Intuisi "aku" perEMPUan

"aku". ana dan al Haq. makhluk perEMPUan dan Khalik NYA. tentang perEMPUan yang mainkan perannya, TUHAN nya yang mainkan takdir diantara jari-jari NYA dan bagaimana ”mereka” saling berhubungan. mari....mengeksplorenya disini


Seharusnya, laki-laki dan perempuan bertukar tempat ..........

Saya masih merasakan aura kebahagiaannya ketika semangat bercerita, ”dia bilang saya akan merasakan kedekatan dengan Tuhan diusia 50 tahun, saya jawab aja lumayanlah, kemudian dia hmmm... menjitak kepala saya” agak ragu dia mengatakannya, saya sih yakin, jitakannya pasti lembut dan penuh sayang, eh itu sih elusan namanya.
"irfan-nama mantannya- sangat shalih, baik, hormat pada orang tua, selalu ngerti apa yang saya rasa, sangat senang beramal. Tapi, entah karena saking baiknya atau memang dia laki-laki TP (tebar pesona)jadinya selalu dikelilingi pere-pere". Yang pasti sih yang kedua, seruku dalam hati.
"saya sangat bahagia dan bersyukur dengan suami sekarang" katanya buru-buru mengalihkan.

Berbagai cerita bersama seseorang yang pernah teramat dekat mengalir dari bibirnya, terkadang sambil menahan rasa bahagia, tak jarang terlepas tanpa disadarinya, kerinduan melingkupi.Sesekali pedih juga hadir karena akhir cerita tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Aura itu pun saya nikmati ketika bersama lelaki yang pernah dicintanya itu, meski kentara dia berusaha menutupi, mungkin karena laki-laki pandai menyimpan rasa. Dalam rangkaian cerita mengenai berbagai hal, tak jarang Aisya-nama perempuannya- disebut. Ketika saya berkata ”laki-laki tuh bagusnya gemuk lagi beda ma pere yang pasti ribut kalo naik 1 kilo saja” jawabnya ”Iya ya perempuan tuh gitu, Aisya juga begitu ketika terakhir ketemu, malu karena gemuk”,
”dulu saya tekstual, sampai-sampai Aisya ketakutan kalau dekat saya”.
"setiap ada acara dikotanya, dengan berbagai cara saya selalu berusaha untuk ketemu meski saya datang tidak sendiri (bersama teman hidupnya)".

CINTA MATI biasa kami menyebutnya.
Tadinya saya fikir cerita itu hanya ada difilm-film Korea yang saya tonton setiap sore di Indosiar. Cerita cinta yang mengharu biru, cinta mati dan kesabaran, namun sayang, kenyataan tak tunduk pada kesetiaan. Laki-laki, makhluk yang terkenal tegar pun tersedu berurai air mata. Mungkin, banyak pula laki-laki Indonesia yang bantalnya basah karena tangisan (hiiy..hiiy....)

O ya saya ingat, ketika kecil dan belum masuk sekolah, saya sangat senang memegangi kursi pengantin yang panjang itu, dari sebelum akad nikah dimulai sampai selesai, sering terlintas difikiran apakah pengantin ini saling mencintai ? jika ya, betapa menyenangkannya bisa menikah dengan orang yang dicinta, jika tidak pasti akan menyakitkan, seumur hidup tidak bersama dengan belahan hati. India (film) banget ya ?

Sering orang bilang, ”sudah takdir !” ungkapan kepasrahan yang ikhlas atau putus asa, entahlah. Namun yang saya sadari, takdir adalah ujung usaha manusia. Diantara kelahiran, kematian, rizki, dan jodoh yang menjadi ketentuan, dua yang terakhir adalah pilihan.

Sementara itu dalam cinta ada berbagai jenis, cinta yang terjadi karena sering bertemu, cinta karena melihat, mendengar, dan merasakan kelebihan yang dimiliki, dan cinta yang terjadi begitu saja, jarang bertemu dan tidak terpesona oleh kelebihan, itulah cinta mati.

Persoalan antara cinta dan menikah memang berbeda. Dari berbagai kasus dan dialog membandingkan perempuan dan laki-laki mengambil keputusan menikah, sangat sesuai dengan kodratnya. Perempuan dengan 9 rasa sering mengabaikan 1 akalnya, tentu mengejar sang true love. Laki-laki dengan 9 akal sering mengabaikan rasa.

