Intuisi "aku" perEMPUan

"aku". ana dan al Haq. makhluk perEMPUan dan Khalik NYA. tentang perEMPUan yang mainkan perannya, TUHAN nya yang mainkan takdir diantara jari-jari NYA dan bagaimana ”mereka” saling berhubungan. mari....mengeksplorenya disini


Meminjam Takdir

Hari libur, memang paling asik berkumpul dengan teman-teman lama. Bernostalgia, mentertawakan kelakuan diri masing-masing saat belum dewasa, mencari tahu apa kabar temen-teman yang masih ngelink.

Rani tuh si tukang becak, soalnya dia kalo makan bunyi dengan gaya duduk mirip tukang becak. Aty tuh, anak bangka yang kerjaannya cemberut mulu, soalnya dia masuk asrama dipaksa orang tua. Masih ingatkan, Lia April, si miss lelet, yang taksi aja sampe nungguin satu jam. Eva si nyablak, Siti Hasanah pengurus yang paling rajin. Aku ? senior yang judes dan galak. Ha..ha..ha.. setiap orang punya julukan masing-masing, sayangnya kok julukannya lebih banyak yang jeleknya ya.

Sepuluh tahun tidak bertemu, banyak sekali yang berubah, kita semua kaget dengan penampilan masing-masing. Ada yang berubah menjadi kurus, ada yang tambah gemuk, perempuan yang dulunya tomboy sampai dah punya anak pun tetap begitu, ada juga yang makin feminin. Tapi aku melihat kesamaan bagi mereka yang sudah menikah, dulu cantik-cantik, sampai hari ini kalo diteliti tidak banyak yang berubah, warna kulit tetap sama, belum ada flek dan kerutan, bentuk hidung mata bibir pastinya juga belum berubah, tapi kok tidak semenarik dulu, setelah memperhatikan dengan seksama, ternyata ada yang hilang dari diri mereka yaitu pesona yang sudah tidak memancar lagi seperti ketika masih perawan.

Rani, aku bersyukur sekali memiliki suami yang super baik, aku orangnya keras, segala sesuatu mesti diomongin, beruntung sekali bersuamikan lelaki jawa yang memiliki pekerjaan mapan ditambah tampan. Mana photonya kata yang laen, dia ngeluarin handphonenya, huuuuuu... semua berteriak, segitu aja. Eh dia tidak photogenik jadinya aslinya lebih cakep, kata Rani membela.

Ingat ibeth gak ? kata Eva, aku ingat kata Rani, waktunya belajar dia malah diam-diam bersembunyi dilantai 3. Eh, baru sepuluh menit leleson diatas, ternyata disusul sama pengurus asrama dan disuruh ikut belajar ha..ha... Hmm Ibeth, semua tahu, dia sering menangis diam-diam sambil menulis puisi cintanya Kahlil Gibran, tulisannya bagus sekali, dengan hiasan renda sederhana. Kami semua merasakan pedihnya ditinggal nikah lelaki yang dipercayainya. Eh, katanya mantannya divorce ya ? tanya Santi. ”syukurin deh, dosa dari Ibeth tuh” kata Eva emosional. Waduh, gossip benar-benar menyebar. Aku mengunci mulut rapat-rapat, dan berdoa didalam hati semoga tidak ada yang tahu kelanjutan cerita mantannya Ibeth itu.

Wati berpisah setelah sembilan tahun pernikahannya, kata Nunung. Knapa ? kata yang lain serentak. Suaminya tergoda perempuan berusia 21 tahun, padahal suaminya kan udah 35 tahun. Sebetulnya, Wati mau aja dipoligami tapi perempuan mudanya yang gak mau. Semua terdiam, kami semua mengaguminya, orang yang selalu ceria. Tapi Wati gak apa-apa kok, kataku, dia sempat curhat, kalo sebenarnya dia juga tidak yakin bisa tahan hidup sampai tua dengan suaminya, kita semua tahulah, bagaimana suaminya itu, dulu juga, kita kaget kan kok Wati mau padahal nilai Wati kan diatas cowoknya. Jadi perceraian ini malah baik buat dia, semoga saja dia dapetin laki-laki yang sepadan.

