Sekedar keinginan
Published by Lia RosS on 28 February, 2006 at 6:38 PM.
Keinginan, tidak bisa didefinisikan benar atau salah, baik atau tidak, suruhan atau terlarang dan tepat atau tidak karena berbagai faktor mempengaruhinya.
Sudah sangat lama, memendam keinginan tanpa berusaha mencari tahu definisinya. Kemudian ketika sesuatu yang sangat diinginkan hadir didepan mata, barulah tersadar untuk segera memvonis posisinya.
Sebagian orang mengatakannya salah dan menurut sebagian yang lain tak apa-apa. Betapa ingin meraihnya dan mengijinkan hati menikmatinya. Toh yang tahu hanya aku dan TUHAN, sementara sebagian orang hanya menerka-nerka.
DIA yang paling jujur, yang ada dikedalaman mengingatkan, untuk apa ? sekedar memuaskan dahaga rasa ? bisakah membuat segalanya lebih baik ?
Bukankah sudah berniat, sekecil apapun yang dilakukan, bahkan sekedar lintasan hati saja harus bermuara pada-NYA ?
Bukankah aku tidak ingin mengkhianati sesuatu yang sudah aku bangun selama ini ?
Kembali. Aku hanya menitikkan airmata pedih. Meninggalkan kenikmatan hati yang hanya sesaat.
Alhamdulillah,
Segala puji bagi-MU, ROBB penguasa semesta.
Sudah sangat lama, memendam keinginan tanpa berusaha mencari tahu definisinya. Kemudian ketika sesuatu yang sangat diinginkan hadir didepan mata, barulah tersadar untuk segera memvonis posisinya.
Sebagian orang mengatakannya salah dan menurut sebagian yang lain tak apa-apa. Betapa ingin meraihnya dan mengijinkan hati menikmatinya. Toh yang tahu hanya aku dan TUHAN, sementara sebagian orang hanya menerka-nerka.
DIA yang paling jujur, yang ada dikedalaman mengingatkan, untuk apa ? sekedar memuaskan dahaga rasa ? bisakah membuat segalanya lebih baik ?
Bukankah sudah berniat, sekecil apapun yang dilakukan, bahkan sekedar lintasan hati saja harus bermuara pada-NYA ?
Bukankah aku tidak ingin mengkhianati sesuatu yang sudah aku bangun selama ini ?
Kembali. Aku hanya menitikkan airmata pedih. Meninggalkan kenikmatan hati yang hanya sesaat.
Alhamdulillah,
Segala puji bagi-MU, ROBB penguasa semesta.
Menunda Kesenangan
Published by Lia RosS on at 10:01 AM.
Hari ini perusahaan mengadakan seminar untuk seluruh karyawan. ”Entrepreneur Revolution” wuih... dahsyat temanya. Dengan pemateri yang memiliki segudang prestasi, motivator terheboh versi majalah marketing, pelatih sukses versi majalah marketing, the most powerful in business 2005 versi majalah swa, Tung Desem Waringin.
Mengasikkan sekali, penuh semangat, riuh tepuk tangan, teriakan, loncat-loncat. Aku bersama beberapa teman perempuan kantor muas-muasin diri, kapan lagi bisa teriak dan loncat dilingkungan kantor. Padahal, banyak perempuan lainnya yang malu-malu dan sangat menjaga gerakan.
Diajarinya kami definisi-definisi bisnis praktis yang berbeda dengan definisi yang diajarkan di kuliah ekonomi, perbedaan pola hidup orang miskin yang semakin miskin, orang menengah yang betah diposisinya dan orang kaya yang semakin kaya. Dan bagaimana mengubah posisi tersebut.
Ketika beliau bertanya, siapa yang ingin jadi orang kaya ? semua orang mengacungkan tangan dan berteriak ”saya”. Kecuali aku. Bengong lihat kanan kiri. Kok..?
Dijelaskannya juga bagaimana cara praktis menternakkan uang, melipatgandakannya dalam waktu singkat dan aman. Kemudian ditanya lagi, siapa yang ingin jadi orang kaya ?. Lagi-lagi, aku cuma bengong.
Selesai. Semua ribut meminta photo dan tanda tangan, aku yang duduk persis dibelakangnya cuma bengong. TOP BGT memang, pa Tung (baca dengan jeda ya) masih muda, semangat tinggi, kreatif, cerdas, visioner, yang terpenting pengorbanan yang tinggi untuk menuntut ilmu.
Dievaluasi dikantor, semua menyampaikan hikmah yang bisa diambil, rata-rata berkeinginan untuk menjadi orang kaya, mengerti bagaimana menjadi orang kaya dan bertekad untuk mengaplikasikan dalam pekerjaan dan langkah hidup selanjutnya.
Aku ???
Tahu cara mengajar yang tepat, yaitu dengan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Misal, siswa menyebutkan ulang kata inti dan menuliskannya, karena dengan proses itu minimal 50 % ilmu terserap.
Mengerti bagaimana mendidik anak agar menjadi orang tangguh dalam menghadapi pergolakan hidup, menunda kesenangan. Memberinya coklat dan memintanya memilih, boleh langsung dimakan atau tunggu beberapa saat jika bisa bersabar maka akan diberi tambahan coklat. Memberi pemahaman, ALLOH akan beri yang jauh lebih baik jika kita mau bersabar.
Sampai hari ini, dalam hitungan jari saja aku pernah memberi uang pada pengemis atau pengamen dijalanan. Karena mereka diorganisir dengan rapih dan tidak mendidik!, kecuali ketika habis berbelanja, ada makanan yang bisa aku beri. Memilih berinfak ke masjid, LAZIS, atau orang yang benar-benar membutuhkan. Sedih juga sih atas kekakuan prinsip ini. Pasti ada solusi untuk mengatasi perasaan bersalah.
Meski kurang efektif untuk melipatgandakan uang, tetep !, ingin bangun bisnis yang padat karya. Sehingga ketika ada orang yang meminta uang untuk makan dan bayar kontrakan, ada anak kecil yang meminta uang untuk bayar sekolah, aku akan membantunya dengan memintanya bekerja dulu. Itu akan membuat mereka nyaman dan memiliki harga diri. Seperti yang pernah aku rasakan dulu, untuk membeli seragam baru memilih bekerja ketika liburan sekolah dan bangganya ketika beli buku pelajaran dari uang jajan yang dikumpulkan.
Mengasikkan sekali, penuh semangat, riuh tepuk tangan, teriakan, loncat-loncat. Aku bersama beberapa teman perempuan kantor muas-muasin diri, kapan lagi bisa teriak dan loncat dilingkungan kantor. Padahal, banyak perempuan lainnya yang malu-malu dan sangat menjaga gerakan.
