PMS
Published by Lia RosS on 28 September, 2005 at 5:20 PM.
Waduh, kok hari ni terasa mengesalkan, bahkan mungkin aku dianggap pere reseh.
‘ngomelin komputer yang ngerestart mendadak, lan nya disconect, internet unplug, gak bisa ngeprint disaat pekerjaan kena tenggat’
‘ngomelin office boy yang pergi berbarengan hingga dikantor gak ada yang bisa dimintain tolong’
‘judesin temen sekantor yang dirasa kerjanya lambat, Cuma berani ngomong dalam hati “masa sih dah dua minggu belum juga selesai, aku bisa nyelesaian dalam waktu seminggu, huh gajinya aja yang gede”
‘kurang sopan ma pengurus organisasi yang selama ini sangat dihormati, “bertele-tele, lambat sekali sih, kita kan dikejar target, jangan kebawa budaya bapak-bapak yang sangat birokratis dong”.
What’s happened Honey….?
Kemarin ketika jogging dibawah hamparan biru langit sore dan ditengah kesejukan kota Bandung, “Betapa bahagia, nyaman, dan lengkapnya hidup selama ini, bekerja diperusahaan yang memberi kemudahan up grade ilmu, diberi otoritas, bahkan bisa cuti selama dua minggu untuk liburan ke Sumatra, punya bos yang sangat cerdas, yang kalau rapat dengan beliau seperti kuliah lagi. Tinggal dilingkungan yang sangat kondusif memperbaiki diri, bisa menikmati masjid setiap saat, bisa berolahraga karena disediakan program aerobik ditambah jogging track dibelakang rumah. Bisa beli barang yang diinginkan, bisa makan buah karena ingin hidup sehat, nyalon, jalan-jalan …”
Kemana rasa syukur itu sekarang ?
Dimana nikmatnya tersedu dipojok masjid ?
Ada dimana energi lembut yang menyapa ketika terjaga disepertiga malam ?
Masih adakah sabarku menahan lapar dan bahagia menanti berbuka ?
Huh…. Mungki tak ada ikhlasku selama ini. Yang ada hanyalah kebanggaan bisa bekerja smart dan cepat, merasa lebih baik dari orang lain, bangga karena bisa tepat jalankan ritual. Sombong !!! Tetap aku yang salah !!!
Cape….. selalu saja aku yang salah.
Esok hari, o….o….w, aku dapet penyakit rutin bulanan, ooooh…ini PMS. Perempuan! sering emosi tidak stabil pada kondisi ini. Bahkan pernah tiba-tiba menangis karena hati teramat sakit tanpa ada penyebab yang jelas, pernah juga merasa seperti akan meninggal.
Sesekali, tidak perlu intervensi atas apa yang terjadi dan terasa, biarkan saja sesuatu hadir tanpa makna……
‘ngomelin komputer yang ngerestart mendadak, lan nya disconect, internet unplug, gak bisa ngeprint disaat pekerjaan kena tenggat’
‘ngomelin office boy yang pergi berbarengan hingga dikantor gak ada yang bisa dimintain tolong’
‘judesin temen sekantor yang dirasa kerjanya lambat, Cuma berani ngomong dalam hati “masa sih dah dua minggu belum juga selesai, aku bisa nyelesaian dalam waktu seminggu, huh gajinya aja yang gede”
‘kurang sopan ma pengurus organisasi yang selama ini sangat dihormati, “bertele-tele, lambat sekali sih, kita kan dikejar target, jangan kebawa budaya bapak-bapak yang sangat birokratis dong”.
What’s happened Honey….?
Kemarin ketika jogging dibawah hamparan biru langit sore dan ditengah kesejukan kota Bandung, “Betapa bahagia, nyaman, dan lengkapnya hidup selama ini, bekerja diperusahaan yang memberi kemudahan up grade ilmu, diberi otoritas, bahkan bisa cuti selama dua minggu untuk liburan ke Sumatra, punya bos yang sangat cerdas, yang kalau rapat dengan beliau seperti kuliah lagi. Tinggal dilingkungan yang sangat kondusif memperbaiki diri, bisa menikmati masjid setiap saat, bisa berolahraga karena disediakan program aerobik ditambah jogging track dibelakang rumah. Bisa beli barang yang diinginkan, bisa makan buah karena ingin hidup sehat, nyalon, jalan-jalan …”
Kemana rasa syukur itu sekarang ?
Dimana nikmatnya tersedu dipojok masjid ?
Ada dimana energi lembut yang menyapa ketika terjaga disepertiga malam ?
Masih adakah sabarku menahan lapar dan bahagia menanti berbuka ?
Huh…. Mungki tak ada ikhlasku selama ini. Yang ada hanyalah kebanggaan bisa bekerja smart dan cepat, merasa lebih baik dari orang lain, bangga karena bisa tepat jalankan ritual. Sombong !!! Tetap aku yang salah !!!
Cape….. selalu saja aku yang salah.
