setia = konvensional = terjajah. itulah perEMPUan
Published by Lia RosS on 26 May, 2005 at 6:37 PM.seorang teman perEMPUan, cantik, pintar, kaya bercerita
mencoba berani meminta talak kepada suaminya
setelah 10 tahun bertahan, ditinggalkan begitu saja
dalam 5 tahun ditengok hanya dalam hitungan 5 jari saja
karena alasan cinta dan sayang dia bertahan
kemarin, saya berpapasan sekilas dengan seorang temen perEMPUan
tak berkata apa-apa,namun matanya menyiratkan luka
dada saya langsung sakit
karena saya tahu suaminya sedang menyukai perEMPuan lain
perEMPUan juga, teman jauh, kirim surat
dia kerja keras untuk menghidupi diri dan anak-anaknya
juga untuk membiayai hobi suaminya
saudara perEMPuan saya menangis
merasa diperlakukan seperti pelacur oleh suaminya
hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja
perEMPuan yang lain mengerang kesakitan
tak hanya batin, disiksa fisik, sampai masuk rumah sakit
duh, saya benci
pada perEMPUan-perEMPuan itu
kenapa tidak minta cerai saja, kenapa tidak kabur dari rumah,kenapa tidak melawan, kenapa tidak membunuh suami keparat itu.
puh... saya benci lelaki-lelaki itu !!!
antara Pere dan Lekong
Published by Lia RosS on 25 May, 2005 at 8:49 AM.Terulang lagi deh …
Kembali kususuri likunya perjalanan. Seperti tujuh tahun yang lalu, berhari-hari dipertengahan malam, nongkrong dialun-alun
Marah, benci, muak, takut beradu, ketika melihat sekelompok perempuan bermake up tebal dan berbaju ketat.
O o w…, ternyata pembelinya bukan laki-laki berpenampilan berantakan, tapi lelaki perlente, necis, esmud (eksekutif muda ) kayaknya.
“kalo yang masih belasan tahun sih sekitar 300-400 ribu, kalo yang duapuluh tahunan 250-200 ribu, tapi kalo lagi sepi 100 rb juga maulah”
Hmm… mahal juga ya.
“saya diperkosa pacar waktu didesa, ya udah sekalian aja melacur “
“ga tahulah mungkin sudah takdir saya jadi pelacur”
“ saya miskin sekali tapi kata orang-orang saya cantik, jadi pasti laku kalo dijual”
’jaman sekarang susah cari kerja, jadi cari yang gampang aja”
”yaa mau lah teh hidup bener, menikah, punya anak, tapi apa ada yang mau?”
”lihatlah neng, ibu mah gak punya beras sabutir-butir acan” katanya di kamar kecil yang pengap diisi dua keluarga lagi.
Habislah semua rasa yang pernah ada diawal, yang tersisa adalah genangan air dimata, sakitnya dada menahan tangis dan segukan sisa menangis sepanjang malam.
Hari ini ....
Kususuri mall di Bandung, kota yang bermisi ”Mengembangkan sumber daya manusia yang handal yang religius” dimalam minggu, masih diatas jam 10 malam.
Bukan perempuan penjaja seks yang sering disebut ayam yang kutemui,
Tapi....
Lelaki penjaja seks yang sekarang disebut kucing. Jeruk makan jeruk kata orang
”putih, tinggi, sekelas ari wibowo lah”
”Yang bening dong ”
”macho, berbadan kekar”
Ternyata tidak hanya diidolakan kaum pere tapi juga kaum lekong.
”habis nikah tuh berat banget tanggung jawabnya, mahal lagi”
”sekong tuh aman, bisa puas tapi gak usah bertanggung jawab karena gak mungkin hamidah bo (hamil gitu lho) ”
”aduh, saya dah kenyang banget ngerasain berbagai pere, sekarang sih lagi nyoba yang lain”
”saya bukan gay, salah satu warna dalam hidup aja”
”Cuma lifestyle aja kok”
”sama mereka tuh asik banget”
”sama dengan kita makan, kemarin makan nasi + ayam goreng + sayur asem, sekarang makan spagheti, beda sih tapi dua-duanya enak”
”yaa diawali dari pesta cangkir (maaf sekali) ”
”punya pacar pere juga sih, acdc lah”
Siapa aja sih mereka, apa hanya yang kongkow-kongkow di mall, cafe, fitness centre??