Diajarinya kami definisi-definisi bisnis praktis yang berbeda dengan definisi yang diajarkan di kuliah ekonomi, perbedaan pola hidup orang miskin yang semakin miskin, orang menengah yang betah diposisinya dan orang kaya yang semakin kaya. Dan bagaimana mengubah posisi tersebut.
Ketika beliau bertanya, siapa yang ingin jadi orang kaya ? semua orang mengacungkan tangan dan berteriak ”saya”. Kecuali aku. Bengong lihat kanan kiri. Kok..?
Dijelaskannya juga bagaimana cara praktis menternakkan uang, melipatgandakannya dalam waktu singkat dan aman. Kemudian ditanya lagi, siapa yang ingin jadi orang kaya ?. Lagi-lagi, aku cuma bengong.
Selesai. Semua ribut meminta photo dan tanda tangan, aku yang duduk persis dibelakangnya cuma bengong. TOP BGT memang, pa Tung (baca dengan jeda ya) masih muda, semangat tinggi, kreatif, cerdas, visioner, yang terpenting pengorbanan yang tinggi untuk menuntut ilmu.
Dievaluasi dikantor, semua menyampaikan hikmah yang bisa diambil, rata-rata berkeinginan untuk menjadi orang kaya, mengerti bagaimana menjadi orang kaya dan bertekad untuk mengaplikasikan dalam pekerjaan dan langkah hidup selanjutnya.
Aku ???
Tahu cara mengajar yang tepat, yaitu dengan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Misal, siswa menyebutkan ulang kata inti dan menuliskannya, karena dengan proses itu minimal 50 % ilmu terserap.
Mengerti bagaimana mendidik anak agar menjadi orang tangguh dalam menghadapi pergolakan hidup, menunda kesenangan. Memberinya coklat dan memintanya memilih, boleh langsung dimakan atau tunggu beberapa saat jika bisa bersabar maka akan diberi tambahan coklat. Memberi pemahaman, ALLOH akan beri yang jauh lebih baik jika kita mau bersabar.
Sampai hari ini, dalam hitungan jari saja aku pernah memberi uang pada pengemis atau pengamen dijalanan. Karena mereka diorganisir dengan rapih dan tidak mendidik!, kecuali ketika habis berbelanja, ada makanan yang bisa aku beri. Memilih berinfak ke masjid, LAZIS, atau orang yang benar-benar membutuhkan. Sedih juga sih atas kekakuan prinsip ini. Pasti ada solusi untuk mengatasi perasaan bersalah.
Meski kurang efektif untuk melipatgandakan uang, tetep !, ingin bangun bisnis yang padat karya. Sehingga ketika ada orang yang meminta uang untuk makan dan bayar kontrakan, ada anak kecil yang meminta uang untuk bayar sekolah, aku akan membantunya dengan memintanya bekerja dulu. Itu akan membuat mereka nyaman dan memiliki harga diri. Seperti yang pernah aku rasakan dulu, untuk membeli seragam baru memilih bekerja ketika liburan sekolah dan bangganya ketika beli buku pelajaran dari uang jajan yang dikumpulkan.
PETANI
Published by Lia RosS on 23 February, 2006 at 2:09 PM.
Ingatkah ketika masih tahun 80 sampai 90-an ?, kehidupan kampung yang nyaman dan menyenangkan. Persaudaraan yang kuat hingga jika hari lebaran susah melangkah saking padatnya orang, penduduk yang sopan baik dalam berkata, bersikap maupun berbaju, udara segar dan makanan sehat melimpah bisa didapat dengan mudah dan murah. Tidak ada polusi baik udara, suara maupun informasi.
Segala hal bergerak cepat, kemudahan komunikasi dan transportasi didahulukan dikota. Tumpah ruah, kemudahan mendapatkan ilmu umum dan agama, pengembangan diri, uang, sandang pangan dan papan, penuhnya anak jalanan, pengamen, pengemis dan psk. Hmm... setiap sumur perlu ada comberannya kata orang.
Desa hanya mendapatkan sisa ketidaksempurnaan, barang mahal dan sulit didapat karena keterbatasan sarana transportasi, sementara informasi meluncur tanpa bisa dibatasi, gadis berjins ketat, bertank top, dan bermake up komplit berlalu lalang, televisi yang mengajarkan hedonisme dan konsumerisme yang tidak bisa dijangkau banyak orang desa.
Orang berlomba merubah status kependudukan menjadi penghuni kota. SESAK. Polusi dimana-mana dan disegala hal, tidak ada makanan sehat, kalaupun ada pasti hanya bisa dibeli orang-orang tertentu yang kebingungan uangnya mau dibuang dimana, pragmatis, kompetitif untuk hal-hal yang sangat permukaan, de el el.
SINIS !!, putus asa karena kalah tidak bisa menundukkan kota dan tidak bisa bersaing?
Huh...(sambil hembuskan nafas dengan kuat). Aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, hanya menjadi pengamat sosial tanpa bisa berbuat banyak.
Lebih baik BALIK. Mengembalikan desa yang dulu. Punya rumah ditengah-tengah sawah dan kebun, dipinggir sungai, bertani dan beternak sendiri, memberi makan anak dengan makanan yang kubuat sepenuh hati, terjaga kehalalan dan keberkahannya.
Bersama lima anak laki-laki digenapkan oleh satu anak perempuan. Mengumpulkan cita-cita, merajutnya hingga menjadi rangkaian tak terpisahkan, seperti rangkaian tasbih. Lelaki kecilku bebas bermain layangan tanpa takut tersangkut pohon-pohon listrik dan banner. Bersepakbola tanpa ragu tertabrak motor dan mobil atau takut memecahkan kaca jendela. Perempuan kecilku tidak tergoda menjadi barbie.
Anak adalah tajalli-NYA. Mereka harus kembali pada TUHAN seperti ketika pertama dititipkan. Dan hanya orang-orang yang bisa melakukan pengkhidmatan pada makhluk dengan dasar kecintaan pada-NYA saja yang bisa melihat ”wajah-NYA”. Aku titipkan akhiratku pada mereka karena kemandulanku mensikapi pergerakan dunia.
Misua ?
Andai aku penganut poligami, aku ijinkan dia ditemani perempuan ke-2, sesekali ketika dia ingin rehat, datanglah !. Semua anaknya bersamaku, mengasikkan menjaga 11-15 anak. Sayang, aku mendefinisikan pasangan adalah satu dengan satu, bukan dengan dua, tiga, atau empat. Hmm.... negosiasilah.
