Menuju KEKASIH
Published by Lia RosS on 28 April, 2006 at 3:59 PM.
Berlomba orang menempuh berbagai cara untuk mendapat perhatian kekasihnya, diawali dari mengidentifikasi hingga tahu apa yang diinginkan dan bersikap sesuai dengan yang diharapkan. Begitupun dengan menempuh jalan-jalan menuju cinta TUHAN. Dimulai dari bersyahadat menyatakan keyakinan bahwa hanya ALLOH saja yang akan dicintai dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rosululloh.
Seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, teramat banyak pula jalan menuju TUHAN. Yang berhasil diidentifikasi baru sebagian kecil saja.
Berjalan ke dalam
Orang yang menganggap dirinya bodoh dihadapan TUHAN, tak berdaya seperti bayi, hina seperti Bilal sang budak memilih menjalankan semua ritual, yang wajib sudah pasti dilaksanakan sesempurna mungkin, ditambah semua yang sunnah, dari shaum nabi Daud, tahajud setiap malam, berbagai macam sholat sunnah, dan dzikir yang tak pernah henti. Menutup semua pintu yang tidak ada kaitan dengan TUHAN, hanya beraktifitas seperti yang dicontohkan Rosululloh, meninggalkan Ada Band dan piyu PADI yang sebelumnya teramat disukai, tidak pernah lagi searching mengenai ISLAM yang "aneh", palagi iseng lihat majalah playboy.
Berjalan keluar
Fase selanjutnya. Konsisten untuk beribadah sosial, menjadi problem solver bagi sekeliling. Bekerja keras sampai ikhlas mengerjakan pekerjaan orang lain, tempat curhat banyak orang, menyelesaikan konflik teman, orang tua, saudara, nenek, kakek, paman, bibi (kaya iklan mobil pokoknya mah...) yang tentu menguras energi dan waktu hingga melupakan problem sendiri. Memiliki keyakinan bahwa setelah kita berbuat banyak untuk orang maka ALLOH akan menyelesaikan masalah diri, memberi saja dululah maka kita akan menerima.
Kontempelasi adalah penyambung dan penyeimbang berbagai fase agar tujuan akhir yaitu cinta TUHAN dapat teraih karena kekasih TUHAN adalah orang yang ajeg (seimbang) antara hablumminalloh dan hablumminannas, orang yang berkhidmat pada makhluk dengan dasar kecintaan pada TUHAN (bahasa kang Jalal). Ketika dihadapan TUHAN ia membawa harapan seluruh umat manusia dan ketika dihadapan manusia ia menyampaikan pesan TUHAN (menurut pa Muh),
Diluar dua jalan tadi ada pula yang ’iseng’. Ketat berritual namun masih asik ngefans sama Glenn Fledly, merasakan nikmatnya lapar namun kecentilan. Merasakan sayang-NYA, tapi juga menikmati rayuan makhluk. Mengalami fase ’mistik’ seperti Rumi, namun tetap nyaman berada dikomunitas globalis yang tidak menganut satu agama, hanya meyakini TUHAN itu SATU.
Memasuki fase sufi healing, namun gak cuma digunakan untuk menyehatkan tubuh juga untuk mempercantik diri hingga banyak orang terheran-heran ”kok mukanya berubah sih” – ”ah masa... padahal dalem hati ya iya lah soalnya lemak yang bikin pipi tembem dihilangin hingga tulang pipi menonjol, aliran darah ke bibir dilancarin hingga lebih segar, ngilangin kantung mata, .... de el el”. Disisi hati yang lain berniat, sebenarnya tidak agar terlihat lebih cantik tapi untuk ngetest apakah ini hanya sebuah sensasi ataukah kebenaran hingga harus dibuktikan pada bagian tubuh yang mudah dilihat.
Memahami bahwa semua aktifitas adalah sakral, mengurus diri adalah ungkapan syukur dimulai dari mandi, memakai baju dan berdandan. Bekerja adalah aktualisasi potensi yang ALLOH titipkan. Merindui lawan jenis adalah bagian dari merindui TUHAN, mitsqon gholidzo adalah saat bertemu TUHAN ”AKU ciptakan dari diri yang satu kemudian AKU masukkan pada dua raga terpisah”. Maaf, ”relation" lelaki dengan perempuan adalah ritual yang agung. Kata mencipta hanya hak-NYA sebagai contoh kata mencipta tidak boleh digunakan untuk mencipta lagu hingga dipilih kata menggubah lagu tapi untuk mencipta makhluk, ALLOH ajak makhluk berperan – diberi kenikmatan untuk menguji, agar terpilih makhluk mana yang konsisten pada niat awal - . Beranak-pinak adalah wujud membayar utang pada semesta (meminjam bahasanya pa Muh) palagi bagi perempuan (lagi-lagi feminist) yang diamanahi mengerami dalam RAHIM, ada kehidupan dalam kehidupan, ada replikasi diri justru didalam diri. CANGGIH
Ah, sederhana saja sebenarnya, kenikmatan dalam berritual dan bersosial sudah lebih dari cukup namun fase-fase lain pun mungkin musti dilewati. Sembari berjalan menuju-NYA, mencomot satu persatu karya-NYA, merangkainya menjadi sebuah tasbih yang saling kait mengkait, terintegrasi dan pasti tak terpisahkan yang menunjukkan maujud-NYA.
"Jadi tidak takut lagi disebut berkepribadian ganda ato hidup didunia dua dunia"
Seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, teramat banyak pula jalan menuju TUHAN. Yang berhasil diidentifikasi baru sebagian kecil saja.
Berjalan ke dalam
Orang yang menganggap dirinya bodoh dihadapan TUHAN, tak berdaya seperti bayi, hina seperti Bilal sang budak memilih menjalankan semua ritual, yang wajib sudah pasti dilaksanakan sesempurna mungkin, ditambah semua yang sunnah, dari shaum nabi Daud, tahajud setiap malam, berbagai macam sholat sunnah, dan dzikir yang tak pernah henti. Menutup semua pintu yang tidak ada kaitan dengan TUHAN, hanya beraktifitas seperti yang dicontohkan Rosululloh, meninggalkan Ada Band dan piyu PADI yang sebelumnya teramat disukai, tidak pernah lagi searching mengenai ISLAM yang "aneh", palagi iseng lihat majalah playboy.
Berjalan keluar
Fase selanjutnya. Konsisten untuk beribadah sosial, menjadi problem solver bagi sekeliling. Bekerja keras sampai ikhlas mengerjakan pekerjaan orang lain, tempat curhat banyak orang, menyelesaikan konflik teman, orang tua, saudara, nenek, kakek, paman, bibi (kaya iklan mobil pokoknya mah...) yang tentu menguras energi dan waktu hingga melupakan problem sendiri. Memiliki keyakinan bahwa setelah kita berbuat banyak untuk orang maka ALLOH akan menyelesaikan masalah diri, memberi saja dululah maka kita akan menerima.