Esok hari, o….o….w, aku dapet penyakit rutin bulanan, ooooh…ini PMS. Perempuan! sering emosi tidak stabil pada kondisi ini. Bahkan pernah tiba-tiba menangis karena hati teramat sakit tanpa ada penyebab yang jelas, pernah juga merasa seperti akan meninggal.
Sesekali, tidak perlu intervensi atas apa yang terjadi dan terasa, biarkan saja sesuatu hadir tanpa makna……
PerEMPUan pencari TUHAN
Published by Lia RosS on 26 September, 2005 at 5:24 PM.
Bersama beberapa teman yang pernah kenal, kami menemukan berbagai jalan-jalan indah mengenal-NYA, sampai sekarang, tidak hanya dekat secara fisik, kami tetap berresonansi saat berjauhan.
Ini yang pengalamannya teramat dahsyat, berliku banyak, dan bergejolak keras. Myr nama hijrahnya, memilih berganti nama karena nama pemberian orang tua tidak mengandung makna. Kuliah S1 dan S2 diperguruan tinggi teknik terkenal, memakai busana sesuai syariat, rajin memakmurkan masjid, sangat sufi, dalem kalau berbicara tentang TUHAN, menyerahkan pola hidup pada kehendak alam.
Hampir tiga tahun tak jumpa, bertemu dengan segala hal yang berbau syariat telah hilang. Tidak lagi menjalankan ritual, melepas pakaian khas, berteman dekat dengan lelaki yang telah dimiliki perempuan lain, bekerja diperusahaan multinasional. Yang tertinggal hanya keyakinan pada TUHAN yang tertancap kuat.
Suatu malam mengajak ketemu, agak malu dengan baju tank topnya, “saya mau ke Prancis, dapet beasiswa”. Saya lepas dengan was-was, TUHAN jaga dia, dia pernah ajarkan senangnya bersenda dengan-MU”
Tak lama, “saya bertemu pria prancis dipesawat, kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama, dia benar-benar belahan jiwa yang lama dicari, tapi dia milik perempuan bule sana, saya akan sabar menunggu”….”secara agama kami masih punya dosa, meski secara sipil sudah sah, kami berdua senang traveling, bisa dengan mudah keliling dunia”…”saya sakit teh, saya jadi semakin yakin kalo kelinciku (dia memanggil suaminya) diciptakan TUHAN khusus untuk saya, dia teramat baik, menjaga dan merawat, bahkan membuat 4 kg wortel menjadi 2 gelas saripati dengan telaten”
Sedikitpun tak pernah terlintas hidup bersama lelaki bule, setelah membaca hari-harinya ?.… boleh juga tuh bule prancis.
Ashma, hanya beberapa saat kenal dekat. Pecinta TUHAN, dalam semua ritualnya selalu tersedu, khidmat menikmati segala yang terjadi. Sampailah pada satu pergolakan, melepas pakaian khas, menggunduli kepala, berbicara tertawa menangis sendiri. Orang menganggapnya gila. Ah…saya pernah membaca perjalanan rumi menuju transenden, membuat tetap menyayanginya dan menghormatinya.
Dibesarkan dalam lingkungan agamis menjadikannya kental dengan syariat. Lutfia. Sejak SMP tergerak mencari TUHAN. Bersandar pada satu kelompok ke kelompok lainnya, tidak memuaskan dahaganya. Menjadi satu-satunya perempuan yang berbusana khas saat hal itu masih dilarang. Aktif pada dua kelompok pada saat yang bersamaan malah membuat konflik. “apakah yang aku cari, kenapa aku ada didunia ini, kemana ujung hidup ini??” keluhnya.
Sampailah di kotaku, dengan penuh perjuangan, naik kereta ekonomi, berdesakkan dengan barang-barang, menjadi pengangguran selama sebulan padahal lulusan S1 didua perguruan tinggi, hanya tawakal katanya.
“berbagai tangga telah aku lalui, sekarang aku tahu apa yang aku cari dan maui selama ini” katanya dengan logat jawa yang khas. “TUHAN, itu yang membuat aku mau melakukan apa saja, aku tidak punya keinginan apa-apa lagi, selain mengikuti apa saja yang TUHAN atur, termasuk menikah (dia manis, pinter, shalihah, dengan mudah bisa dapatkan lelaki), aku tidak ingin menikah karena ketampanan dan kekayaan, hanya lelaki yang bisa mengajak menuju TUHAN saja, sekalipun ruh itu dititipkan pada raga yang tidak tampan dan miskin, toh aku bisa bekerja keras”
Ya...ya...ketampanan, kekayaan, dan jabatan bisa hilang sekejap mata.
Perfomance dan ritual adalah baju yang menjaga pergerakan, tapi apapun pilihan, keinginan untuk selalu bersama-NYA adalah pondasi, kemanapun langkah berjalan disitulah wajah TUHAN, “hambaKU berjalan, AKU berlari mendekati”
Kata orang, teman itu cerminan diri. O, ya ...???