Menjadi petani bagiku sangat filosofis, menyediakan kebutuhan dasar manusia yang akan menentukan sehat tidaknya tubuh, baik tidaknya akhlaknya, lurus bengkoknya fikir. Ironisnya, petani yang ada sekarang rata-rata tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Ketika panen tidak bisa memasarkan, barang menumpuk, tidak bisa menghasilkan uang untuk persiapan ketika musim kemarau saat lahan tidak bisa menghasilkan.
Seandainya mereka diajari berfikir maju, tidak menjual barang mentah, tapi hasil olahan, misalnya tidak menjual gabah tapi beras yang sudah dipackage, bukan kentang mentah tapi kripik kentang, bukan singkong tapi tape singkong yang sudah di keringkan, bukan buah-buahan mentah tapi buah kaleng dan sebagainya. Dan sudah ada teknologinya di Indonesia, gak terlalu mahal pula. bahkan bisa menampung lapangan kerja karena termasuk industri padat karya.
Tentu, sebelumnya pun perlu persiapan matang, apa saja yang sebaiknya ditanam, pilih yang bisa diolah dengan teknologi yang ada. Proses yang benar hingga ketika dijual mentah pun bisa dapet harga bagus karena negara tetangga masih membutuhkan hasil pertanian kita asal berkualitas terutama tanaman organik.
Selain hal-hal teknis duniawi, tentu ada hal diatas itu, MAGIC memang. Bukan ke dukun, memasang kemenyan dan sesuguhan saat akan menanam atau memanen. Kata orang tua jaman dulu panen pertama sebaiknya sebagian besar dibagikan pada penduduk sekitar. Pengorbanan !!! saat sudah bekerja keras dengan modal besar, hasil pertama bukannya langsung balik modal. Tapi percayalah tidak akan terjadi hal-hal yang merugikan pada panen-panen selanjutnya. Ceritanya sudah banyak beredar, ketika ada hama tikus disatu wilayah pertanian, ada satu lokasi yang tidak tersentuh sama sekali, ketika ada angin besar yang menjatuhkan semua buah, ada satu pohon yang tidak ada satu pun buahnya yang jatuh.
Tumbuhan juga makhluk-NYA yang akan tumbuh sempurna jika diperlakukan dengan baik, jadi pasanglah sound system bagus diseluruh pesawahan, perkebunan dan peternakan untuk melantun dzikir-dzikir dan sesekali musik klasik. O, ya tugasku bukan mencangkul, memupuk dan menyiangi tapi menyapa dan menyentuh semua tanaman dengan segenap cinta.
Kamu gila ya ? kata temanku bengong.
Segala hal bergerak cepat, kemudahan komunikasi dan transportasi didahulukan dikota. Tumpah ruah, kemudahan mendapatkan ilmu umum dan agama, pengembangan diri, uang, sandang pangan dan papan, penuhnya anak jalanan, pengamen, pengemis dan psk. Hmm... setiap sumur perlu ada comberannya kata orang.
Desa hanya mendapatkan sisa ketidaksempurnaan, barang mahal dan sulit didapat karena keterbatasan sarana transportasi, sementara informasi meluncur tanpa bisa dibatasi, gadis berjins ketat, bertank top, dan bermake up komplit berlalu lalang, televisi yang mengajarkan hedonisme dan konsumerisme yang tidak bisa dijangkau banyak orang desa.
Orang berlomba merubah status kependudukan menjadi penghuni kota. SESAK. Polusi dimana-mana dan disegala hal, tidak ada makanan sehat, kalaupun ada pasti hanya bisa dibeli orang-orang tertentu yang kebingungan uangnya mau dibuang dimana, pragmatis, kompetitif untuk hal-hal yang sangat permukaan, de el el.
SINIS !!, putus asa karena kalah tidak bisa menundukkan kota dan tidak bisa bersaing?
Huh...(sambil hembuskan nafas dengan kuat). Aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, hanya menjadi pengamat sosial tanpa bisa berbuat banyak.
Lebih baik BALIK. Mengembalikan desa yang dulu. Punya rumah ditengah-tengah sawah dan kebun, dipinggir sungai, bertani dan beternak sendiri, memberi makan anak dengan makanan yang kubuat sepenuh hati, terjaga kehalalan dan keberkahannya.
Bersama lima anak laki-laki digenapkan oleh satu anak perempuan. Mengumpulkan cita-cita, merajutnya hingga menjadi rangkaian tak terpisahkan, seperti rangkaian tasbih. Lelaki kecilku bebas bermain layangan tanpa takut tersangkut pohon-pohon listrik dan banner. Bersepakbola tanpa ragu tertabrak motor dan mobil atau takut memecahkan kaca jendela. Perempuan kecilku tidak tergoda menjadi barbie.
Anak adalah tajalli-NYA. Mereka harus kembali pada TUHAN seperti ketika pertama dititipkan. Dan hanya orang-orang yang bisa melakukan pengkhidmatan pada makhluk dengan dasar kecintaan pada-NYA saja yang bisa melihat ”wajah-NYA”. Aku titipkan akhiratku pada mereka karena kemandulanku mensikapi pergerakan dunia.
Misua ?
Andai aku penganut poligami, aku ijinkan dia ditemani perempuan ke-2, sesekali ketika dia ingin rehat, datanglah !. Semua anaknya bersamaku, mengasikkan menjaga 11-15 anak. Sayang, aku mendefinisikan pasangan adalah satu dengan satu, bukan dengan dua, tiga, atau empat. Hmm.... negosiasilah.
Menjadi petani bagiku sangat filosofis, menyediakan kebutuhan dasar manusia yang akan menentukan sehat tidaknya tubuh, baik tidaknya akhlaknya, lurus bengkoknya fikir. Ironisnya, petani yang ada sekarang rata-rata tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Ketika panen tidak bisa memasarkan, barang menumpuk, tidak bisa menghasilkan uang untuk persiapan ketika musim kemarau saat lahan tidak bisa menghasilkan.
Seandainya mereka diajari berfikir maju, tidak menjual barang mentah, tapi hasil olahan, misalnya tidak menjual gabah tapi beras yang sudah dipackage, bukan kentang mentah tapi kripik kentang, bukan singkong tapi tape singkong yang sudah di keringkan, bukan buah-buahan mentah tapi buah kaleng dan sebagainya. Dan sudah ada teknologinya di Indonesia, gak terlalu mahal pula. bahkan bisa menampung lapangan kerja karena termasuk industri padat karya.
Tentu, sebelumnya pun perlu persiapan matang, apa saja yang sebaiknya ditanam, pilih yang bisa diolah dengan teknologi yang ada. Proses yang benar hingga ketika dijual mentah pun bisa dapet harga bagus karena negara tetangga masih membutuhkan hasil pertanian kita asal berkualitas terutama tanaman organik.
