjukku ”tuh, bukunya diambil teteh yang cantik” Teman perempuan yang biasa tampil gaya dan seksi dengan baju dan jins ketat, melirik dengan ujung mata memperhatikan baju yang dipake.
Awalnya saya fikir cantik itu takdir, ternyata tidak, cantik adalah pilihan, semua perempuan bisa cantik. Caranya, dari dalam dengan menanamkan kata ”aku cantik, aku cantik” lakukan berulang-ulang terutama ketika bercermin, maka aura cantik akan muncul dan semua orang pun akan turut merasakan aura kecantikan. Pernah kan kita melihat ada perempuan yang secara bentukan fisik biasa-biasa saja namun terasa kalo dia cantik. Bahkan pernah juga saya duduk bersebelahan dengan perempuan yang secara bentuk fisik mendekati sempurna, tinggi semampai, hidung bangir, mata belo, bibir tipis pokoknya delapan deh, namun tidak merasakan kecantikannya.
Selain itu, otak juga mesti diisi, orang yang berwawasan luas, b’gaul, smart, akan nyaman berinteraksi dengannya karena terpancar kecerdasan yang menambah pesona kecantikannya.
Nah kalo secara fisik, tentu bukan hal yang sulit untuk perempuan yang berdana tebal, tinggal datengin dokter dokter atau salon, dengan 10 juta impression menjanjikan tubuh semampai tanpa lemak, selulit dan strechmark, dengan 3 juta muka bisa mulus tanpa jerawat, komedo dan flek.
Untuk yang dananya terbatas juga mudah saja asal bisa bersabar dan ulet, percaya deh, muka dan badan bisa dimasker sama wortel yangbisa bikin kulit putih dan mulus yang bisa dibeli hanya oleh uang 500-1000 perak. Perhatikan baik-baik wajah, kalo masih bisa dipermak, misal yang alisnya sedikit dan pendek ato rambut yang tipis bisa pake minyak zaitun seharga 8.500 ribu saja , gigi yang kurang rapih bisa pake kawat gigi dengan 750 rb, yang merasa matanya kurang mempesona bisa pake kaca mata, kalo ada yang tidak bisa dirubah, siasati dengan cara bermake up atau berkerudung, Tidak perlu bermake up komplit, namun Yang penting usahakan muka selalu bersih. Mengenai bentuk tubuh, kalo masih bisa hidup sehat atau diet lakukanlah, bersabar menahan keinginan makan makanan gurih. Jika tidak berhasil, lupakan saja gemuk dan pendek, siasati dengan baju yang dipake, banyak kan trik-trik dimajalah yang membahasnya. Misal, untuk yang kurang tinggi atau agak besar, pakailah atasan yang panjangnya sepantat (maaf), jangan pake baju dan kerudung dalam satu warna, jangan pake baju ketat karena akan memperlihatkan lemak dimana-mana. Dan banyak lagi trik lainnya.
Termasuk seksi lho, meski berbaju tertutup dan jilbab rapih, bisa saja perempuan nampak seksi. Kalo yang ni, i’m not recommended, tapi kalo sekali-kali iseng bolehlah untuk ngetest, toh kedepannya bisa dipake untuk yang halal.
Suer! Baru sekali ini berani melakukannya. Meski dari dulu tahu banget teori agar bisa tampil menawan. Padahal jujur, sering muncul keinginan untuk menonjolkan diri ”aku cantik lho”. Namun, memilih tenggelam dalam jubah dan kerudung besar.
Ternyata menyenangkan dipuji dan disanjung. Membuat hari lebih indah dan penuh semangat.
Menjadikan hati penuh bunga.
Meski.... harus kubayar mahal dengan tidak bisa merasakan nikmatnya sujud.
Masa Depan, yang paling depan.
Published by Lia RosS on at 3:29 PM.
Setelah ngalor ngidul bercerita kesana kemari, ibu berkeluh ” takut sekali menghadapi maut, bagaimana nanti dialam kubur”. Dunia agak melenakan, hingga pemikiran itu tidak menjadi konsen utama, perkataan ibu memutarbalikkan otak dan meluruskan hati.
Suatu masa pernah mengalami ketakutan hadapi hidup ketika kehilangan saeseorang tempat berpegang, saat itu ingin hilang saja ditelan bumi. Bagaimana bisa melangkah tanpa tangannya, merebah tanpa bersandar padanya?. Perjalanan kaki menuju rumah-NYA mengajarkan, langit masih biru, bunga masih mekar dan harum, matahari masih bersinar, bulan pun masih meredup romantis, sampai hari ini ternyta hidup baik-baik saja.
Ketika masih dialam ruh, tidak ada ketakutan menuju rahim, tidak ragu pula ngegubrak kedunia, kemudian masa kecil terasa menyenangkan. Justru setelah bisa melihat, mendengar dan merasa lebih banyak menjadi ego bahwa bisa menentukan hidup. Padahal kita tidak miliki apa-apa selain keinginan.
Jadi, pasrahkan saja, jangan ragu melihat kedepan, sakitnya maut seperti dikulitinya kulit dari 70 unta, panasnya mahsyar karena matahari tepat berada diatas ubun-ubun, perihnya melewati shirat, hancurnya tubuh meski hanya oleh satu titik api neraka saja. Semua akan menjadi biasa, biasa dalam kesakitan hingga kita tidak akan merasakan kesakitan lagi. Apalagi jika bisa ikhlas, sudah tidak ada lagi sakit dan nikmat, kenyang dan lapar, menangis dan tertawa bukan lagi sebuah simbol yang menunjukkan bahagia atau luka.