Ini yang pengalamannya teramat dahsyat, berliku banyak, dan bergejolak keras. Myr nama hijrahnya, memilih berganti nama karena nama pemberian orang tua tidak mengandung makna. Kuliah S1 dan S2 diperguruan tinggi teknik terkenal, memakai busana sesuai syariat, rajin memakmurkan masjid, sangat sufi, dalem kalau berbicara tentang TUHAN, menyerahkan pola hidup pada kehendak alam.
Hampir tiga tahun tak jumpa, bertemu dengan segala hal yang berbau syariat telah hilang. Tidak lagi menjalankan ritual, melepas pakaian khas, berteman dekat dengan lelaki yang telah dimiliki perempuan lain, bekerja diperusahaan multinasional. Yang tertinggal hanya keyakinan pada TUHAN yang tertancap kuat.
Suatu malam mengajak ketemu, agak malu dengan baju tank topnya, “saya mau ke Prancis, dapet beasiswa”. Saya lepas dengan was-was, TUHAN jaga dia, dia pernah ajarkan senangnya bersenda dengan-MU”
Tak lama, “saya bertemu pria prancis dipesawat, kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama, dia benar-benar belahan jiwa yang lama dicari, tapi dia milik perempuan bule sana, saya akan sabar menunggu”….”secara agama kami masih punya dosa, meski secara sipil sudah sah, kami berdua senang traveling, bisa dengan mudah keliling dunia”…”saya sakit teh, saya jadi semakin yakin kalo kelinciku (dia memanggil suaminya) diciptakan TUHAN khusus untuk saya, dia teramat baik, menjaga dan merawat, bahkan membuat 4 kg wortel menjadi 2 gelas saripati dengan telaten”
Sedikitpun tak pernah terlintas hidup bersama lelaki bule, setelah membaca hari-harinya ?.… boleh juga tuh bule prancis.
Ashma, hanya beberapa saat kenal dekat. Pecinta TUHAN, dalam semua ritualnya selalu tersedu, khidmat menikmati segala yang terjadi. Sampailah pada satu pergolakan, melepas pakaian khas, menggunduli kepala, berbicara tertawa menangis sendiri. Orang menganggapnya gila. Ah…saya pernah membaca perjalanan rumi menuju transenden, membuat tetap menyayanginya dan menghormatinya.
Dibesarkan dalam lingkungan agamis menjadikannya kental dengan syariat. Lutfia. Sejak SMP tergerak mencari TUHAN. Bersandar pada satu kelompok ke kelompok lainnya, tidak memuaskan dahaganya. Menjadi satu-satunya perempuan yang berbusana khas saat hal itu masih dilarang. Aktif pada dua kelompok pada saat yang bersamaan malah membuat konflik. “apakah yang aku cari, kenapa aku ada didunia ini, kemana ujung hidup ini??” keluhnya.
Sampailah di kotaku, dengan penuh perjuangan, naik kereta ekonomi, berdesakkan dengan barang-barang, menjadi pengangguran selama sebulan padahal lulusan S1 didua perguruan tinggi, hanya tawakal katanya.
“berbagai tangga telah aku lalui, sekarang aku tahu apa yang aku cari dan maui selama ini” katanya dengan logat jawa yang khas. “TUHAN, itu yang membuat aku mau melakukan apa saja, aku tidak punya keinginan apa-apa lagi, selain mengikuti apa saja yang TUHAN atur, termasuk menikah (dia manis, pinter, shalihah, dengan mudah bisa dapatkan lelaki), aku tidak ingin menikah karena ketampanan dan kekayaan, hanya lelaki yang bisa mengajak menuju TUHAN saja, sekalipun ruh itu dititipkan pada raga yang tidak tampan dan miskin, toh aku bisa bekerja keras”
Ya...ya...ketampanan, kekayaan, dan jabatan bisa hilang sekejap mata.
Perfomance dan ritual adalah baju yang menjaga pergerakan, tapi apapun pilihan, keinginan untuk selalu bersama-NYA adalah pondasi, kemanapun langkah berjalan disitulah wajah TUHAN, “hambaKU berjalan, AKU berlari mendekati”
Kata orang, teman itu cerminan diri. O, ya ...???
Alhamdulillah ........ Terima Kasih.
Published by Lia RosS on 20 September, 2005 at 11:34 AM.
Diacara motivasi pagi yang biasa diselenggarakan perusahaan, petugas membacakan sebuah kisah,
Rosululloh SAW melewati seorang wanita yang tengah menyalakan api ditungku untuk memasak roti. Wanita itu memiliki seorang anak kecil yang duduk dipangkuannya. Ketika matanya tertuju pada Rosululloh, wanita itu berkata “wahai Rosululloh, kami mendengar Anda bersabda, ‘sesungguhnya ALLOH lebih menyayangi hamba-NYA dari pada (kasih sayang) ibu kepada anaknya’, apakah hal itu benar ?”
Rosul menjawab “benar”
Wanita itu berkata “Seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya ke api tungku ini, maka bagaimana mungkin ALLOH melemparkan hamba-NYA kedalam api neraka ?”