Kontempelasi adalah penyambung dan penyeimbang berbagai fase agar tujuan akhir yaitu cinta TUHAN dapat teraih karena kekasih TUHAN adalah orang yang ajeg (seimbang) antara hablumminalloh dan hablumminannas, orang yang berkhidmat pada makhluk dengan dasar kecintaan pada TUHAN (bahasa kang Jalal). Ketika dihadapan TUHAN ia membawa harapan seluruh umat manusia dan ketika dihadapan manusia ia menyampaikan pesan TUHAN (menurut pa Muh),
Diluar dua jalan tadi ada pula yang ’iseng’. Ketat berritual namun masih asik ngefans sama Glenn Fledly, merasakan nikmatnya lapar namun kecentilan. Merasakan sayang-NYA, tapi juga menikmati rayuan makhluk. Mengalami fase ’mistik’ seperti Rumi, namun tetap nyaman berada dikomunitas globalis yang tidak menganut satu agama, hanya meyakini TUHAN itu SATU.
Memasuki fase sufi healing, namun gak cuma digunakan untuk menyehatkan tubuh juga untuk mempercantik diri hingga banyak orang terheran-heran ”kok mukanya berubah sih” – ”ah masa... padahal dalem hati ya iya lah soalnya lemak yang bikin pipi tembem dihilangin hingga tulang pipi menonjol, aliran darah ke bibir dilancarin hingga lebih segar, ngilangin kantung mata, .... de el el”. Disisi hati yang lain berniat, sebenarnya tidak agar terlihat lebih cantik tapi untuk ngetest apakah ini hanya sebuah sensasi ataukah kebenaran hingga harus dibuktikan pada bagian tubuh yang mudah dilihat.
Memahami bahwa semua aktifitas adalah sakral, mengurus diri adalah ungkapan syukur dimulai dari mandi, memakai baju dan berdandan. Bekerja adalah aktualisasi potensi yang ALLOH titipkan. Merindui lawan jenis adalah bagian dari merindui TUHAN, mitsqon gholidzo adalah saat bertemu TUHAN ”AKU ciptakan dari diri yang satu kemudian AKU masukkan pada dua raga terpisah”. Maaf, ”relation" lelaki dengan perempuan adalah ritual yang agung. Kata mencipta hanya hak-NYA sebagai contoh kata mencipta tidak boleh digunakan untuk mencipta lagu hingga dipilih kata menggubah lagu tapi untuk mencipta makhluk, ALLOH ajak makhluk berperan – diberi kenikmatan untuk menguji, agar terpilih makhluk mana yang konsisten pada niat awal - . Beranak-pinak adalah wujud membayar utang pada semesta (meminjam bahasanya pa Muh) palagi bagi perempuan (lagi-lagi feminist) yang diamanahi mengerami dalam RAHIM, ada kehidupan dalam kehidupan, ada replikasi diri justru didalam diri. CANGGIH
Ah, sederhana saja sebenarnya, kenikmatan dalam berritual dan bersosial sudah lebih dari cukup namun fase-fase lain pun mungkin musti dilewati. Sembari berjalan menuju-NYA, mencomot satu persatu karya-NYA, merangkainya menjadi sebuah tasbih yang saling kait mengkait, terintegrasi dan pasti tak terpisahkan yang menunjukkan maujud-NYA.
"Jadi tidak takut lagi disebut berkepribadian ganda ato hidup didunia dua dunia"
Rizki
Published by Lia RosS on at 3:54 PM.
Sebagian besar orang suka tung hitung menghitung keluar masuk uang pribadi. Ada yang sekedar menghitung di kepala, membuat catatan kecil, mungkin pula ada yang membuat catatan akuntansi lengkap dengan budget plus analisisnya.
Apapun caranya pasti ada kesimpulan. Tidak sedikit yang terheran-heran, kok bisa masih makan enak, menyekolahkan anak, bayar cicilan rumah padahal kalo lihat pemasukan sepertinya tidak mungkin. Barokalloh, ALLOH akan mencukupi hamba-NYA palagi jika pengeluarannya untuk kebaikan.
Ada pula yang kaget, bergaji besar namun tidak punya aset apa-apa bahkan setiap akhir bulan kepepet.
Adapula yang seru lho. Bekerja keras dengan cerdas (cie...gayanya)namun kurang peduli seberapa besar kompensasi yang diterima. Ketika merasa digaji belum proporsional karena sistem perusahaan yang belum stabil, menghikmahi bahwa tidak pernah reimburs biaya pengobatan ke kantor adalah kompensasi juga.
Ketika rizki sudah ditangan, bermunculan keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dengan lengkap, rumah bagus, makan enak, baju, sepatu dan tas keren, perlengkapan dandan lengkap yang bikin wangi dan cantik setiap saat, kendaraan nyaman, dan sekolah anak yang berkualitas. Namun bersamaan dengan itu muncul kebutuhan mendadak, bertahun-tahun membiayai kebutuhan hidup orang lain dan setengah dari gaji dipotong untuk melunasi hutang orang lain.
Setelah miliki tanah dan rumah justru tidak untuk ditempati sendiri, makan enak kalau bersama yang lain, punya baju dan sepatu keren hanya sebentar karena harus berani berbagi. Tabungan yang selalu diposisi saldo minimal.
Kemanakah hasil kerja keras selama belasan tahun itu ?
Menurut Rosululloh, rizki bukan apa yang ada ditangan atau yang kita makan, tapi apa yang kita bagi pada orang lain.
Ketika ALLOH memaksa untuk seperti itu, meski beraaaaat... tak ada pilihan selain belajar IKHLAS.
Apapun caranya pasti ada kesimpulan. Tidak sedikit yang terheran-heran, kok bisa masih makan enak, menyekolahkan anak, bayar cicilan rumah padahal kalo lihat pemasukan sepertinya tidak mungkin. Barokalloh, ALLOH akan mencukupi hamba-NYA palagi jika pengeluarannya untuk kebaikan.
Ada pula yang kaget, bergaji besar namun tidak punya aset apa-apa bahkan setiap akhir bulan kepepet.
Adapula yang seru lho. Bekerja keras dengan cerdas (cie...gayanya)namun kurang peduli seberapa besar kompensasi yang diterima. Ketika merasa digaji belum proporsional karena sistem perusahaan yang belum stabil, menghikmahi bahwa tidak pernah reimburs biaya pengobatan ke kantor adalah kompensasi juga.
Ketika rizki sudah ditangan, bermunculan keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dengan lengkap, rumah bagus, makan enak, baju, sepatu dan tas keren, perlengkapan dandan lengkap yang bikin wangi dan cantik setiap saat, kendaraan nyaman, dan sekolah anak yang berkualitas. Namun bersamaan dengan itu muncul kebutuhan mendadak, bertahun-tahun membiayai kebutuhan hidup orang lain dan setengah dari gaji dipotong untuk melunasi hutang orang lain.
Setelah miliki tanah dan rumah justru tidak untuk ditempati sendiri, makan enak kalau bersama yang lain, punya baju dan sepatu keren hanya sebentar karena harus berani berbagi. Tabungan yang selalu diposisi saldo minimal.
Kemanakah hasil kerja keras selama belasan tahun itu ?
Menurut Rosululloh, rizki bukan apa yang ada ditangan atau yang kita makan, tapi apa yang kita bagi pada orang lain.