Selain hal-hal teknis duniawi, tentu ada hal diatas itu, MAGIC memang. Bukan ke dukun, memasang kemenyan dan sesuguhan saat akan menanam atau memanen. Kata orang tua jaman dulu panen pertama sebaiknya sebagian besar dibagikan pada penduduk sekitar. Pengorbanan !!! saat sudah bekerja keras dengan modal besar, hasil pertama bukannya langsung balik modal. Tapi percayalah tidak akan terjadi hal-hal yang merugikan pada panen-panen selanjutnya. Ceritanya sudah banyak beredar, ketika ada hama tikus disatu wilayah pertanian, ada satu lokasi yang tidak tersentuh sama sekali, ketika ada angin besar yang menjatuhkan semua buah, ada satu pohon yang tidak ada satu pun buahnya yang jatuh.
Tumbuhan juga makhluk-NYA yang akan tumbuh sempurna jika diperlakukan dengan baik, jadi pasanglah sound system bagus diseluruh pesawahan, perkebunan dan peternakan untuk melantun dzikir-dzikir dan sesekali musik klasik. O, ya tugasku bukan mencangkul, memupuk dan menyiangi tapi menyapa dan menyentuh semua tanaman dengan segenap cinta.
Kamu gila ya ? kata temanku bengong.
Perempuan TULUS
Published by Lia RosS on at 1:18 PM.
Tentu saja semua merasa dekat dengan teman-teman yang dekat secara fisik, misalnya teman kantor, karena hampir setiap hari bertemu muka, bersenda gurau, dan curhat. Namun saya memiliki kedekatan spesial dengan beberapa perempuan meski jarang berkomunikasi bahkan ada yang tidak pernah, sesekali hanya tersenyum atau salaman setelah jamaah dimasjid.
Ada yang sangat fikih, menggumamkan bacaan shalat dan dzikirnya sampai terdengar orang yang ada disebelahnya.
Ada yang selalu sesegukan dalam tangis. SETIAP shalat dan doa yang SELALU lama.
Ada yang sepi-sepi saja. Tertunduk dalam diam, gerakan yang termat perlahan dalam setiap perubahan. Keluar masjid terakhir saat hening karena malam telah terlalu larut.
Ada yang sangat biasa. Sholat, dzikir, baca Qur’an secukupnya kemudian segera pergi. Saya tahu, dia segera mengajar ngaji banyak orang.
Ada yang sama. Siap di shaf pertama sebelum adzan, khas dipojokan.
Ada yang sama. Aura ketulusan saat berbagi sejadah, tersenyum dan kelembutan hatinya.
Adakah mereka merasakan juga dariku ?
But. I”M NOTHING.....
Ada yang sangat fikih, menggumamkan bacaan shalat dan dzikirnya sampai terdengar orang yang ada disebelahnya.
Ada yang selalu sesegukan dalam tangis. SETIAP shalat dan doa yang SELALU lama.
Ada yang sepi-sepi saja. Tertunduk dalam diam, gerakan yang termat perlahan dalam setiap perubahan. Keluar masjid terakhir saat hening karena malam telah terlalu larut.
Ada yang sangat biasa. Sholat, dzikir, baca Qur’an secukupnya kemudian segera pergi. Saya tahu, dia segera mengajar ngaji banyak orang.
Ada yang sama. Siap di shaf pertama sebelum adzan, khas dipojokan.
Ada yang sama. Aura ketulusan saat berbagi sejadah, tersenyum dan kelembutan hatinya.
Adakah mereka merasakan juga dariku ?
But. I”M NOTHING.....
IKHLAS
Published by Lia RosS on at 1:15 PM.
Guru yang sangat shalih mengatakan ”Dulu ketika saat pengajian turun hujan, banyak jamaah kedinginan, kita berdoa maka hujan berhenti. Begitupun ketika aliran listrik mati, dengan doa bisa menyala kembali, ketika kekurangan dana untuk pembangunan masjid pun dicukupi-NYA dari tempat yang tidak diduga”
”Sekarang bukan saatnya lagi” katanya. ”kita sudah ditipi uang lebih, dikelola banyak orang, kepercayaan dari berbagai fihak. Kita harus beli kanopi, generator, dan optimalkan segala yang ada”
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rosululloh SAW bersabda, ”Alangkah rindunya aku untuk berjumpa saudara-saudaraku”. Lalu seorang sahabat nabi bertanya, ”Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”. Nabi menjawab, ”Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun yang kumaksud saudara-saudaraku adalah kaum yang datang sesudahku kemudian beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah berjumpa denganku”. Hadist yang mutawatir hingga tidak berlaku kritik sanad (rangkaian perawi).
Semakin ghaib sesuatu dan tetap mengimaninya, maka semakin tinggi pula derajatnya.
Dulu dianggap-NYA masih bayi yang perlu disuapi, dipegangi-NYA tangan ketika kita berjalan sambil diajari-NYA hingga bisa cukupi kebutuhan.
Sampailah pada kondisi yang menurut-NYA mampu tegak sendiri, mampu gunakan tangan dan otak dalam kelola hidup. Berkaryalah sekeras dan secerdas mungkin, jika belum berhasil, evaluasi dan kembali berkarya hingga berhasil. Setelahnya, persembahkan semua kesuksesan pada-NYA. Kita hanya makhluk yang menjalankan kuasa-NYA.
Berbeda dengan doa yang dikabulkan pada waktu yang bersamaan, pasti bisa bersyukur dengan ikhlas. Namun masih bisakah istiqomah ikhlas ? saat sudah berbuat banyak dan hasilnya diserahkan pada Yang Ghaib. Dahsyat.
”Sekarang bukan saatnya lagi” katanya. ”kita sudah ditipi uang lebih, dikelola banyak orang, kepercayaan dari berbagai fihak. Kita harus beli kanopi, generator, dan optimalkan segala yang ada”
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rosululloh SAW bersabda, ”Alangkah rindunya aku untuk berjumpa saudara-saudaraku”. Lalu seorang sahabat nabi bertanya, ”Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”. Nabi menjawab, ”Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun yang kumaksud saudara-saudaraku adalah kaum yang datang sesudahku kemudian beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah berjumpa denganku”. Hadist yang mutawatir hingga tidak berlaku kritik sanad (rangkaian perawi).
Semakin ghaib sesuatu dan tetap mengimaninya, maka semakin tinggi pula derajatnya.
Dulu dianggap-NYA masih bayi yang perlu disuapi, dipegangi-NYA tangan ketika kita berjalan sambil diajari-NYA hingga bisa cukupi kebutuhan.
Sampailah pada kondisi yang menurut-NYA mampu tegak sendiri, mampu gunakan tangan dan otak dalam kelola hidup. Berkaryalah sekeras dan secerdas mungkin, jika belum berhasil, evaluasi dan kembali berkarya hingga berhasil. Setelahnya, persembahkan semua kesuksesan pada-NYA. Kita hanya makhluk yang menjalankan kuasa-NYA.