Kemudian Rosululloh menangis dan bersabda “Sesungguhnya ALLOH tidak menyiksa dengan api neraka kecuali orang yang enggan mengucapkan, laa ilaaha illalloh, tiada tuhan yang patut disembah melainkan ALLOH”
Kenapa Rosul menangis ?,
menurutku, pertama, karena Rosul teramat sangat mencintai umatnya. Sangat tidak ingin ada satu saja dari umatnya yang mendapat siksa, hingga mu’jizat yang biasa diterima para utusan ketika masih didunia, seperti nabi Isya yang bisa menghidupkan yang telah meninggal dan nabi musa yang bisa membelah lautan, Rosul menundanya hingga di hari perhitungan, dengan memberi syafa’at untuk membebaskan umatnya dari siksa mahsyar dan neraka.
Kedua, karena Rosul tahu, faham, sangat yakin dan merasakan bahwa betapa Tuhan menyayangi hamba-NYA, “rahmat-KU jauh melebihi murka-KU”
Sering kita merasa Tuhan tidak meluluskan keinginan, kemudian kesal, ngambek, dan malas-malasan menjalankan kewajiban. Padahal, percayalah, Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-NYA, seringkali keinginan kita dipenuhi nafsu, bahkan yang kita anggap kebaikan sekalipun.
Tak henti, saya menganggap harus membujuk Tuhan jika punya keinginan, ketika masih sekolah dan ingin ber-ranking bagus, membujuk-NYA dengan meningkatkan ritual. Ketika merasa tidak sanggup lagi mengelola hati dan menanggung beban dosa yang menjulang, memaksa ingin bertemu Tuhan ditempat terbaik yaitu tempat DIA turunkan petunjuk pada kekasih-NYA. Saat mau pergi, ragu menyelinap, tepatkah ?. Jalani! keputusan ketika itu. Sesudahnya, perang dalam diri masih tetap terjadi, …….aaaagh.
Memang, DIA selalu berikan yang terbaik dan terindah untuk hamba-NYA.
“Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadzibaan, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan“
Rosululloh SAW melewati seorang wanita yang tengah menyalakan api ditungku untuk memasak roti. Wanita itu memiliki seorang anak kecil yang duduk dipangkuannya. Ketika matanya tertuju pada Rosululloh, wanita itu berkata “wahai Rosululloh, kami mendengar Anda bersabda, ‘sesungguhnya ALLOH lebih menyayangi hamba-NYA dari pada (kasih sayang) ibu kepada anaknya’, apakah hal itu benar ?”
Rosul menjawab “benar”
Wanita itu berkata “Seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya ke api tungku ini, maka bagaimana mungkin ALLOH melemparkan hamba-NYA kedalam api neraka ?”
Kemudian Rosululloh menangis dan bersabda “Sesungguhnya ALLOH tidak menyiksa dengan api neraka kecuali orang yang enggan mengucapkan, laa ilaaha illalloh, tiada tuhan yang patut disembah melainkan ALLOH”
Kenapa Rosul menangis ?,
menurutku, pertama, karena Rosul teramat sangat mencintai umatnya. Sangat tidak ingin ada satu saja dari umatnya yang mendapat siksa, hingga mu’jizat yang biasa diterima para utusan ketika masih didunia, seperti nabi Isya yang bisa menghidupkan yang telah meninggal dan nabi musa yang bisa membelah lautan, Rosul menundanya hingga di hari perhitungan, dengan memberi syafa’at untuk membebaskan umatnya dari siksa mahsyar dan neraka.
Kedua, karena Rosul tahu, faham, sangat yakin dan merasakan bahwa betapa Tuhan menyayangi hamba-NYA, “rahmat-KU jauh melebihi murka-KU”
Sering kita merasa Tuhan tidak meluluskan keinginan, kemudian kesal, ngambek, dan malas-malasan menjalankan kewajiban. Padahal, percayalah, Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-NYA, seringkali keinginan kita dipenuhi nafsu, bahkan yang kita anggap kebaikan sekalipun.
Tak henti, saya menganggap harus membujuk Tuhan jika punya keinginan, ketika masih sekolah dan ingin ber-ranking bagus, membujuk-NYA dengan meningkatkan ritual. Ketika merasa tidak sanggup lagi mengelola hati dan menanggung beban dosa yang menjulang, memaksa ingin bertemu Tuhan ditempat terbaik yaitu tempat DIA turunkan petunjuk pada kekasih-NYA. Saat mau pergi, ragu menyelinap, tepatkah ?. Jalani! keputusan ketika itu. Sesudahnya, perang dalam diri masih tetap terjadi, …….aaaagh.
Memang, DIA selalu berikan yang terbaik dan terindah untuk hamba-NYA.
“Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadzibaan, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan“
Kenapa perempuan tidak punya klub sepakbola ??
Published by Lia RosS on 14 September, 2005 at 11:39 AM.