Jangan lupa, TUHAN Maha Rahman Maha Rahim, yang akan terbuka menyambut hamba-NYA dengan penuh cinta.
Suatu masa pernah mengalami ketakutan hadapi hidup ketika kehilangan saeseorang tempat berpegang, saat itu ingin hilang saja ditelan bumi. Bagaimana bisa melangkah tanpa tangannya, merebah tanpa bersandar padanya?. Perjalanan kaki menuju rumah-NYA mengajarkan, langit masih biru, bunga masih mekar dan harum, matahari masih bersinar, bulan pun masih meredup romantis, sampai hari ini ternyta hidup baik-baik saja.
Ketika masih dialam ruh, tidak ada ketakutan menuju rahim, tidak ragu pula ngegubrak kedunia, kemudian masa kecil terasa menyenangkan. Justru setelah bisa melihat, mendengar dan merasa lebih banyak menjadi ego bahwa bisa menentukan hidup. Padahal kita tidak miliki apa-apa selain keinginan.
Jadi, pasrahkan saja, jangan ragu melihat kedepan, sakitnya maut seperti dikulitinya kulit dari 70 unta, panasnya mahsyar karena matahari tepat berada diatas ubun-ubun, perihnya melewati shirat, hancurnya tubuh meski hanya oleh satu titik api neraka saja. Semua akan menjadi biasa, biasa dalam kesakitan hingga kita tidak akan merasakan kesakitan lagi. Apalagi jika bisa ikhlas, sudah tidak ada lagi sakit dan nikmat, kenyang dan lapar, menangis dan tertawa bukan lagi sebuah simbol yang menunjukkan bahagia atau luka.
Jangan lupa, TUHAN Maha Rahman Maha Rahim, yang akan terbuka menyambut hamba-NYA dengan penuh cinta.
IBU
Published by Lia RosS on 03 October, 2005 at 12:01 PM.
Rasanya, tak ada kekurangan dan kejelekan yang menempel diingatan tentang ibu, semua serba baik, indah, menyenangkan.
” Mendengarkan dengan khusuk semua cerita dari bangun tidur sampai tidur lagi, sampai ibu hafal semua teman sekolah meski belum pernah bertemu,
Menemani saat sahur menjelang shaum sunnah, bahkan mengajakku membeli ketempat yang jauh agar bisa makan enak,
Menuntunku untuk tidur, menyelimuti, menyuapi kolak dan meminumkan obat saat sakit padahal seluruh anggota keluarga sedang kerja bakti dan mengolokku pura-pura sakit,
Tidur hanya diatas tikar, sementara aku tidur dikasur, menemaniku kala sakit
Rela dibangunkan tengah malam, kalau tiba-tiba aku mimpi buruk,
Meminta maaf pada anak-anak, merasa tidak bisa membahagiakannya,
Mengingatkan ketika berganti pakaian didepannya, ”kau sudah besar” sambil menyerahkan perlengkapan perempuan kelas 2 SMP – tidak tahu kapan ibu membeli, sudah tersedia dilemari bajunya –
Berdiskusi dengan bapak tentang anak-anaknya satu persatu, memaklumi perbedaan karakter dan takdirnya,
Bekerja keras menambah penghasilan keluarga,
Bersabar ketika kekurangan dan dititipi ujian ”.
Kebaikannya membuat aku terlalu mencintainya, bahkan melebihi TUHAN, sering merasa takut meninggalkan ritual jika berjauhan, namun berlalai-lalai jika didekatnya karena merasa punya pelindung.
TUHAN tentu cemburu, memisahkan aku dengan membuat aku terlena dengan segala aktifitas. Berjauhan sekian lama, perbedaan pemikiran dan keinginan membuatnya menganggapku si anak hilang.
Ibu, ketika tiada kuasaku jalani gelombang, rengkuhmu, nasihatmu, telatenmu ingin kuraih kembali. Maafkan ......
” Mendengarkan dengan khusuk semua cerita dari bangun tidur sampai tidur lagi, sampai ibu hafal semua teman sekolah meski belum pernah bertemu,
Menemani saat sahur menjelang shaum sunnah, bahkan mengajakku membeli ketempat yang jauh agar bisa makan enak,
Menuntunku untuk tidur, menyelimuti, menyuapi kolak dan meminumkan obat saat sakit padahal seluruh anggota keluarga sedang kerja bakti dan mengolokku pura-pura sakit,
Tidur hanya diatas tikar, sementara aku tidur dikasur, menemaniku kala sakit
Rela dibangunkan tengah malam, kalau tiba-tiba aku mimpi buruk,
Meminta maaf pada anak-anak, merasa tidak bisa membahagiakannya,
Mengingatkan ketika berganti pakaian didepannya, ”kau sudah besar” sambil menyerahkan perlengkapan perempuan kelas 2 SMP – tidak tahu kapan ibu membeli, sudah tersedia dilemari bajunya –
Berdiskusi dengan bapak tentang anak-anaknya satu persatu, memaklumi perbedaan karakter dan takdirnya,
Bekerja keras menambah penghasilan keluarga,
Bersabar ketika kekurangan dan dititipi ujian ”.
Kebaikannya membuat aku terlalu mencintainya, bahkan melebihi TUHAN, sering merasa takut meninggalkan ritual jika berjauhan, namun berlalai-lalai jika didekatnya karena merasa punya pelindung.
TUHAN tentu cemburu, memisahkan aku dengan membuat aku terlena dengan segala aktifitas. Berjauhan sekian lama, perbedaan pemikiran dan keinginan membuatnya menganggapku si anak hilang.
Ibu, ketika tiada kuasaku jalani gelombang, rengkuhmu, nasihatmu, telatenmu ingin kuraih kembali. Maafkan ......