Yang paling heboh memang Eva, cantik, anaknya vice president perusahaan terkenal di Indonesia, agak nyablak sih orangnya, dia yang jadi bulan-bulanan, karena menikah dengan sesama teman, nasibku buruk kata dirinya, menikah dengan laki-laki yang egois, pemalas, menjadikan agama sebagai tameng untuk segala hal demi keinginannya. Bayangkan, ceritanya, aku baru saja melahirkan masih penuh darah sudah ditinggal demi dakwah katanya. Lia, kamu ditanyain suamiku tuh, kalo kamu belum kawin juga, suamiku mau mengawinimu. Nunung, kamu juga sama, suami gue mau juga nikahin elo. Aku udah bilang sekalian aja kamu kawinin 9 perempuan. Habis gue udah kesel ma dia, udah ga ada kerjaan, minta berhubungan seks tiap hari, pusing gue. Haaaaaa.... Eva punya dua anak perempuan, yang satu cantik sekali mirip ibunya, dan yang kedua mirip bapaknya, semua orang bilang, kasihan bener anak yang ke-2. biarin, gue sayang anak gue tau.... kata Eva.

Gimana kabar teh Ebah, Ela Nyeletuk. Semua mata serentak memandangku. Kita bengong, ada apa ? sambil saling celingukan, kemudian tertawa ngakak tanpa komando. No comment, segera aku jawab. Sudah bukan rahasia lagi kalo suaminya teh Ebah mengejar aku, sampai sesudah akad nikah saja masih bertanya tentang aku. Ah, laki-laki...

Yang hebat, Siti Hasanah dong, beliau anak orang berada begitupun suaminya, tapi rumah tangga mereka dimulai dari nol tanpa membawa harta dari orang tua. Saya sering melihatnya membawa karung berisi baju-baju untuk dijual kembali sambil dilendotin kedua anaknya.

Aku kadang bosen ngurusin anak dan suami, kata Ela. Pernah aku usir anak-anak, sana ikut bapakmu, ibu ingin seneng-seneng sendirian. Aku kunci pintu, aku kuasai kasur sendirian, tidur sampe sore.

Aku sering menangis, rasanya belum bisa jadi ibu yang baik. Aku stress kalo anak disekolah tidak bisa menjawab soal-soal ujian, kata Imas.

Lia, bener kata kamu dulu, kata santi lirih. Ketika aku akan menikah, kamu sempat bilang bahwa menikah itu sangat tidak mudah, penuh konsekuensi yang berat, tidak takutkah pada TUHAN ketika tidak menjalaninya dengan benar. Kadang aku ingin balik lagi menjadi perempuan yang sendiri. Aku juga sama kata Ela dan Imas menimpali. Nggalah, kata aku. Aku selalu mengagumi orang yang berani menikah, berani mengambil keputusan, dan kalian sudah berani melalukan itu, hidup aku mungkin sangat nyaman dan menyenangkan, itu karena aku tidak berani melangkah keluar dari garis kenyamanan. Dulu aku memilih untuk matang dahulu sebelum menikah, beragam kehidupan yang aku lalui akan membuat aku matang. Mungkin kamu pernah kecewa ketika mensikapi persoalan rumah tangga dengan kurang bijaksana. tapi aku lihat kamu yang duluan menikah sekarang matang juga, Kalian punya nilai lebih malah, yaitu anak. O ya Ibeth pernah bilang, mungkin kita harus memiliki dan menggunakan banyak topeng, didepan anak kita mesti menggunakan topeng ibu yang baik, begitupun didepan suami, topeng istri yang baik harus kita kenakan, bukan karena ingin menipu mereka, tapi karena kita teramat mencintainya. Memang sih. kebutuhan dasar manusia untuk bisa menjadi diri sendiri apa adanya, kalo yang bekerja dia punya kesempatan untuk itu, lha temen-temen kantor mana peduli yang penting kerjaan bagus. Kalo yang hanya ibu rumah tangga, ikutlah komunitas tertentu misal klub yoga, klub masak, klub penanggulangan bencana alam atau klub hobby lainnya. Kataku panjang lebar, halah... sok dewasa !