Ketika ALLOH memaksa untuk seperti itu, meski beraaaaat... tak ada pilihan selain belajar IKHLAS.
LAILA
Published by Lia RosS on 24 April, 2006 at 12:30 PM.
”Astaghfirlloh al ’Adzim ...Asyhadu alaa illaa ha ilalloh...wa ashadu anna Muhammad daa Rosululloh...laa ilaha illalloh...Muhammad Rosululloh...” berkali-kali dzikir itu dilafadzkan Laila. Tanpa disadari kepalanya mulai bergerak memutar sangat pelan..pelan...setengah tubuhnya mulai ikut berputar pelan...pelan...agak cepat..cepat...cepat .... sangat cepat...sangat cepat .....seperti gasing hingga akhirnya Laila jatuh terlentang. Dengan sendirinya tangan terlipat didada, dirasakan ada yang merambat dari ujung jari kaki melewati perut.. dada... kemudian tersumbat dikerongkongan, nafasnya mulai berbunyi keras. ”ALLOH apakah ini sakaratul maut” bibirnya terus berdzikir laa ilaha illalloh Muhammad Rosululloh..Rosululloh..Rosul.. aku mencintaimu Rosul...Ya Rosulloh... terasa ada yang tercerabut dari ubun-ubun kepalanya.
Kemudian..... Laila merasa berada ditempat yang sangat luas bersama seseorang berjubah putih. Laila berjalan dibelakangnya sembari memegangi jari kelingking lelaki itu, Laila tidak tahu siapa lelaki itu, hanya merasakan hangat senyumnya meski tidak terlihat.
Seluruh keluarga Laila panik setelah mendengar kabar dari Lutfia teman Laila kalau Laila ditemukan tergeletak tak bernafas lagi dikamarnya. Laila, perempuan taat sejak kecil, rajin beribadah dan mengaji di mushola kampung. Berusaha tidak membebani orangtuanya dengan tidak banyak keinginan hanya minta disekolahkan di sekolah nomor satu dikota kecilnya bahkan sering keperluan sekolahnya dipenuhi dari uang jajan yang tidak seberapa yang ditabungnya. Sewaktu kecil Laila dikenal sebagai anak cengeng karena mudah sekali ngambek dan nangis, sedikit saja tersentuh hatinya ia akan diam dikamar berhari-hari tanpa bicara atau pergi main ke tengah sawah dari pagi hingga sore. Perempuan sederhana meski sudah punya penghasilan sendiri tapi bajunya tidak lebih dari tujuh buah, hanya akan beli sepatu dan tas jika yang ada sudah benar-benar rusak.
Teman-teman Laila mengenalnya sebagai perempuan tegar, kuat mempertahankan prinsip yang dianggapnya benar meski bertentangan dengan banyak orang sekaligus perempuan sabar ”aku memilih menikmati kebenaranku sendiri saja, tidak perlu memaksa orang lain mengerti atau mengikuti kebenaranku karena setiap orang berhak punya kebenaran menurut dirinya” itu jawabnya ketika ditanya kenapa tidak vocal lagi.
”Hallo, benar saya Krishna”
”Saya Arifin kakak Laila, saya dapat nomor telphone anda dari HP Laila, laila meninggal tadi malam, namun baru ketahuan jam setengah delapan pagi”
”Astaghfirlloh al ’Adhim...inna lillahi wa inna lillahi roojiun....”Krishna terdiam tidak sanggup berkata-kata lagi.
”Hallo...”
”Ya, maaf.. rencana dikebumikan dimana ?”
”Di Jogja, alamat lengkapnya nanti saya sms”
Ditutupnya laptop dengan terburu-buru, dibiarkannya beberapa arsip dan koran tergeletak dimeja, terburu-buru menyetop taksi menuju bandara.
”Apa yang terjadi padaku ” fikir Laila, tapi ia tidak berani bertanya pada lelaki didepannya, diikutinya terus langkah lelaki itu menaiki bukit batu, menempuh jalan berkelok, memutari gunung, tak jarang meloncati parit-parit kecil, sesekali lelaki itu menutupi laila dengan jubah putihnya apabila ada badai pasir. Tak ada rasa lelah bahkan tak berkeringat sedikitpun dan tangannya tak pernah lepas dari kelingking lelaki itu.
Diingatnya-ingatnya peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, berkali-kali mengalami chaos setelah mengenal seorang lelaki, Krishna. ”Kenapa lelaki ini yang KAU hadirkan, seorang aktifis partai nasionalis, lelaki dengan berjuta kesibukan hingga tidak ada waktu untukku yang kuangggap dia tidak bersungguh-sungguh, mungkin suudzonku ia kuanggap lelaki biasa yang tidak menunjukkan keislamannya. Padahal yang aku minta pada-MU adalah kekasih-MU, orang yang mau belajar mencintai-MU, orang yang membuat aku semakin mengenal-MU”
Laila tersipu, mengingat getaran-getaran aneh yang melingkupinya saat tak sengaja mereka bertemu dikereta, bercerita sepanjang malam selama delapan jam, orang yang menyenangkan, mengetahui berbagai hal, cerdas dan sopan. Menggoda dengan menyebut Laila akhwat shalihah saat melihat Qur’an kecil ditangan Laila. Sejak itulah tak disadari rindu sering memenuhi hatinya.
Ditengah kesibukannya Krishna menghubungi hanya untuk bercerita kalau dia sedang kampanye di Makasar, di Padang, di Surabaya dan dikota-kota lainnya. Berbulan-bulan lost contact membuatnya memutuskan untuk menghapus nomor telphone Krishna dari phone book hpnya. Tak dimilikinya keberanian meski hanya untuk mengirim sms menanyakan kabar.
Setiap kali berkeinginan melupakan selalu saja Krishna hadir dalam mimpinya. Krishna yang berbeda disetiap mimpi, Krishna yang berubah lebih baik. Mulai muncul keyakinannya untuk bersabar menunggu dan menerima segala hal tentang Krishna.
Bermalam-malam diisinya dengan tangisan dalam istikhoroh ”Ya ALLOH setelah semakin mengenalnya, aku seharusnya tahu diri, aku terlalu hina untuknya, lepaskanlah aku darinya”. Ketika bangkit dari sujud ketetapan hati yang muncul, ”jalanilah”
”Ya ALLOH maafkan aku yang sudah menyia-nyiakan orang yang KAU hadirkan” Krishna kaget dengan apa yang barusan terlintas dihatinya. Kenapa dia panik dan sedih saat mendengar Laila meninggal padahal Laila perempuan biasa saja dimatanya diantara begitu banyak perempuan unik dan menarik yang mengelilingi kehidupannya.
Krishna selalu merasa tidak yakin pada perempuan-perempuan yang ada didekatnya, diakah yang menjadi jodoh dunia akhiratku, bisakah aku membahagiakannya dan bisakah ia menentramkan hati. Mungkin kehidupan rumah tangga orang tuanya yang membuatnya trauma. Ayahnya seorang pengacara sekaligus politikus yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk klien-klien dan partainya. Sementara ibunya perempuan rumah yang sangat sabar membesarkan kelima anaknya sendirian. Secara sembunyi-sembunyi sering dilihat ibunya menangis pelan hingga yang terdengar hanya suara nafas yang tertahan.