Berbeda dengan doa yang dikabulkan pada waktu yang bersamaan, pasti bisa bersyukur dengan ikhlas. Namun masih bisakah istiqomah ikhlas ? saat sudah berbuat banyak dan hasilnya diserahkan pada Yang Ghaib. Dahsyat.
Kompensasi - NYA
Published by Lia RosS on at 1:13 PM.
”alhamdulillah, saya baru aja bertobat kemarin, hari ini saya dapet proyek yang bernilai ratusan juta rupiah”
”ALLOH teramat baik, semua kebutuhan saya dipenuhinya, meski saya memilih tidak bekerja selalu saja ada rizki, ketika sudah tidak punya uang sama sekali bahkan untuk makan, tiba-tiba ada orang memberi makan, ketika tidak membawa payung menuju masjid ada orang yang mengajak pergi ke masjid memakai payungnya”
”Sejak saya memutuskan untuk lebih mendekati TUHAN, kemudian istiqomah pergi ke masjid, setiap saya pergi selalu merasa ALLOH menemani dan sering melihat awan yang berbentuk lafadz ALLOH”
”saya pernah mengalami kesulitan keuangan, harus membayar utang yang sudah tenggat, kemudian semalaman berdo’a, dan esoknya tanpa sengaja buka celengan, subhanalloh, didalamnya ada uang yang masih dibundel rapih seperti dari bank dan jumlahnya persis sama dengan jumlah utang yang harus dibayar. Bagaimana bisa uang seperti itu masuk celengan yang lubangnya kecil kalo bukan atas kuasa ALLOH saja”
”saya suka mencoba, sampai sejauh mana ALLOH memenuhi kebutuhan hamba-NYA. Seringkali saya pergi ke pengajian tanpa membawa uang sepeserpun. Dan terbukti memang, ALLOH mencukupinya”
Ah... sering saya iri, tidak memiliki keberanian mencoba-coba akan keyakinan, merasa untuk mendapatkan sesuatu harus beriktiar dengan sangat keras. Kenapa tidak begitu mudahnya seperti yang lain.
Kemudian berdialog dengan seorang teman, mengapa ?
Dia berkata, Kamu perhatikan deh, apa yang ALLOH penuhi pada keinginan temen-temen kamu. Duniawi semua kan ?
Tidak sesederhana itu, tetap saja mereka disayangi TUHAN. Pasti ada wujud sayang TUHAN yang lain. Mulailah aku menghitung apa saja telah ALLOH berikan. Tuntunan-NYA agar istiqomah dalam berritual, muncul keinginan untuk menjaga rasa, fikir, harapan dan khayalan, ketika berdoa disadarkan-nya ”jangan berdoa seperti itu, itu karena kamu arogan, kesal pada takdir, skeptis, apa adanya saja pada TUHAN, meski DIA Maha Tahu, katakan dengan jujur, kemudian minta maaf atas semua keinginan bila tidak sesuai dengan kehendak-NYA, dan mintalah diberi keinginan yang tepat”.
Inilah balasan atas segala yang telah dilakukan, jika dianggap-NYA kebaikan.
Dan hukuman atas kesalahan, bukan pada sempitnya rizki, tersendatnya karir, jauhnya jodoh dan sakit fisik tapi pada dibiarkan-NYA kita lalai melakukan kesalahan terus menerus.
Ingatlah ketika berdoa, pasti meminta hal yang baik-baik saja, misal ”Robbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzaa bannaar” kemudian ALLOH tawarkan situasi dan lingkungan yang bisa menuntun ke arah kebaikan, namun kita tidak tergerak memilihnya. Masih saja mengikuti kesenangan rasa yang sesaat.
Teringat cerita Rosul kekasih TUHAN, ketika berhasil menang dalam sebuah perang kemudian membagi harta rampasan perang, sebagian orang Madinah merasa Rosul tidak adil, orang Makkah mendapat lebih banyak dari orang Madinah. Kemudian Manusia Terbaik itu berkata ” aku memilih kembali ke Madinah, apakah itu tidak cukup bagi kalian ?, apakah harta itu lebih berharga daripada aku? ”. Ah..manusia, kebaikan tidak hanya ada atas kelebihan duniawi, sering lupa bahwa ada hal immaterial diatas semua yang bisa dilihat, didengar, dan disentuh.
Sekarang, mari Hitung dengan akal !. Meski tidak melimpah ruah, tapi setiap hari masih bisa makan, pake baju dan alas kaki, ada rumah untuk berteduh, tidur dikasur dan berselimut, dikelilingi orang yang menyayangi.
Kemudian, mari hitung dengan rasa !. Nikmatnya bercengkrama dengan langit, lapangnya hati berbagi makanan enak ditangan, tersenyum ketika orang meminta maaf belum bisa membayar utang, berdiam diri dimasjid, sabar menjalani setiap takdir-NYA, menangis dalam surat At Takwir dan Az Zalzalah meski tak difahami semua artinya, mengalahkan semua dan segala kesenangan mendapatkan dunia.
Maka, nikmat TUHAN kamu yang manakah yang kamu dustakan ???
”ALLOH teramat baik, semua kebutuhan saya dipenuhinya, meski saya memilih tidak bekerja selalu saja ada rizki, ketika sudah tidak punya uang sama sekali bahkan untuk makan, tiba-tiba ada orang memberi makan, ketika tidak membawa payung menuju masjid ada orang yang mengajak pergi ke masjid memakai payungnya”
”Sejak saya memutuskan untuk lebih mendekati TUHAN, kemudian istiqomah pergi ke masjid, setiap saya pergi selalu merasa ALLOH menemani dan sering melihat awan yang berbentuk lafadz ALLOH”
”saya pernah mengalami kesulitan keuangan, harus membayar utang yang sudah tenggat, kemudian semalaman berdo’a, dan esoknya tanpa sengaja buka celengan, subhanalloh, didalamnya ada uang yang masih dibundel rapih seperti dari bank dan jumlahnya persis sama dengan jumlah utang yang harus dibayar. Bagaimana bisa uang seperti itu masuk celengan yang lubangnya kecil kalo bukan atas kuasa ALLOH saja”
”saya suka mencoba, sampai sejauh mana ALLOH memenuhi kebutuhan hamba-NYA. Seringkali saya pergi ke pengajian tanpa membawa uang sepeserpun. Dan terbukti memang, ALLOH mencukupinya”
Ah... sering saya iri, tidak memiliki keberanian mencoba-coba akan keyakinan, merasa untuk mendapatkan sesuatu harus beriktiar dengan sangat keras. Kenapa tidak begitu mudahnya seperti yang lain.