Sepulang kantor, biasa dihabiskan dengan browsing, membaca atau menulis, tapi yang paling sering dilakukan adalah nonton film korea disalah satu TV swasta, meski semua ceritanya sama, tetap saja asik ditonton banyak orang, terbukti banyak temen-temen yang suka nonton. Mungkin karena cerita cinderela menjadi impian hampir semua perempuan, yaah meski tidak mengalami menjadi perempuan cantik namun miskin yang dicintai seorang raja yang pasti kaya raya dan populer, nontonnya aja sudah menghibur hati.
Sore kemarin, memaksa untuk olahraga dengan jogging dilintasan lari yang ada dikampus belakang rumah. Yaaah … hampir semuanya laki-laki dan hanya ada 4-6 orang perempuan yang berolahraga. Cuek aja saya lari sendiri sambil melihat langit dan berdialog dengan diri. Sesekali lihat para adam yang sedang bersepakbola. Ada 3 kelompok, dari yang hanya sepetak kecil dengan telanjang kaki, lapangan basket yang dijadikan bersepakbola sampai yang serius berseragam lengkap dilapangan yang sebenarnya.
Tapi aura yang tertangkap sama ‘gembira’. Semangat berlari mengejar bola, mengeroyoknya, tertawa-tawa ketika gol masuk ataupun tidak. Terkadang mengolok-olok sesama pemain dengan ringan.
Kok … begitu mudahnya tertawa bahagia bagi adam-adam itu ??
Bagaimana dengan makhluk halus ‘eve’ ?
Coba tanya kapan bahagia menyentuh hidup mereka, sebagian besar menjawab,
“ketika menikah” bagi yang belum menikah
“ketika punya anak” bagi yang belum punya anak
“ketika menjadi cinderela”
“saat disayang suami dan anak” bagi yang suaminya punya WIL.
Kenapa arti bahagia sebegitu sempitnya wahai makhluk yang dititipi asma agung-NYA ?
Karena terlalu banyak rasa yang dimilikikah ? Perlukah mengurangi 9 rasa itu menjadi 8 .. 6..5.. 3... bahkan cukup 1 saja seperti laki-laki ?
TIDAK perlu say !! karena 9 rasa itulah yang seharusnya membuat perempuan lebih mudah dekat pada TUHAN pemilik kebahagiaan. Dan bukankah bahagia itu sebuah pilihan, tergantung kita mengelola hati.
Tidak rumit kok menjadi bahagia. Mudah saja.
Ketika sedang merasa tidak bahagia, heningkan diri, bisa dengan menutup mata pelan-pelan sambil tidur terlentang, penuhi dada dengan udara. Bisa juga sambil dengarkan musik lembut. Atau keluarlah dari ruangan, tatap langit yang berawan atau berbintang. Keluarkan segala hal selain TUHAN dari dalam hati. Alirkan ke fikiran kemudian pilah, mana yang harus didelete, bagian mana yang harus dipasrahkan pada kehendak-NYA, mana yang masih harus disimpan untuk diselesaikan dan jangan ada yang disimpan selain hal-hal yang baik, indah, dan menyenangkan yang akan memotivasi.
Percaya !! sesudahnya akan terasa sangat ringan. Masih belum lapang ? mungkin perlu bikin klub sepakbola ya agar sesak menguap bersama keringat he.. he..
Sore kemarin, memaksa untuk olahraga dengan jogging dilintasan lari yang ada dikampus belakang rumah. Yaaah … hampir semuanya laki-laki dan hanya ada 4-6 orang perempuan yang berolahraga. Cuek aja saya lari sendiri sambil melihat langit dan berdialog dengan diri. Sesekali lihat para adam yang sedang bersepakbola. Ada 3 kelompok, dari yang hanya sepetak kecil dengan telanjang kaki, lapangan basket yang dijadikan bersepakbola sampai yang serius berseragam lengkap dilapangan yang sebenarnya.
Tapi aura yang tertangkap sama ‘gembira’. Semangat berlari mengejar bola, mengeroyoknya, tertawa-tawa ketika gol masuk ataupun tidak. Terkadang mengolok-olok sesama pemain dengan ringan.
Kok … begitu mudahnya tertawa bahagia bagi adam-adam itu ??
Bagaimana dengan makhluk halus ‘eve’ ?
Coba tanya kapan bahagia menyentuh hidup mereka, sebagian besar menjawab,
“ketika menikah” bagi yang belum menikah
“ketika punya anak” bagi yang belum punya anak
“ketika menjadi cinderela”
“saat disayang suami dan anak” bagi yang suaminya punya WIL.
Kenapa arti bahagia sebegitu sempitnya wahai makhluk yang dititipi asma agung-NYA ?
Karena terlalu banyak rasa yang dimilikikah ? Perlukah mengurangi 9 rasa itu menjadi 8 .. 6..5.. 3... bahkan cukup 1 saja seperti laki-laki ?
TIDAK perlu say !! karena 9 rasa itulah yang seharusnya membuat perempuan lebih mudah dekat pada TUHAN pemilik kebahagiaan. Dan bukankah bahagia itu sebuah pilihan, tergantung kita mengelola hati.
Tidak rumit kok menjadi bahagia. Mudah saja.