Dengan kesibukannya sekarang mengikuti jejak ayahnya, Krishna takut akan menyakiti hati istrinya kelak, ia sangat menghormati dan menyayangi perempuan. ”Ya ALLOH, sekiranya Laila orang yang tepat untukku berilah aku kesempatan” pintanya.
Alhamdulillah, pesawat sudah mendarat, segera dihidupkannya hp dan menghubungi Arifin.
”Saya sudah sampai dibandara mas”
”Ya baik, saya pun sudah menunggu dipintu keluar”
Hening, tak ada perbincangan disepanjang perjalanan. Sesampainya dirumah, terlihat Laila sudah dimandikan dan dikafani tinggal dikebumikan, Krishna segera berwudhu dan menyolatkan Laila. Ingin sekali krishna melihat wajah Laila untuk terakhir kalinya.
”Mas bolehkah saya melihat wajah Laila” pintanya pada Arifin
”Boleh” jawab Arifin sambil membuka kain yang menutupi.
Diperhatikannya wajah laila, senyum dan keteduhannya membuat Laila terlihat sangat cantik ”ALLOH berilah mu’jizatmu, hidupkanlah Laila kembali, akan kunikahi sekarang juga”
”Sudah sampai” hanya kata itu yang Laila dengar dalam perjalanan panjangnya. Pelan lelaki itu melepaskan pegangan tangan Laila tanpa menoleh kebelakang. Laila merasa harus membuka matanya....
”Astaghfirlloh al ’Adzim” kata yang sama-sama diucapkan oleh Laila dan Krishna.
Fiksi pertama yang kubuat, Alhamdulillah.
Kemudian..... Laila merasa berada ditempat yang sangat luas bersama seseorang berjubah putih. Laila berjalan dibelakangnya sembari memegangi jari kelingking lelaki itu, Laila tidak tahu siapa lelaki itu, hanya merasakan hangat senyumnya meski tidak terlihat.
Seluruh keluarga Laila panik setelah mendengar kabar dari Lutfia teman Laila kalau Laila ditemukan tergeletak tak bernafas lagi dikamarnya. Laila, perempuan taat sejak kecil, rajin beribadah dan mengaji di mushola kampung. Berusaha tidak membebani orangtuanya dengan tidak banyak keinginan hanya minta disekolahkan di sekolah nomor satu dikota kecilnya bahkan sering keperluan sekolahnya dipenuhi dari uang jajan yang tidak seberapa yang ditabungnya. Sewaktu kecil Laila dikenal sebagai anak cengeng karena mudah sekali ngambek dan nangis, sedikit saja tersentuh hatinya ia akan diam dikamar berhari-hari tanpa bicara atau pergi main ke tengah sawah dari pagi hingga sore. Perempuan sederhana meski sudah punya penghasilan sendiri tapi bajunya tidak lebih dari tujuh buah, hanya akan beli sepatu dan tas jika yang ada sudah benar-benar rusak.
Teman-teman Laila mengenalnya sebagai perempuan tegar, kuat mempertahankan prinsip yang dianggapnya benar meski bertentangan dengan banyak orang sekaligus perempuan sabar ”aku memilih menikmati kebenaranku sendiri saja, tidak perlu memaksa orang lain mengerti atau mengikuti kebenaranku karena setiap orang berhak punya kebenaran menurut dirinya” itu jawabnya ketika ditanya kenapa tidak vocal lagi.
”Hallo, benar saya Krishna”
”Saya Arifin kakak Laila, saya dapat nomor telphone anda dari HP Laila, laila meninggal tadi malam, namun baru ketahuan jam setengah delapan pagi”
”Astaghfirlloh al ’Adhim...inna lillahi wa inna lillahi roojiun....”Krishna terdiam tidak sanggup berkata-kata lagi.
”Hallo...”
”Ya, maaf.. rencana dikebumikan dimana ?”
”Di Jogja, alamat lengkapnya nanti saya sms”
Ditutupnya laptop dengan terburu-buru, dibiarkannya beberapa arsip dan koran tergeletak dimeja, terburu-buru menyetop taksi menuju bandara.
”Apa yang terjadi padaku ” fikir Laila, tapi ia tidak berani bertanya pada lelaki didepannya, diikutinya terus langkah lelaki itu menaiki bukit batu, menempuh jalan berkelok, memutari gunung, tak jarang meloncati parit-parit kecil, sesekali lelaki itu menutupi laila dengan jubah putihnya apabila ada badai pasir. Tak ada rasa lelah bahkan tak berkeringat sedikitpun dan tangannya tak pernah lepas dari kelingking lelaki itu.
Diingatnya-ingatnya peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, berkali-kali mengalami chaos setelah mengenal seorang lelaki, Krishna. ”Kenapa lelaki ini yang KAU hadirkan, seorang aktifis partai nasionalis, lelaki dengan berjuta kesibukan hingga tidak ada waktu untukku yang kuangggap dia tidak bersungguh-sungguh, mungkin suudzonku ia kuanggap lelaki biasa yang tidak menunjukkan keislamannya. Padahal yang aku minta pada-MU adalah kekasih-MU, orang yang mau belajar mencintai-MU, orang yang membuat aku semakin mengenal-MU”
Laila tersipu, mengingat getaran-getaran aneh yang melingkupinya saat tak sengaja mereka bertemu dikereta, bercerita sepanjang malam selama delapan jam, orang yang menyenangkan, mengetahui berbagai hal, cerdas dan sopan. Menggoda dengan menyebut Laila akhwat shalihah saat melihat Qur’an kecil ditangan Laila. Sejak itulah tak disadari rindu sering memenuhi hatinya.
Ditengah kesibukannya Krishna menghubungi hanya untuk bercerita kalau dia sedang kampanye di Makasar, di Padang, di Surabaya dan dikota-kota lainnya. Berbulan-bulan lost contact membuatnya memutuskan untuk menghapus nomor telphone Krishna dari phone book hpnya. Tak dimilikinya keberanian meski hanya untuk mengirim sms menanyakan kabar.
Setiap kali berkeinginan melupakan selalu saja Krishna hadir dalam mimpinya. Krishna yang berbeda disetiap mimpi, Krishna yang berubah lebih baik. Mulai muncul keyakinannya untuk bersabar menunggu dan menerima segala hal tentang Krishna.
Bermalam-malam diisinya dengan tangisan dalam istikhoroh ”Ya ALLOH setelah semakin mengenalnya, aku seharusnya tahu diri, aku terlalu hina untuknya, lepaskanlah aku darinya”. Ketika bangkit dari sujud ketetapan hati yang muncul, ”jalanilah”
”Ya ALLOH maafkan aku yang sudah menyia-nyiakan orang yang KAU hadirkan” Krishna kaget dengan apa yang barusan terlintas dihatinya. Kenapa dia panik dan sedih saat mendengar Laila meninggal padahal Laila perempuan biasa saja dimatanya diantara begitu banyak perempuan unik dan menarik yang mengelilingi kehidupannya.