Kemudian berdialog dengan seorang teman, mengapa ?
Dia berkata, Kamu perhatikan deh, apa yang ALLOH penuhi pada keinginan temen-temen kamu. Duniawi semua kan ?
Tidak sesederhana itu, tetap saja mereka disayangi TUHAN. Pasti ada wujud sayang TUHAN yang lain. Mulailah aku menghitung apa saja telah ALLOH berikan. Tuntunan-NYA agar istiqomah dalam berritual, muncul keinginan untuk menjaga rasa, fikir, harapan dan khayalan, ketika berdoa disadarkan-nya ”jangan berdoa seperti itu, itu karena kamu arogan, kesal pada takdir, skeptis, apa adanya saja pada TUHAN, meski DIA Maha Tahu, katakan dengan jujur, kemudian minta maaf atas semua keinginan bila tidak sesuai dengan kehendak-NYA, dan mintalah diberi keinginan yang tepat”.
Inilah balasan atas segala yang telah dilakukan, jika dianggap-NYA kebaikan.
Dan hukuman atas kesalahan, bukan pada sempitnya rizki, tersendatnya karir, jauhnya jodoh dan sakit fisik tapi pada dibiarkan-NYA kita lalai melakukan kesalahan terus menerus.
Ingatlah ketika berdoa, pasti meminta hal yang baik-baik saja, misal ”Robbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzaa bannaar” kemudian ALLOH tawarkan situasi dan lingkungan yang bisa menuntun ke arah kebaikan, namun kita tidak tergerak memilihnya. Masih saja mengikuti kesenangan rasa yang sesaat.
Teringat cerita Rosul kekasih TUHAN, ketika berhasil menang dalam sebuah perang kemudian membagi harta rampasan perang, sebagian orang Madinah merasa Rosul tidak adil, orang Makkah mendapat lebih banyak dari orang Madinah. Kemudian Manusia Terbaik itu berkata ” aku memilih kembali ke Madinah, apakah itu tidak cukup bagi kalian ?, apakah harta itu lebih berharga daripada aku? ”. Ah..manusia, kebaikan tidak hanya ada atas kelebihan duniawi, sering lupa bahwa ada hal immaterial diatas semua yang bisa dilihat, didengar, dan disentuh.
Sekarang, mari Hitung dengan akal !. Meski tidak melimpah ruah, tapi setiap hari masih bisa makan, pake baju dan alas kaki, ada rumah untuk berteduh, tidur dikasur dan berselimut, dikelilingi orang yang menyayangi.
Kemudian, mari hitung dengan rasa !. Nikmatnya bercengkrama dengan langit, lapangnya hati berbagi makanan enak ditangan, tersenyum ketika orang meminta maaf belum bisa membayar utang, berdiam diri dimasjid, sabar menjalani setiap takdir-NYA, menangis dalam surat At Takwir dan Az Zalzalah meski tak difahami semua artinya, mengalahkan semua dan segala kesenangan mendapatkan dunia.
Maka, nikmat TUHAN kamu yang manakah yang kamu dustakan ???
SEMPURNA !
Published by Lia RosS on 14 February, 2006 at 4:09 PM.
Dia cantik, kaya, berpendidikan, tapi....
Ya sih, segala dia punya, suami yang setia, anak yang lucu-lucu tapi....
Sholeh, smart, cantik tapi....
Yaah... gitu deh, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.
Klise !
Duh, aku sih suka ngeri kalo bicara kekurangan dan kelebihan, takut salah mempersepsi kehendak-NYA, bukankah tidak pernah ada yang kurang pada apa yang DIA ciptakan ?. segala yang diciptakan-NYA selalu utuh - Bulat – Sempurna. Juga kalo bicara plus 'n minus terkesan sesuatu lebih dari sesuatu padahal yang DIA ciptakan selalu setara.
”Sebaik-baiknya makhluk-KU adalah manusia” begitu firman-NYA. Manusia bisa sempurna sebagai dirinya sendiri, baik dari segi fisik dengan bermacam bentuk, intelektual dengan berbagai grade, varian rasa dalam sisi emosional, dan berbagai suluk dalam spiritual.
Bisa juga secara general, menjadi penyempurna dari alam raya. Ketika ada yang bodoh diantara yang pintar, banyak yang miskin disebagian yang kaya, ada yang tuna netra, tuna wicara diantara ramainya pembicaraan, riuhnya pendengaran dan pesona warna yang tertangkap mata. Semuanya adalah penyempurna.
Jadi, gak sopan ! jika yang kaya, cantik, tampan, pintar merasa diri lebih. Karena sebutan tadi muncul ketika ada yang papa, jelek, bodoh. Coba kalo gak ada yang miskin gak akan ada yang kaya kan. Aku suka aneh, sampai saat ni, aku gak bisa ngebedain mana yang cantik dan mana yang tidak, karena beda tipis aja misalnya ukuran hidung, mata dan bibirnya cuma beda dibawah satu senti saja. Tapi kalo bedain cowo cakep sih, aku masih bisa. Dasar !!!
Contohnya aku nih, jutek dan gampang nangis disempurnakan oleh cantik dan smart, ha...ha... fitnah banget. Oke deh, ta’ kasih nilai, 3 misalnya. Angka 3 itu angka yang sempurna karena nilai sempurna tidak hanya ada pada angka 10 tapi pada setiap angka, 0, 1, 2, 3 ... adalah sempurna sebagai 0, 1, 2, 3...
Mari kita bicara yang lainnya, makhluk (diluar khalik) secara utuh, langit, tanah,laut, air, pohon, api, manusia, hewan, dan lainnya, semua adalah satu kesatuan bulat yang utuh yang saling menyempurnakan. Diciptakan-NYA untuk saling melengkapi, memenuhi, mengisi, dan berbagi.
Kita bisa merasa satu dalam kebahagiaan, ketentraman dan tasbih yang tiada putus, pada kuda yang berlari, kelinci yang bersembunyi, lelaki kecil yang belajar bersepokbola, pada udara yang berhembus saat mata tertutup, gemericik air, pada langit dalam berbagai perfomance, semburat pagi yang penuh semangat, langit sore yang ceria, sesekali pesona pelangi menggoda, ketika mendung menjelang hujan, bulan yang sendu, bintang yang gemerlap juga saat melihat venus mencorong sendirian menjelang pagi
Hikmatilah langit yang tak berbatas itu karena dialah yang mewadahi seluruh Mahakarya-NYA yang sempurna.
Kufahami semua ini, setelah mengenali sebagianmu. Thanks
Ya sih, segala dia punya, suami yang setia, anak yang lucu-lucu tapi....