Ketika sedang merasa tidak bahagia, heningkan diri, bisa dengan menutup mata pelan-pelan sambil tidur terlentang, penuhi dada dengan udara. Bisa juga sambil dengarkan musik lembut. Atau keluarlah dari ruangan, tatap langit yang berawan atau berbintang. Keluarkan segala hal selain TUHAN dari dalam hati. Alirkan ke fikiran kemudian pilah, mana yang harus didelete, bagian mana yang harus dipasrahkan pada kehendak-NYA, mana yang masih harus disimpan untuk diselesaikan dan jangan ada yang disimpan selain hal-hal yang baik, indah, dan menyenangkan yang akan memotivasi.
Percaya !! sesudahnya akan terasa sangat ringan. Masih belum lapang ? mungkin perlu bikin klub sepakbola ya agar sesak menguap bersama keringat he.. he..
Hey ….. Fira
Published by Lia RosS on 07 September, 2005 at 12:55 PM.
Entah kenapa, sejak masih dalam kandungan, perasaan sayang sudah mulai muncul, dan merasa ada ikatan yang kuat. Hingga kau lahir, dihari pertama, perasaan sayang terasa makin meluap-luap. Hingga tak ingin sedetikpun berpisah.
Mulailah menjagamu, menemani, dihari ketiga kau hadir didunia, kubacakan koran dan buku-buku. Sengaja, bersihkan hidung dan telingamu ketika kau terjaga agar tahu bahwa itu harus dibersihkan. Sambil bercerita tentang harimau berkuku panjang yang ditakuti teman-temannya, kupotong kuku mungilmu.
Sering sekali, bermain diluar melihat kupu-kupu dan capung terbang, melihat bentukan awan. Mengeja setiap tulisan yang dilewati. Bermalam-malam tidur dalam dekapanku, terutama ketika harus disapih, menenangkan tangis dengan cerita sepanjang malam.
Meski sering merasa tidak tega, kalau ingin jajan, dibuat kesepakatan dulu, harus menggunakan uang dia sendiri kalo harus dijajanin, diplafon "oke, boleh jajan tapi tidak lebih dari 1000 rupiah" begitupun untuk hadiah ulang tahun. Akhirnya, "Fira punya uang 200 ribu hadiah ranking 2, 100 ribu untuk beli buku, 100 ribu lagi untuk disumbangkan ke Aceh". "Fira mau ngerayain ulang tahun pake uang sendiri". Rasa tega dulu itu sekarang menampar ego, belajar berbagi darinya.
Tiba-tiba, kau sudah besar, bersekolah, sesekali memprotes baju yang kupake “aneh, gak pake jubah” katanya. Sudah merasa menjadi perempuan besar yang tidak ingin dipeluk dan dicium lagi. Hingga ketika rindu membuncah, menunggunya tidur baru pelan kupeluk. Sudah tidak ingin diatur lagi “knapa sih fira tidak bisa melakukan apa yang fira inginkan”
Diulang tahun yang ke-8 “Fira mau ulang tahunnya dirayain, tapi yang diundang hanya yang perempuan saja”. Haah… kaget sekali, sekecil itu, feminist !. “kalo disekolah fira main sama siapa saja ?” “sama temen-temen yang perempuan” “knapa gak suka main sama temen laki-laki” “habis mereka nakal-nakal” “masa semuanya nakal, pasti ada yang baik kan, gak apa-apa kok fira main sama temen laki-laki”.
Fira. Tumbuh menjadi perempuan yang berkarakter. Berani menasehati orang tua, bahkan ngobrol dengannya tidak seperti berhadapan dengan anak kecil karena gaya berbicaranya mengasikkan. Senang diam sendirian ditangga sambil membaca buku atau menulis, tidak bisa diganggu jika sedang melakukan hobinya itu.
Hari ini, sering merasa tidak mampu menghadapinya, masih menganggapnya anak kecil yang penurut tapi dia ingin disikapi sebagai sesama teman perempuan. Hingga hanya bisa mengelus dada dan berteriak dalam hati kalau melihatnya meloncati pagar. Huh …..
Hey ….. Fira, selamat ulang tahun, perempuan cantik kecilku.
Mulailah menjagamu, menemani, dihari ketiga kau hadir didunia, kubacakan koran dan buku-buku. Sengaja, bersihkan hidung dan telingamu ketika kau terjaga agar tahu bahwa itu harus dibersihkan. Sambil bercerita tentang harimau berkuku panjang yang ditakuti teman-temannya, kupotong kuku mungilmu.
Sering sekali, bermain diluar melihat kupu-kupu dan capung terbang, melihat bentukan awan. Mengeja setiap tulisan yang dilewati. Bermalam-malam tidur dalam dekapanku, terutama ketika harus disapih, menenangkan tangis dengan cerita sepanjang malam.
Meski sering merasa tidak tega, kalau ingin jajan, dibuat kesepakatan dulu, harus menggunakan uang dia sendiri kalo harus dijajanin, diplafon "oke, boleh jajan tapi tidak lebih dari 1000 rupiah" begitupun untuk hadiah ulang tahun. Akhirnya, "Fira punya uang 200 ribu hadiah ranking 2, 100 ribu untuk beli buku, 100 ribu lagi untuk disumbangkan ke Aceh". "Fira mau ngerayain ulang tahun pake uang sendiri". Rasa tega dulu itu sekarang menampar ego, belajar berbagi darinya.