Krishna selalu merasa tidak yakin pada perempuan-perempuan yang ada didekatnya, diakah yang menjadi jodoh dunia akhiratku, bisakah aku membahagiakannya dan bisakah ia menentramkan hati. Mungkin kehidupan rumah tangga orang tuanya yang membuatnya trauma. Ayahnya seorang pengacara sekaligus politikus yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk klien-klien dan partainya. Sementara ibunya perempuan rumah yang sangat sabar membesarkan kelima anaknya sendirian. Secara sembunyi-sembunyi sering dilihat ibunya menangis pelan hingga yang terdengar hanya suara nafas yang tertahan.
Dengan kesibukannya sekarang mengikuti jejak ayahnya, Krishna takut akan menyakiti hati istrinya kelak, ia sangat menghormati dan menyayangi perempuan. ”Ya ALLOH, sekiranya Laila orang yang tepat untukku berilah aku kesempatan” pintanya.
Alhamdulillah, pesawat sudah mendarat, segera dihidupkannya hp dan menghubungi Arifin.
”Saya sudah sampai dibandara mas”
”Ya baik, saya pun sudah menunggu dipintu keluar”
Hening, tak ada perbincangan disepanjang perjalanan. Sesampainya dirumah, terlihat Laila sudah dimandikan dan dikafani tinggal dikebumikan, Krishna segera berwudhu dan menyolatkan Laila. Ingin sekali krishna melihat wajah Laila untuk terakhir kalinya.
”Mas bolehkah saya melihat wajah Laila” pintanya pada Arifin
”Boleh” jawab Arifin sambil membuka kain yang menutupi.
Diperhatikannya wajah laila, senyum dan keteduhannya membuat Laila terlihat sangat cantik ”ALLOH berilah mu’jizatmu, hidupkanlah Laila kembali, akan kunikahi sekarang juga”
”Sudah sampai” hanya kata itu yang Laila dengar dalam perjalanan panjangnya. Pelan lelaki itu melepaskan pegangan tangan Laila tanpa menoleh kebelakang. Laila merasa harus membuka matanya....
”Astaghfirlloh al ’Adzim” kata yang sama-sama diucapkan oleh Laila dan Krishna.
Fiksi pertama yang kubuat, Alhamdulillah.
Arung Jeram
Published by Lia RosS on 19 April, 2006 at 5:10 PM.
Horeee, teriakku ketika diumumkan kantor akan mengadakan arung jeram, ni kali kedua aku nyemplung dengan antusias di sungai. Gak peduli, teriak ”Booom” setiap ada jeram diberengi jeritan khas perempuan, dan loncat-loncat menekan perahu jika terhalang batu. Tidak mengandalkan teman lelaki, mendayung sekuat tenaga dan mengingatkan ”kanan maju, kiri mundur”. Namun tetap bergaya jika didepan kamera.
Kelompok terheboh kata yang lain, terpilih menjadi kelompok paling kompak sehingga mendapat hadiah syal dan kompor gas (aneh ya hadiahnya...).
Tak ada yang berkeluh kesah, ketika terhalang batu, pohon, ranting, arus yang deras, semua tetap semangat bahkan ketika dicemplungin ke sungai.
Begitu jugakah kita menghadapi kehidupan ?
Secara sederhana hidup bisa dianalogikan seperti arung jeram. Berangkat menuju satu tujuan melalui sungai berkelok dan agak berbahaya. Fahamkan hidup pun penuh liku, ketika terjadi sesuatu yang tidak diduga anggap saja surprise dari TUHAN. Saat menemui orang berperangai keras, sabar menetisinya setitik demi setitik. Jika mendapat kendala untuk mencapai suatu tujuan, ikhlas selesaikan dengan baik.
Semoga !
Kelompok terheboh kata yang lain, terpilih menjadi kelompok paling kompak sehingga mendapat hadiah syal dan kompor gas (aneh ya hadiahnya...).
Tak ada yang berkeluh kesah, ketika terhalang batu, pohon, ranting, arus yang deras, semua tetap semangat bahkan ketika dicemplungin ke sungai.
Begitu jugakah kita menghadapi kehidupan ?
Secara sederhana hidup bisa dianalogikan seperti arung jeram. Berangkat menuju satu tujuan melalui sungai berkelok dan agak berbahaya. Fahamkan hidup pun penuh liku, ketika terjadi sesuatu yang tidak diduga anggap saja surprise dari TUHAN. Saat menemui orang berperangai keras, sabar menetisinya setitik demi setitik. Jika mendapat kendala untuk mencapai suatu tujuan, ikhlas selesaikan dengan baik.
Semoga !
Tergoda atau Menggoda ?
Published by Lia RosS on at 5:05 PM.
Payah !, bahkan temanku mengatakan aku pere bodoh, ”kok bisa sih, kamu yang cantik pinter baik lembut hati suka ke suami orang”. ”aku yang dikejar, gak pernah suka duluan, pere mana yang tidak bertekuk lutut diperlakukan bak putri setiap saat ” kataku bela diri.
Sesudahnya aku tercenung, kenapa bisa selalu suami orang yang mendatangiku, apa yang ada padaku hingga peristiwa ini berulang-ulang terjadi padahal aku feminist yang berusaha membela hak-hak perempuan, teramat menyayangi semua perempuan dan terluka jika mereka terluka.
Selalu ingat, segala sikap orang lain adalah cerminan apa yang dilakukan bahkan meski baru keinginan, karena ketika kita berkomunikasi yang beresonansi tidak hanya fisik seperti mata bertemu mata, telinga mendengar apa yang dikeluarkan mulut tapi juga tanpa disadari hati dan rasa pun turut berinteraksi.
Aku selalu merasa nyaman bila didekat lelaki yang telah menikah !
Tak perlu diminta, dia akan mengajakku ke sudut taman saat melihat muka sedih, ”cerita saja, aku mungkin gak bisa bantu tapi kamu bisa lega setelah keluarkan gundah” meski berkali-kali hpnya berdering karena saat pulang dan istri menjemput. ”sebentar lagi, aku ke tempat parkir ya” katanya pelan.
Tak ada kata manis berhamburan, ILU - IMU 24 7 – INU – I REALLY LIKE U, tapi aku merasakan hangat dan sayang dari pijaran mata dan gerakan halus tubuhnya.
”dah makan? Makanlah agak banyak, jangan terlalu kurus. Jangan makan itu, gak baik untuk kesehatan. Aku sedang tugas luar kota, mau oleh-oleh apa ?. Perhatian tulusnya meluluhkan ego.
Seringkali tanpa kata-kata bisa saling mengerti apa yang diinginkan.
O, ya ? aku pula yang yang membuat semua terjadi, menyukai lelaki kebapak-an.
Sejak saat itu, berazam untuk memutuskan sifat yang berkaitan dengan hal itu. Setiap berinteraksi dengan lelaki-lelaki itu, berusaha sekuat tenaga menghilangkan aura keperempuananku yang satu itu. Bertahun-tahun berhasil, menjalin relation dengan freeman (gak beristri maksudnya), meski terkadang lelah dan membutuhkan kesabaran berlipat-lipat.