Satu persatu, kita ceritain, mimpi-mimpi yang jadi kenyataan atau yang tidak, pengajar yang ilmunya masih kita pakai sampai hari ini atau pengajar yang sempat dibohongi bersama-sama. termasuk lelaki-lelaki yang sempat kita keceng atau yang ngeceng kita.

Teman-teman menerima segala takdirnya dengan ikhlas, mensyukuri apa saja yang ALLOH titipkan. Anaknya yang tidak setampan atau secantik anak teman, suami yang karirnya tidak secemerlang yang lain, rumah yang masih ngontrak. Aku, sesekali iri menyelinap. Dari merekalah, aku belajar mensyukuri semua takdir. Karena memang tidak mungkin meminta takdir orang lain untuk menjadi takdir kita. Kalo sekedar meminjam ?

25 Des 06
ingin kupinjam takdirnya, memilikimu.

Tidak Perlu Rumit

Didepan masjid yang biasa didatangi, ada seorang bapak yang berjualan bajigur, bandrek, ubi rebus, kacang rebus, kedelai rebus dan panganan khas kampung lainnya. Kali, karena berasal dari kampung selalu saja merindukan makanan tersebut. Sembari memakannya, sembari mengenang kehidupan damai dikampung, berkumpul bersama tetangga dibale-bale rumah sambil makan bajigur, bermain petak umpet, dan menunggu bulan muncul.

Lho, kok malah bernostalgia. Balik lagi ke bapak yang barusan. Orangnya santun, menggunakan bahasa sunda halus, selalu menyebutku neng geulis dan mengucapkan terima kasih. Sering sekali, harus menunggu agak lama apabila membeli sehabis sholat. Kadang aku protes, ”bapak, sholatnya lama sekali” beliau hanya tersenyum. Kalau membeli sehabis shalat maghrib, bukan beliau yang meladeni karena beliau sedang makan. Mungkin shaum dalam hatiku, tapi shaum sunnah standar kan hari senin dan kamis, sementara hari ini bukan dua hari itu, shaum daud, yakin hatiku. Dua hari kedepan aku datangi lagi, benar, beliau shaum daud.

Pernah, aku memergokinya sedang membaca Qur’an, padahal kondisi gelap, hanya remang-remang lampu jalanan, terhalang gerobaknya pula. Tapi, mushaf itu terlihat terang hingga aku sendiri bisa melihatnya hurufnya dengan jelas. Terburu-buru sambil agak rikuh dia melipat mushaf dan berkata, eh eneng.....

Teringat cerita orang, di Yamman banyak sekali sufi-sufi besar yang hidupnya sederhana, mereka berjualan kecil-kecilan diemperan, namun kemana pun pergi, selalu ada awan menaungi. Sudah lama sekali, aku merindukan bertemu. Saat ini, aku tahu, tidak perlu pergi jauh-jauh ke Iran, orang itu, ada disini, dekat.

Ingat juga ketika pergi umroh, ada yang menyampaikan kalo dikota madinah banyak sekali sufi besar. Duh betapa inginnya bertemu, meski tidak mengerti bahasa Arab, tapi bertemu saja sudah lebih dari cukup. Sampai hari terakhir belum juga menemukannya, setiap shalat di Masjid Nabawi, selalu berdoa untuk itu. Ah, ini shalat terakhir dimasjid yang mulia, setiap lihat orang yang aku kira orang shalih aku dekati, hingga aku berpindah-pindah tempat terus, putus asa, barangkali terlalu banyak dosaku, hingga tidak layak bertemu. Dengan langkah gontai, tinggalkan masjid. Ditengah jalan ada seorang nenek-nenek yang bertanya, ”siti hajar..siti hajar...aina raudhoh..dimana raudhoh” saya menjelaskan dengan bahasa isyarat. Kemudian dia berterima kasih dan mencium kedua pipi. Saat itulah aku terhenyak tak sadar, terdiam. Setelah tersadar, aku balikan badan berniat untuk mengejar nenek-nenek tadi, sudah tak kutemukan. Aneh juga, beliau bertanya posisi raudhoh pada aku yang bermuka indonesia. Sampai hari ini, tak pernah lupa wajahnya yang berkeriput namun segar, kerudung besar warna putih, kesederhanaan penampilan dan kehangatannya saat memegang lengan.