Padahal sesungguhnya harus sebaliknya, teman-teman pere yang menikah dengan pertimbangan rasio rumah tangganya lebih bahagia. Karena memang perempuan mudah jatuh cinta, lihat aja, digombalin dikit bisa kleyeng-kleyeng, pusing tujuh keliling terjerat cinta. Dan akan berkorban sepenuh hati menjaga cinta ’yang ada pada saat itu’.

Sementara laki-laki tertipu dengan ungkapan perempuan ”dasar laki-laki tidak punya perasaan”. Sebenarnya, laki-laki tanpa disadarinya sangat berperasaan, setelah memiliki cinta mati, dia akan bertahan bersemayam seumur hidup.

Jadi, sebenarnya yang setia itu pere atau laki ya ?

Hanya, laki-laki terlalu rasional sehingga sering berfikir praktis, ”toh perempuan ini cantik, sholeh dan baik menjadi istri. ya sudah saya nikahi dia” kalo ditanya ”cintakah ?” sering dijawab ”alah.. itu masalah kecil” padahal itu masalah besar dikemudian hari, selingkuh dan perpisahan diawali dari sini.

Sensasi yang dirasakan laki-laki ketika bersama orang yang dicinta bisa memabukkan dan mengabaikan 9 akal yang dimilikinya. seorang bapak yang sudah memiliki 3 anak masih mengejar perempuan SMAnya, seorang yang sangat spiritual pun, diam-diam menyimpan cinta sejatinya. Tentu sangat tidak nyaman, terutama untuk perempuan, Hanya menjadi istri legal atau hanya selingkuhan saja.

Laki-laki sebaiknya menikahi pere yang jadi true lovenya, sementara pere belajar menggunakan akal, harus hitung-hitungan diatas kertas, berbagai pertimbangan difikirkan dengan matang.

By the way, semua itu hanya ukuran dan hitungan manusia. Yang pasti adalah kita punya TUHAN sumber segala cinta dan hanya kepada-NYA saja kita mencinta.

Nov, 05
sesekali kucuri ilusi gerakan batiniah mu.

Jatuh Cinta Lagi

Pertama melihatnya, saya merasa harus menjaga hati, ah... meski susah jatuh cinta pada pandangan pertama, sesekali mengalaminya juga, seperti kali ini. Pelan kusembunyikan rasa suka dengan menjaga jarak. Bertahan hanya beberapa detik, menit selanjutnya kubiarkan rasa menguasainya.

Mulailah setiap saat bersamanya, nempel kaya prangko kata keluargaku, bayangkan saja, pagi-pagi sudah mendatangi rumahnya jika dia tidak datang, sepanjang hari bercerita dan bersenda gurau, tak jarang dia menginap dirumah atau sebaliknya. Kalau malam harus berpisah, saya tidak bisa tidur nyenyak begitupun dia kata keluarganya. Mungkin terbiasa merasakan degup jantungku dan hangatnya nafas yang keluar dari hidungku saat tidur memeluknya.

Dia sanget senang melihat mata mungkin untuk menyelidiki siapa aku ini sebenarnya, sementara saya sangat senang memperhatikan wajah tampannya.
Kebersamaan dengannya megeluarkan aku dari tenggelamnya sepi di asrama atau dirumah yang berada ditengah sawah sementara keluarga memilih berlibur dikampung halaman seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kebersamaan dengannya membuatku menggagalkan janji reunian dengan teman-teman yang dekat selama Ramadhan, menunda jadwal kesalon dan menghilangkan BeTe karena tidak ada aktifitas.

Liburan dua minggu menjadi sangat singkat.
Keponakanku yang baru berusia satu bulan itu pasti akan kehilangan tantenya yang memandikan, mengganti popok saat pipis dan pup, memberi minum susu botol, membersihkan hidungnya sampai bersin-bersin, membersihkan telinganya sampai kegelian, bahkan mengantarnya imunisasi.

Rafif Khairi Hibatulloh, nama yang kuberikan padanya. Semoga menjadi anak baik yang menjadi pancaran cahaya Tuhan karena engkau adalah kebaikan dari-NYA.




© 2006 Intuisi "aku" perEMPUan | Lia RosS