Tak apalah, lagian masih kerasa sakitnya dan trauma di caci maki ibu-ibu yang sangat aku sayangi ”dasar perempuan jalang, merebut suami orang, maunya laki-laki yang sudah jadi, susah payah kami membesarkannya (nah lo...), padahal kamu gak cantik dan gak punya kelebihan apa-apa”
Dituturkan oleh seorang teman
Sesudahnya aku tercenung, kenapa bisa selalu suami orang yang mendatangiku, apa yang ada padaku hingga peristiwa ini berulang-ulang terjadi padahal aku feminist yang berusaha membela hak-hak perempuan, teramat menyayangi semua perempuan dan terluka jika mereka terluka.
Selalu ingat, segala sikap orang lain adalah cerminan apa yang dilakukan bahkan meski baru keinginan, karena ketika kita berkomunikasi yang beresonansi tidak hanya fisik seperti mata bertemu mata, telinga mendengar apa yang dikeluarkan mulut tapi juga tanpa disadari hati dan rasa pun turut berinteraksi.
Aku selalu merasa nyaman bila didekat lelaki yang telah menikah !
Tak perlu diminta, dia akan mengajakku ke sudut taman saat melihat muka sedih, ”cerita saja, aku mungkin gak bisa bantu tapi kamu bisa lega setelah keluarkan gundah” meski berkali-kali hpnya berdering karena saat pulang dan istri menjemput. ”sebentar lagi, aku ke tempat parkir ya” katanya pelan.
Tak ada kata manis berhamburan, ILU - IMU 24 7 – INU – I REALLY LIKE U, tapi aku merasakan hangat dan sayang dari pijaran mata dan gerakan halus tubuhnya.
”dah makan? Makanlah agak banyak, jangan terlalu kurus. Jangan makan itu, gak baik untuk kesehatan. Aku sedang tugas luar kota, mau oleh-oleh apa ?. Perhatian tulusnya meluluhkan ego.
Seringkali tanpa kata-kata bisa saling mengerti apa yang diinginkan.
O, ya ? aku pula yang yang membuat semua terjadi, menyukai lelaki kebapak-an.
Sejak saat itu, berazam untuk memutuskan sifat yang berkaitan dengan hal itu. Setiap berinteraksi dengan lelaki-lelaki itu, berusaha sekuat tenaga menghilangkan aura keperempuananku yang satu itu. Bertahun-tahun berhasil, menjalin relation dengan freeman (gak beristri maksudnya), meski terkadang lelah dan membutuhkan kesabaran berlipat-lipat.
Tak apalah, lagian masih kerasa sakitnya dan trauma di caci maki ibu-ibu yang sangat aku sayangi ”dasar perempuan jalang, merebut suami orang, maunya laki-laki yang sudah jadi, susah payah kami membesarkannya (nah lo...), padahal kamu gak cantik dan gak punya kelebihan apa-apa”
Dituturkan oleh seorang teman
MAHA RAHMAN
Published by Lia RosS on at 4:40 PM.
Seorang teman,
Aku duduk terpaku dilantai berkarpet tebal, lesu dan perih menyender dipintu kamar. Lamat-lamat terdengar suara pembantu berbicara pada suami ”sudah tiga hari ibu mengurung dikamar”, ”biarin aja, nanti juga sadar sendiri” terasa ringan sekali suamiku menjawab. Menghabiskan energi sisa yang kumiliki, membuatku tergeletak. Nanar kulihat satu persatu segala yang kumiliki, tas Hermes seharga ratusan juta yang kubeli setelah menunggunya hampir satu tahun. Brankas yang berisi uang tidak kurang dari 3 milyar, belum berlian, permata, emas, cek, saham, obligasi. Kulihat diri, baju yang kupake escada, pakaian dalam victoria secret, sandal bally. Semuanya menertawakanku.
Kubayangkan rumah megahku, dengan luas tanah 2000 meter, bangunan tiga lantai, sebagian besar perabot klasik import, mobil, perabot dapur modern. Mengejekku. Dulu ingin kumiliki semua ini untuk membahagiakan orangtua dan keluarga, agar anak-anak bisa nikmati masa keemasannya dengan optimal dan mendapat pendidikan yang terbaik.
Kulihat photo aku dan suami saat menikah, lelaki yang teramat baik dan setia namun sangat gila kerja. Jangankan dikotaku, di negeri ini pun dia jarang ada, hari ini di ausie, 3 hari kemudian di singapura, dilanjutkan ke belanda. Hanya 3 – 4 bulan sekali dia 'mendatangi' ku, bermalam-malam aku pura-pura tertidur kemudian melihat suami memenuhi kebutuhannya dengan menonton film. ”untuk apa kau memintaku menjadi istri ?” kataku dalam hati sambil menahan segukan.
TUHAN, semua yang kumiliki tidak bisa memenuhiku, aku kesepian, merasa sendiri, tak ada yang kumiliki lagi, dimanakah adanya KAU Yang Maha Rahman, dimanakah dapat kutemui ?.
Juga seorang teman,
Setiap tiga hari sekali saya harus berpindah masjid, karena aturannya tidak boleh menginap lebih dari tiga hari. Dengan dua anak lelaki yang sedang rakus-rakusnya makan dan senang main. Tak jarang menahan lapar demi kedua anakku kenyang.
Suami pecandu narkoba, suka mabuk dan judi mau membunuh kami hingga kami pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa.
Berbagai cara saya lakukan hanya agar anak bisa makan, menjadi pembantu rumah tangga, mencucikan baju, berjualan, namun selalu kekurangan. Sejak sebelum menikah berbagai ibadah saya tempuh, shalat malam tak pernah lepas, sehari shaum sehari tidak, shaum tengah bulan, membaca Qur’an setiap malam, tak henti berdzikir, mencoba bersabar dan ikhlas atas semua takdirnya. Ujian-NYA tak pernah henti.
Mengapakan kepahitan tidak juga pergi meninggalkanku. TUHAN, berbagai pintu-MU aku ketuk, meski belum jua KAU bukakan, aku tak ingin lelah. TUHAN pada siapa lagi aku meminta kalau bukan pada-MU, kalau KAU tidak mengabulkan pada siapa lagi aku memohon, dimanakah ENGKAU Maha Rahman ?
Truestory......., Membuatku tersungkur......
Aku duduk terpaku dilantai berkarpet tebal, lesu dan perih menyender dipintu kamar. Lamat-lamat terdengar suara pembantu berbicara pada suami ”sudah tiga hari ibu mengurung dikamar”, ”biarin aja, nanti juga sadar sendiri” terasa ringan sekali suamiku menjawab. Menghabiskan energi sisa yang kumiliki, membuatku tergeletak. Nanar kulihat satu persatu segala yang kumiliki, tas Hermes seharga ratusan juta yang kubeli setelah menunggunya hampir satu tahun. Brankas yang berisi uang tidak kurang dari 3 milyar, belum berlian, permata, emas, cek, saham, obligasi. Kulihat diri, baju yang kupake escada, pakaian dalam victoria secret, sandal bally. Semuanya menertawakanku.