Tiba-tiba, kau sudah besar, bersekolah, sesekali memprotes baju yang kupake “aneh, gak pake jubah” katanya. Sudah merasa menjadi perempuan besar yang tidak ingin dipeluk dan dicium lagi. Hingga ketika rindu membuncah, menunggunya tidur baru pelan kupeluk. Sudah tidak ingin diatur lagi “knapa sih fira tidak bisa melakukan apa yang fira inginkan”
Diulang tahun yang ke-8 “Fira mau ulang tahunnya dirayain, tapi yang diundang hanya yang perempuan saja”. Haah… kaget sekali, sekecil itu, feminist !. “kalo disekolah fira main sama siapa saja ?” “sama temen-temen yang perempuan” “knapa gak suka main sama temen laki-laki” “habis mereka nakal-nakal” “masa semuanya nakal, pasti ada yang baik kan, gak apa-apa kok fira main sama temen laki-laki”.
Fira. Tumbuh menjadi perempuan yang berkarakter. Berani menasehati orang tua, bahkan ngobrol dengannya tidak seperti berhadapan dengan anak kecil karena gaya berbicaranya mengasikkan. Senang diam sendirian ditangga sambil membaca buku atau menulis, tidak bisa diganggu jika sedang melakukan hobinya itu.
Hari ini, sering merasa tidak mampu menghadapinya, masih menganggapnya anak kecil yang penurut tapi dia ingin disikapi sebagai sesama teman perempuan. Hingga hanya bisa mengelus dada dan berteriak dalam hati kalau melihatnya meloncati pagar. Huh …..
Hey ….. Fira, selamat ulang tahun, perempuan cantik kecilku.
September
Published by Lia RosS on at 8:39 AM.
“September ceria … milik kita… bersama… “ Ya sih September identik dengan ceria, bahagia, penuh warna. Juga dengan perempuan cantik (Virgo), kalo perempuan cantik, pasti menyenangkan!.
Sara ?!. gitu deh, mungkin karena lahir di bulan tersebut. Menurutku orangnya asik-asik, penuh warna meski agak bergejolak seperti jet coaster, naik turunnya cepet sekali.
Mengenalnya ketika kuliah tingkat I, Hakim namanya, baik sekali, pekerja keras, dia yang mau dengan suka rela mengerjakan tugas-tugas kampus terutama skripsi, tapi pernah saya benci karena dia memilih jadi aktifis kampus yang rajin demo bukan aktifis rohis, pelan konsep Islam inklusifnya saya ikuti, memilih Islam kontekstual dibanding tekstual.
Sebetulnya, gak kepingin nyeritain orang ni. Tapi sebagai penulis pemula kan mesti fair (lho apa hubungannya ?).
”Saya Ustadz yang diminta menemui teteh, hampir sepanjang hidup tinggal di pesantren, menyelesaikan S1 pun di PT Islam” katanya dengan mata yang lekat memandang. Huh, ustadz gak bisa jaga hijab, su’udzonku saat itu.
Hmm... terlalu baik dan perhatian, ngerti apa yang aku rasa dan alami meski gak pernah bercerita. Menurut teman hidupnya beliau ”orang pinter” karena keshalihannya. Diujung pertemuan, saya memaksa ”tolong lepaskan, saya tidak ingin segala hidup saya diketahui” ”bukan keinginan saya”belanya. ”tapi saya letih berada dalam perhatianmu”
Yang ketiga, Jerry. Awalnya dia anak baru yang paling gak disukai karena sikapnya yang sok iye dan slengean. Karena sering kerja bareng jadilah kami agak akrab, meski slengean beliau baik dan full perhatian, rutin menanyakan kabar dan sedikit menggombal (biasalah laki-laki ..., dari anak gaul sampai kyai pintar menggombal kata temenku )semakin kenal, ternyata dia ”orang pinter” pula. Sebeeellll, dia tahu apa terjadi dalam hidupku secara detail.
Ketiganya memiliki kesamaan, teman yang baik, menyenangkan, dan akan selalu saya hormati, ”orang pinter”, dan .... tanggal lahir dan bulannya sama denganku.
Didunia manapun kini kau berada, Selamat ulang tahun dipertengahan September nanti.
Sara ?!. gitu deh, mungkin karena lahir di bulan tersebut. Menurutku orangnya asik-asik, penuh warna meski agak bergejolak seperti jet coaster, naik turunnya cepet sekali.
Mengenalnya ketika kuliah tingkat I, Hakim namanya, baik sekali, pekerja keras, dia yang mau dengan suka rela mengerjakan tugas-tugas kampus terutama skripsi, tapi pernah saya benci karena dia memilih jadi aktifis kampus yang rajin demo bukan aktifis rohis, pelan konsep Islam inklusifnya saya ikuti, memilih Islam kontekstual dibanding tekstual.