Sholeh, smart, cantik tapi....
Yaah... gitu deh, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.
Klise !
Duh, aku sih suka ngeri kalo bicara kekurangan dan kelebihan, takut salah mempersepsi kehendak-NYA, bukankah tidak pernah ada yang kurang pada apa yang DIA ciptakan ?. segala yang diciptakan-NYA selalu utuh - Bulat – Sempurna. Juga kalo bicara plus 'n minus terkesan sesuatu lebih dari sesuatu padahal yang DIA ciptakan selalu setara.
”Sebaik-baiknya makhluk-KU adalah manusia” begitu firman-NYA. Manusia bisa sempurna sebagai dirinya sendiri, baik dari segi fisik dengan bermacam bentuk, intelektual dengan berbagai grade, varian rasa dalam sisi emosional, dan berbagai suluk dalam spiritual.
Bisa juga secara general, menjadi penyempurna dari alam raya. Ketika ada yang bodoh diantara yang pintar, banyak yang miskin disebagian yang kaya, ada yang tuna netra, tuna wicara diantara ramainya pembicaraan, riuhnya pendengaran dan pesona warna yang tertangkap mata. Semuanya adalah penyempurna.
Jadi, gak sopan ! jika yang kaya, cantik, tampan, pintar merasa diri lebih. Karena sebutan tadi muncul ketika ada yang papa, jelek, bodoh. Coba kalo gak ada yang miskin gak akan ada yang kaya kan. Aku suka aneh, sampai saat ni, aku gak bisa ngebedain mana yang cantik dan mana yang tidak, karena beda tipis aja misalnya ukuran hidung, mata dan bibirnya cuma beda dibawah satu senti saja. Tapi kalo bedain cowo cakep sih, aku masih bisa. Dasar !!!
Contohnya aku nih, jutek dan gampang nangis disempurnakan oleh cantik dan smart, ha...ha... fitnah banget. Oke deh, ta’ kasih nilai, 3 misalnya. Angka 3 itu angka yang sempurna karena nilai sempurna tidak hanya ada pada angka 10 tapi pada setiap angka, 0, 1, 2, 3 ... adalah sempurna sebagai 0, 1, 2, 3...
Mari kita bicara yang lainnya, makhluk (diluar khalik) secara utuh, langit, tanah,laut, air, pohon, api, manusia, hewan, dan lainnya, semua adalah satu kesatuan bulat yang utuh yang saling menyempurnakan. Diciptakan-NYA untuk saling melengkapi, memenuhi, mengisi, dan berbagi.
Kita bisa merasa satu dalam kebahagiaan, ketentraman dan tasbih yang tiada putus, pada kuda yang berlari, kelinci yang bersembunyi, lelaki kecil yang belajar bersepokbola, pada udara yang berhembus saat mata tertutup, gemericik air, pada langit dalam berbagai perfomance, semburat pagi yang penuh semangat, langit sore yang ceria, sesekali pesona pelangi menggoda, ketika mendung menjelang hujan, bulan yang sendu, bintang yang gemerlap juga saat melihat venus mencorong sendirian menjelang pagi
Hikmatilah langit yang tak berbatas itu karena dialah yang mewadahi seluruh Mahakarya-NYA yang sempurna.
Kufahami semua ini, setelah mengenali sebagianmu. Thanks
Sepenuhnya Pere
Published by Lia RosS on at 3:21 PM.
Bukan karena hari valentine lho , yaaa sekedar centil-centilan kaum pere saja, kami ngepink semua. Tentu saja bikin bengong teman laki-laki sekantor dan kantor-kantor lainnya. Gak cukup sampe disitu beramai-ramai makan siang dipusat jajanan, photo di studio dan yang tak ketinggalan ya jalan-jalan.
Hey.... hari yang menyenangkan bagiku. Kompak, akrab, dekat satu sama lain tanpa melihat besar kecilnya kerudung, longgar sempitnya baju, branded atau murahannya aksesoris yang dipake.
O,ya kami bekerja disebuah holding company yang karyawannya lebih banyak di anak perusahaan sementara di holdingnya sendiri hanya ada 19 orang itu pun dah plus direksi. Mungkin karena sedikitan hingga kami dekat. Dari persoalan belanja kerudung rame-rame, janjian pake baju sampe tahajud call dan denda kalo gak sholat tepat waktu, gak jamaah dan gak rowatib. Uang yang terkumpul dah banyak tuh gara-gara denda tadi. He..he... payah, meski kadang sebagian mengeluh tapi ya gimana lagi hal itu yang memotivasi kami untuk ketatkan ritual dan saling mengingatkan.
Aku kenalin temen-temenku
Fin. Tuna netra yang Te O Pe Be Ge Te, menguasai 5 bahasa, dari inggris dah pasti banget, jerman karena kuliah disastra jerman, belanda karena ibunya keturunan belanja, cina karena ngefans banget ma orang cina sampe bela-belain kursus, ’n tentu saja bahasa indonesia. Cantik, lha wong keturunan belanda. Darinya saya belajar apa adanya, tanpa sungkan mengakui kelemahan diri dan menganggap itu adalah hal yang lumrah, tak perlu disikapi terlalu serius.
Ambar dan Noer, sama-sama bagian administrasi, dua ibu muda nih saya kenal ketika masih dianak perusahaan, sangat taat dan istoqomah pegang ritual, semangat kerjanya tinggi, ulet dan telaten. Setiap kali membutuhkan data, dalam hitungan detik saja bisa didapat. Ikhlas jalani alur hidup yang ALLOH siapkan, tanpa tuntutan seperti kebanyakan perempuan lainnya. Cantik, hingga jadi bunga dikantor dan banyak sekali yang nitipin salam via aku. Keberaniannya memutuskan melanjutkan hidup yang aku kagumi dari mereka berdua.
Mira dan Alfa, Cerdas, kuliah S2 di UNPAD, keduanya jago bahasa Inggris, pinter banget bawa diri, kaya, cantik fisik hingga banyak sekali lelaki tergoda dari staff biasa sampe orang paling top, juga cantik hatinya, sangat lembut. Semuanya disempurnakan dengan status widowsnya yang menambah kesabaran dan ketegaran.
Ni yang paling galak, posesif kata temen-temen, yah begitulah kalo orang kasir. Rewel dan cerewet. Echi. Diem tapi dalem lho. Yang pasti cantik dan sholehah.
Galuh, pecinta alam yang feminin. Berhusnudzon atas semua yang terjadi, cantik, mapan bahagia dengan suami setianya dan anaknya yang lucu banget.