Kubayangkan rumah megahku, dengan luas tanah 2000 meter, bangunan tiga lantai, sebagian besar perabot klasik import, mobil, perabot dapur modern. Mengejekku. Dulu ingin kumiliki semua ini untuk membahagiakan orangtua dan keluarga, agar anak-anak bisa nikmati masa keemasannya dengan optimal dan mendapat pendidikan yang terbaik.
Kulihat photo aku dan suami saat menikah, lelaki yang teramat baik dan setia namun sangat gila kerja. Jangankan dikotaku, di negeri ini pun dia jarang ada, hari ini di ausie, 3 hari kemudian di singapura, dilanjutkan ke belanda. Hanya 3 – 4 bulan sekali dia 'mendatangi' ku, bermalam-malam aku pura-pura tertidur kemudian melihat suami memenuhi kebutuhannya dengan menonton film. ”untuk apa kau memintaku menjadi istri ?” kataku dalam hati sambil menahan segukan.
TUHAN, semua yang kumiliki tidak bisa memenuhiku, aku kesepian, merasa sendiri, tak ada yang kumiliki lagi, dimanakah adanya KAU Yang Maha Rahman, dimanakah dapat kutemui ?.
Juga seorang teman,
Setiap tiga hari sekali saya harus berpindah masjid, karena aturannya tidak boleh menginap lebih dari tiga hari. Dengan dua anak lelaki yang sedang rakus-rakusnya makan dan senang main. Tak jarang menahan lapar demi kedua anakku kenyang.
Suami pecandu narkoba, suka mabuk dan judi mau membunuh kami hingga kami pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa.
Berbagai cara saya lakukan hanya agar anak bisa makan, menjadi pembantu rumah tangga, mencucikan baju, berjualan, namun selalu kekurangan. Sejak sebelum menikah berbagai ibadah saya tempuh, shalat malam tak pernah lepas, sehari shaum sehari tidak, shaum tengah bulan, membaca Qur’an setiap malam, tak henti berdzikir, mencoba bersabar dan ikhlas atas semua takdirnya. Ujian-NYA tak pernah henti.
Mengapakan kepahitan tidak juga pergi meninggalkanku. TUHAN, berbagai pintu-MU aku ketuk, meski belum jua KAU bukakan, aku tak ingin lelah. TUHAN pada siapa lagi aku meminta kalau bukan pada-MU, kalau KAU tidak mengabulkan pada siapa lagi aku memohon, dimanakah ENGKAU Maha Rahman ?
Truestory......., Membuatku tersungkur......
Warna Warni
Published by Lia RosS on 10 April, 2006 at 4:28 PM.
Dari awal tuh aku dah tereak-tereak, ayo koordinasi biar jelas pembagian kerja, segera dieksekusi, ‘n cepet beres kerjaannya. Tak ada satupun yang peduli. Baru setelah di ultimatum sama big bos barulah semua ribut kesana kemari, mana long week end pula. Akhirnya pada nyerah, sudahlah tak usah terlalu sempurna, seadanya saja, toh kedepan bisa direvisi. Belum lagi perbedaan persepsi akan satu konsep.
Gak bisa, (mulai deh…kolarisku keluar) aku temui konsultan, meminta kejelasan akan perbedaan persepsi. Oke, persepsiku di benarkannya, dan…. “kamu kerjain aja semuanya, maksimal satu hari sudah send email, saya periksa, dua hari kemudian kita eksekusi”
Syukur, Alhamdulillah. Jadilah liburan diisi dengan masuk kantor, agak be te sih, ditambah saat musti bolak-balik keluar kantor, ada lelaki ngeliatin terus aja en senyam senyum “reseh banget, sok kecakepan, Astaghfirlloh” kataku dalem hati. Tadinya aku cuekin, penasaran, lihat juga, Oh TUHAN, ternyata dia temen SMP ku, cowo pertama yang aku keceng. Kok bisa sih lupa, pangling, habis dia dah kaya bapak-bapak gitu. emang aku ? rasanya masih tetep muda, waktu terhenti untuk kita kata temen sesama jomblo.
Ingat ceramah Ustadz Dudi Mutaqqin diacara Maulidan tadi malam “berbuat baik saja, sekecil apapun, nanti akan datang pertolongan ALLOH dari tempat yang tidak diduga”. Yup, aku harus mengerjakan tugas dengan baik. Tapi aku mo minta hadiah-NYA. Selama ini, ku biarkan hidup mengalir, jarang ngotot terhadap suatu keinginan, hanya satu kali ketika ingin umroh. Kali ni aku pengen apa ya ?
Hmmm…pengen hidup bersama orang yang spritualnya seperti Jalaludin Rumi, menuntunku berasik masyuk dalam berbagai jalan menuju-NYA. Tapi sekaya pangeran Arab, hingga gak usah kerja, tinggal ngebagi-bagiin uang saja pake camry eh limo ding. Juga kharismatik dan kemampuan orasinya seperti Bung karno. Dan briliant seperti habibie. perfomancenya macho kaya Brad Pitt, manis kaya mas Keanu Reaves. Haaah …. Mimpi kali ye, kata yang baca.
Eh, gak usah deh TUHAN, aku hanya ingin tidak pernah KAU tinggalkan, meski tubuhku bergidik ketakutan saat merasakan Al Qohhar-MU, Al Malik-MU, Al Jabbar-MU, Al 'Aziz-MU dalam sepinya malam. Aku ingin selalu menikmati kehadiran Maha Rahman-MU, Maha Rahim-MU, Maha Halim-MU, Maha Latiif-MU dalam setiap hela nafas.
TUHAN. Maafkanlah keinginan syariatku, aku ingin mencuci kaki kelima lelaki kecilku setelah mereka bermain sepanjang hari, mengepang rambut perempuan cantik kecilku dan duduk tenang diberanda rumah bambu sambil menikmati angin pesawahan mendengarkan kekasih-MU mengaji dan bercerita tentang Muhammad Rosululloh.
Aamiin Ya Mujiib.
Gak bisa, (mulai deh…kolarisku keluar) aku temui konsultan, meminta kejelasan akan perbedaan persepsi. Oke, persepsiku di benarkannya, dan…. “kamu kerjain aja semuanya, maksimal satu hari sudah send email, saya periksa, dua hari kemudian kita eksekusi”
Syukur, Alhamdulillah. Jadilah liburan diisi dengan masuk kantor, agak be te sih, ditambah saat musti bolak-balik keluar kantor, ada lelaki ngeliatin terus aja en senyam senyum “reseh banget, sok kecakepan, Astaghfirlloh” kataku dalem hati. Tadinya aku cuekin, penasaran, lihat juga, Oh TUHAN, ternyata dia temen SMP ku, cowo pertama yang aku keceng. Kok bisa sih lupa, pangling, habis dia dah kaya bapak-bapak gitu. emang aku ? rasanya masih tetep muda, waktu terhenti untuk kita kata temen sesama jomblo.
Ingat ceramah Ustadz Dudi Mutaqqin diacara Maulidan tadi malam “berbuat baik saja, sekecil apapun, nanti akan datang pertolongan ALLOH dari tempat yang tidak diduga”. Yup, aku harus mengerjakan tugas dengan baik. Tapi aku mo minta hadiah-NYA. Selama ini, ku biarkan hidup mengalir, jarang ngotot terhadap suatu keinginan, hanya satu kali ketika ingin umroh. Kali ni aku pengen apa ya ?