Ah...., aku temukan keheningan diantara hiruk pikuk orang yang berlomba memperebutkan sesuatu yang belum tentu kebenaran dan belum tentu baik untuk dirinya. Ah...., betapa sederhananya jalan-jalan ketulusan, diantara berlikunya jalan yang aku pilih untuk menemui-NYA.

RosS
7 des 06

Itik Buruk Rupa menjadi Angsa Putih

Waks... Apa ?
Gileee.....Abrakadabra
Waduh... Gubrak
Beneran ?

Iya, setiap malem dan pagi pake ritual ngurusin tubuh minimal sejam, akupuntur seminggu dua kali, totok seminggu sekali, lulur dua minggu sekali, facial satu bulan sekali, dokter kulit dua minggu sekali, pake pelembab dan bedak yang harganya lebih mahal dari handphone yang dipake. Bangkrut, sampe jatoh miskin. Tapi ga pake susuk, pelet dan jampi-jampi mah. suer !

Jangan salah, beberapa temen pere lebih dahsyat lagi. Suntik kulit seharga kebun satu hektar dikampung, pelembabnya sebanding dengan gaji S1 fresgraduate sebulan. Gak musti kerja hingga waktunya habis untuk nyalon, fitnes, dan dandan. Sudah menjadi naluri bagi wanita untuk mempercantik diri.

Mengapa sebegitunya, kecantikan fisik bukan segala-galanya. Smart, kematangan dan keyakinan akan TUHAN yang kuat akan memancarkan inner beauty yang membuat fisik kita pun terlihat charming. Dan bukankah tubuh ini fana ?

Ya seeh, tapi aneh juga, pasti ada sesuatu dengan tubuh ini. Dia sengaja dibuat langsung oleh "tangan" TUHAN. En yang lebih aneh lagi bagian2 tubuh yang menjadi aurat, ALLOH buka dibagian tubuh laennya yang mudah dilihat, misal warna puting kebanyakan sama dengan warna bola mata, vagina = bibir, penis = ibu jari kaki dan mungkin masih banyak yang belum kita ketahui. Maksudnya opo toh ?

Kali aja neeh, hipotesisnya adalah satu diri yang terdiri fisik, ruh, hati, fikir, otak, rasa, jiwa merupakan hal saling kait mengkait yang tidak bisa dipisahkan dan masing-masing memiliki eksistensi yang apabila dieksplore akan membangkitkan yang lainnya.

Sementara itu, makna abadi bukan pada sesuatu berdasarkan wujudnya, misal ruh abadi sementara fisik fana. Tetapi pada sesuatu yang esensi. Kita gak bisa bilang kalo rumah, kendaraan, tas, sepatu, harta ini fana, buktinya masih kita jumpai barang-barang antik yang tetap bagus sampe hari ini.

Tubuh ini, yang sangat ringkih pun, bisa abadi. Banyak bukti kalo tubuh orang2 sholeh yang telah meninggal bisa tetap utuh setelah ribuan tahun. Ingat, ketika ada penggalian di padang pasir, masih ada mayat yang tubuhnya masih utuh katanya itu tubuh para syuhada. Di indonesia juga banyak ceritanya kalo tubuh kyai atau orang-orang sholeh ketika makamnya dipindah masih utuh. Bukankan ada hadist yang menyatakan kalau karena keshalihannya, cacing tidak berani memakan tubuh manusia. Sebegitu mulianya tubuh ini.

Kadang kala tubuh ini, lebih ingat TUHAN nya bila dibandingkan hati dan fikir. Tubuh terbuat dari tanah dan air yang kesehariannya adalah bertasbih. Misal, sehabis haid biasanya perlu warming up agak bisa sholat khusuk, namun rasakanlah, saat hati dan fikiran masih dingin-dingin saja tapi tubuh sudah bergetar hebat.

Jangan pernah menyepelekan apapun. Everything is eternal, kita bisa bawa semuanya pada keabadian. Tubuh ini bisa abadi, cinta abadi, harta abadi. Cinta, perEMPUan, seks adalah abadi

RosS
Sept 06




© 2006 Intuisi "aku" perEMPUan | Lia RosS