Suci. Terlalu cerdas hingga suka menyampaikan argumen yang gak kepikiran ma yang laen. Puitis setiap ngomong, eazy going alias lempeng banget. Ehm.... calon pengantin nih, yang pertama dapet piala bebas jomblo dan ditembak musti jajanin temen sekantor setelah khitbah. Bangkrut !!!
TOP kan semua temenku.
Bersama merekalah aku menghabiskan waktu yang stagnan.......
Hey.... hari yang menyenangkan bagiku. Kompak, akrab, dekat satu sama lain tanpa melihat besar kecilnya kerudung, longgar sempitnya baju, branded atau murahannya aksesoris yang dipake.
O,ya kami bekerja disebuah holding company yang karyawannya lebih banyak di anak perusahaan sementara di holdingnya sendiri hanya ada 19 orang itu pun dah plus direksi. Mungkin karena sedikitan hingga kami dekat. Dari persoalan belanja kerudung rame-rame, janjian pake baju sampe tahajud call dan denda kalo gak sholat tepat waktu, gak jamaah dan gak rowatib. Uang yang terkumpul dah banyak tuh gara-gara denda tadi. He..he... payah, meski kadang sebagian mengeluh tapi ya gimana lagi hal itu yang memotivasi kami untuk ketatkan ritual dan saling mengingatkan.
Aku kenalin temen-temenku
Fin. Tuna netra yang Te O Pe Be Ge Te, menguasai 5 bahasa, dari inggris dah pasti banget, jerman karena kuliah disastra jerman, belanda karena ibunya keturunan belanja, cina karena ngefans banget ma orang cina sampe bela-belain kursus, ’n tentu saja bahasa indonesia. Cantik, lha wong keturunan belanda. Darinya saya belajar apa adanya, tanpa sungkan mengakui kelemahan diri dan menganggap itu adalah hal yang lumrah, tak perlu disikapi terlalu serius.
Ambar dan Noer, sama-sama bagian administrasi, dua ibu muda nih saya kenal ketika masih dianak perusahaan, sangat taat dan istoqomah pegang ritual, semangat kerjanya tinggi, ulet dan telaten. Setiap kali membutuhkan data, dalam hitungan detik saja bisa didapat. Ikhlas jalani alur hidup yang ALLOH siapkan, tanpa tuntutan seperti kebanyakan perempuan lainnya. Cantik, hingga jadi bunga dikantor dan banyak sekali yang nitipin salam via aku. Keberaniannya memutuskan melanjutkan hidup yang aku kagumi dari mereka berdua.
Mira dan Alfa, Cerdas, kuliah S2 di UNPAD, keduanya jago bahasa Inggris, pinter banget bawa diri, kaya, cantik fisik hingga banyak sekali lelaki tergoda dari staff biasa sampe orang paling top, juga cantik hatinya, sangat lembut. Semuanya disempurnakan dengan status widowsnya yang menambah kesabaran dan ketegaran.
Ni yang paling galak, posesif kata temen-temen, yah begitulah kalo orang kasir. Rewel dan cerewet. Echi. Diem tapi dalem lho. Yang pasti cantik dan sholehah.
Galuh, pecinta alam yang feminin. Berhusnudzon atas semua yang terjadi, cantik, mapan bahagia dengan suami setianya dan anaknya yang lucu banget.
Suci. Terlalu cerdas hingga suka menyampaikan argumen yang gak kepikiran ma yang laen. Puitis setiap ngomong, eazy going alias lempeng banget. Ehm.... calon pengantin nih, yang pertama dapet piala bebas jomblo dan ditembak musti jajanin temen sekantor setelah khitbah. Bangkrut !!!
TOP kan semua temenku.
Bersama merekalah aku menghabiskan waktu yang stagnan.......
Muhammad kan hamba ya Robbi
Published by Lia RosS on 06 February, 2006 at 9:51 AM.
Sore itu, saya sedang makan dengan rakus, setelah seharian hanya diisi 3 potong coklat. Sampailah berita di TV mengenai penyataan presiden RI tentang kartun yang menggambarkan Rosululloh dan demo-demo diberbagai negara yang memprotesnya.
Sakit bukan kepalang, itu yang terasa. Seluruh tubuh. Hingga terguncang karena tangisan. Tak sanggup lagi kulanjutkan makan.
”Maafkan aku Rosul terkasih, karena kelalaian kamilah sosok agungmu tidak terlihat, kemuliaanmu tidak terasa , kelembutanmu tidak bisa meluluhkan dendam mereka”
”Maafkan kami tidak menjalankan sunnah-sunnahmu, hingga tidak terpancar akhlak Qur’ani mu pada kami”
Paginya, seperti biasa, aku jalan pagi menikmati sejuknya Bandung Utara, mengagumi semburat pagi dan asik merasakan matahari menyentuh kulit, menyusupi hingga tulang. Namun berat sekali mengangkat kepala, lebih banyak tertunduk menghitung satu persatu langkah kaki yang telanjang menginjak batu.
”TUHAN ampunilah kami, kekasih-MU teraniaya, padahal tak akan KAU ciptakan seluruh manusia jika tak ada Muhammad Rosululloh”
”Muhammad kan hamba ya Robbi
Muhammad kan hamba ya Robbi
Disetiap tarikan nafas dan langkah kaki
Tak ada yang dapat yang lebih sempurna lagi
Diujung jalan kerinduan hamba Muhammad berdiri”
Syair dari pa Muh mengalir begitu saja dari mulutku, menemani airmata.
Sakit bukan kepalang, itu yang terasa. Seluruh tubuh. Hingga terguncang karena tangisan. Tak sanggup lagi kulanjutkan makan.
”Maafkan aku Rosul terkasih, karena kelalaian kamilah sosok agungmu tidak terlihat, kemuliaanmu tidak terasa , kelembutanmu tidak bisa meluluhkan dendam mereka”
”Maafkan kami tidak menjalankan sunnah-sunnahmu, hingga tidak terpancar akhlak Qur’ani mu pada kami”
Paginya, seperti biasa, aku jalan pagi menikmati sejuknya Bandung Utara, mengagumi semburat pagi dan asik merasakan matahari menyentuh kulit, menyusupi hingga tulang. Namun berat sekali mengangkat kepala, lebih banyak tertunduk menghitung satu persatu langkah kaki yang telanjang menginjak batu.
”TUHAN ampunilah kami, kekasih-MU teraniaya, padahal tak akan KAU ciptakan seluruh manusia jika tak ada Muhammad Rosululloh”
”Muhammad kan hamba ya Robbi
Muhammad kan hamba ya Robbi
Disetiap tarikan nafas dan langkah kaki
Tak ada yang dapat yang lebih sempurna lagi
Diujung jalan kerinduan hamba Muhammad berdiri”
Syair dari pa Muh mengalir begitu saja dari mulutku, menemani airmata.