Sebetulnya, gak kepingin nyeritain orang ni. Tapi sebagai penulis pemula kan mesti fair (lho apa hubungannya ?).
”Saya Ustadz yang diminta menemui teteh, hampir sepanjang hidup tinggal di pesantren, menyelesaikan S1 pun di PT Islam” katanya dengan mata yang lekat memandang. Huh, ustadz gak bisa jaga hijab, su’udzonku saat itu.
Hmm... terlalu baik dan perhatian, ngerti apa yang aku rasa dan alami meski gak pernah bercerita. Menurut teman hidupnya beliau ”orang pinter” karena keshalihannya. Diujung pertemuan, saya memaksa ”tolong lepaskan, saya tidak ingin segala hidup saya diketahui” ”bukan keinginan saya”belanya. ”tapi saya letih berada dalam perhatianmu”
Yang ketiga, Jerry. Awalnya dia anak baru yang paling gak disukai karena sikapnya yang sok iye dan slengean. Karena sering kerja bareng jadilah kami agak akrab, meski slengean beliau baik dan full perhatian, rutin menanyakan kabar dan sedikit menggombal (biasalah laki-laki ..., dari anak gaul sampai kyai pintar menggombal kata temenku )semakin kenal, ternyata dia ”orang pinter” pula. Sebeeellll, dia tahu apa terjadi dalam hidupku secara detail.
Ketiganya memiliki kesamaan, teman yang baik, menyenangkan, dan akan selalu saya hormati, ”orang pinter”, dan .... tanggal lahir dan bulannya sama denganku.
Didunia manapun kini kau berada, Selamat ulang tahun dipertengahan September nanti.
Bertemu Malaikat
Published by Lia RosS on 02 September, 2005 at 9:40 AM.
Uh.. riuh sekali. Satu ruangan dipenuhi anak-anak, laki-laki dan perempuan. Padat aktifitas, yang berlari main kucing-kucingan, yang duduk manis mengaji, asik mengobrol, beberapa anak laki-laki godain satu anak perempuan yang tersipu manis, keluar masuk ruangan bahkan nekat loncat ke jendela ketika pintu ditutup, ada juga yang nempelin kemanapun pengasuhnya pergi. Terumbuk mataku pada seorang ibu yang ikut pula duduk mengikuti pelajaran, rupanya sikecil tidak mau ditinggal.
Sabar sekali guru-guru itu, menuntun tangan dengan lembut, membujuknya untuk membaca, mengasuhnya tanpa kekerasan, hanya mengacungkan satu telunjuk jari saja untuk mengingatkan. Sesekali menahan nafas atau pergi kebelakang untuk tumpahkan kekesalan. Saat itu, saya mengelus punggungnya dan tulus memuji, “kamu sabar sekali dan betapa menyenangkannya hidupmu ”.
Saya tatap semua tingkah laku anak-anak itu, dengarkan celotehan dan jeritan kecilnya, sambil pejamkan mata, meresapi, nikmatnya sampai ke tulang sumsum. Menghapus kelelahan karena bekerja seharian dan keletihan jalani likunya hidup.
Jujur, ingin sekali tangan ini digelayuti, bahu kelelahan karena menggendongnya, kerudung yang basah karena tangis dan ingus dalam dekapan erat, bibir dower karena membujuknya, kulit menghitam bermain layangan bersama lelaki kecilku, mengajaknya melihat bulan dan bintang, mengajarinya kenapa daun berwarna hijau dan kenapa burung bisa terbang, mengenalkannya pada Sang Maha.
TUHAN …… betapa inginnya bertemu malaikat setiap saat, yang menghikmahi hidup tanpa tuntutan dan dosa.
Sabar sekali guru-guru itu, menuntun tangan dengan lembut, membujuknya untuk membaca, mengasuhnya tanpa kekerasan, hanya mengacungkan satu telunjuk jari saja untuk mengingatkan. Sesekali menahan nafas atau pergi kebelakang untuk tumpahkan kekesalan. Saat itu, saya mengelus punggungnya dan tulus memuji, “kamu sabar sekali dan betapa menyenangkannya hidupmu ”.
Saya tatap semua tingkah laku anak-anak itu, dengarkan celotehan dan jeritan kecilnya, sambil pejamkan mata, meresapi, nikmatnya sampai ke tulang sumsum. Menghapus kelelahan karena bekerja seharian dan keletihan jalani likunya hidup.
Jujur, ingin sekali tangan ini digelayuti, bahu kelelahan karena menggendongnya, kerudung yang basah karena tangis dan ingus dalam dekapan erat, bibir dower karena membujuknya, kulit menghitam bermain layangan bersama lelaki kecilku, mengajaknya melihat bulan dan bintang, mengajarinya kenapa daun berwarna hijau dan kenapa burung bisa terbang, mengenalkannya pada Sang Maha.
TUHAN …… betapa inginnya bertemu malaikat setiap saat, yang menghikmahi hidup tanpa tuntutan dan dosa.