Hmmm…pengen hidup bersama orang yang spritualnya seperti Jalaludin Rumi, menuntunku berasik masyuk dalam berbagai jalan menuju-NYA. Tapi sekaya pangeran Arab, hingga gak usah kerja, tinggal ngebagi-bagiin uang saja pake camry eh limo ding. Juga kharismatik dan kemampuan orasinya seperti Bung karno. Dan briliant seperti habibie. perfomancenya macho kaya Brad Pitt, manis kaya mas Keanu Reaves. Haaah …. Mimpi kali ye, kata yang baca.
Eh, gak usah deh TUHAN, aku hanya ingin tidak pernah KAU tinggalkan, meski tubuhku bergidik ketakutan saat merasakan Al Qohhar-MU, Al Malik-MU, Al Jabbar-MU, Al 'Aziz-MU dalam sepinya malam. Aku ingin selalu menikmati kehadiran Maha Rahman-MU, Maha Rahim-MU, Maha Halim-MU, Maha Latiif-MU dalam setiap hela nafas.
TUHAN. Maafkanlah keinginan syariatku, aku ingin mencuci kaki kelima lelaki kecilku setelah mereka bermain sepanjang hari, mengepang rambut perempuan cantik kecilku dan duduk tenang diberanda rumah bambu sambil menikmati angin pesawahan mendengarkan kekasih-MU mengaji dan bercerita tentang Muhammad Rosululloh.
Aamiin Ya Mujiib.
Diantara dua perEMPUan
Published by Lia RosS on 03 April, 2006 at 3:51 PM.
First Women
Tidak tahu kenapa, selalu hati ini terhenyak saat melihatnya, saat dia terpaku dalam shalat-shalatnya, saat menuntun ketujuh anak perempuannya, saat memimpin doa dihadapan puluhan perempuan yatim piatu asuhannya.
Getir, menatap senyum hambarnya, menceritakan suami romantis yang memenuhi semua kebutuhan hidupnya, anak-anak yang membanggakan, pesona kecantikan fisik yang berani dipamerkannya, ekonomi yang mapan, rumah dengan perabotan mahal, beberapa mobil yang siap antar jemput anak dan dirinya.
Sahabatku sayang, tak usah bicara banyak, dadaku merasakan sakitnya hatimu, menghadapi kenyataan lelaki pilihan TUHAN memiliki perempuan lain selain dirimu.
Tak usah menangis, aku telah menangis dalam sujud-sujudku untukmu. Semoga ALLOH memilihmu menjadi kekasih-NYA.
TUHAN tahu engkau perempuan shalihah yang mungkin akhir-akhir ini agak lalai berada dibait-bait ketinggian yang seharusnya milik TUHAN saja. DIA punya berbagai cara memaksamu agar meng-nol-kan diri. Seorang teman menyampaikan, semua angka jika dibagi nol maka hasilnya tidak terhingga, engkau pasti mengerti apa dan siapakah Yang Tak Terhingga itu.
Itulah mengapa kau dikelilingi banyak perempuan, untuk mengajarkan berbagi kebahagiaan dengan sesama perempuan meski menyakitkan, sesekali sakit adalah jalan-jalan indah menuju-NYA.
Percayalah, setelah bisa memilah cinta, antara KHALIQ dengan makhluq, mengkhidmati dengan khusuk cinta pada makhluq adalah bagian dari mencintai KHALIQ, menemukan cinta TUHAN yang maha luas ada dikedalaman diri, dan hanya cinta TUHAN-lah yang paling hakiki, lelaki itu akan sepenuhnya menjadi milikmu kembali, saat kau telah menjadi milik TUHAN sepenuhnya.
Jangan Menyerah, Lelaki itu syariat yang harus ditempuh dalam kehidupan dunia karena dengannya kau menjadi diri yang satu untuk menuju Yang Satu.
Second Women
”Bertahun-tahun saya mengalami ini, berpindah-pindah tempat mengikuti suami secara sembunyi-sembunyi, tak jarang berada satu pesawat dengan suami dan istri pertamanya, berpapasan tanpa respon seperti yang tidak saling mengenal, kami menginap dihotel yang sama yang aku bisa melihat suami, istri, dan anak-anaknya berenang dibawah. Dalam situasi aman suami mengunjungiku. Aku tidak cemburu melihatnya, aku hanya ingin membuat perempuan itu nyaman.
Terkadang lelah, ingin hidup normal seperti yang lain, bisa bebas menggandeng tangan suami ditempat-tempat umum, tapi aku tidak bisa melepaskannya. Bukan karena uang ratusan juta yang dia hamburkan untukku setiap minggunya namun karena aku begitu mencintainya. Aku mempercayainya, dia lelaki baik yang tulus mencintaiku yang tak akan membuangku saat sudah tua kelak.
Aku tidak tahu kenapa, lelaki yang menyukaiku selalu suami orang, jikalau ada 90 lelaki yang melamarku keseratus persennya telah beristri. Tak pernah terbayangkan sedikitpun, menginginkannya pun tak pernah.”
Sahabatku sayang, aku tahu betapa tidak mudahnya menjadi second women, merasakan gundahmu, didera perasaan bersalah, sembunyi-sembunyi menyayangi seseorang, dibenci hampir semua perempuan, dilirik dengan mata nyinyir, dianggap merebut suami orang.
Takdir, bisakah kita bermain-main dengannya, bisakah memilih saat hanya ada kuasa-NYA dalam kehidupan ?.
Kehadiranmu dalam kehidupan perempuan lain telah menyadarkan perempuan itu untuk mengembalikan segala hanya pada-NYA. Kau telah menjadi jalan menuju TUHAN, dan kau adalah jalan itu sendiri yang sepastinya menuju TUHAN pula.
Alhamdulillahi Robbil ’alamiin
Alhamdulillah 'ala kulli Ha
Syukur yang mana yang harus aku lafadzkan terus menerus, TUHAN ?
Tidak tahu kenapa, selalu hati ini terhenyak saat melihatnya, saat dia terpaku dalam shalat-shalatnya, saat menuntun ketujuh anak perempuannya, saat memimpin doa dihadapan puluhan perempuan yatim piatu asuhannya.
Getir, menatap senyum hambarnya, menceritakan suami romantis yang memenuhi semua kebutuhan hidupnya, anak-anak yang membanggakan, pesona kecantikan fisik yang berani dipamerkannya, ekonomi yang mapan, rumah dengan perabotan mahal, beberapa mobil yang siap antar jemput anak dan dirinya.
Sahabatku sayang, tak usah bicara banyak, dadaku merasakan sakitnya hatimu, menghadapi kenyataan lelaki pilihan TUHAN memiliki perempuan lain selain dirimu.
Tak usah menangis, aku telah menangis dalam sujud-sujudku untukmu. Semoga ALLOH memilihmu menjadi kekasih-NYA.
TUHAN tahu engkau perempuan shalihah yang mungkin akhir-akhir ini agak lalai berada dibait-bait ketinggian yang seharusnya milik TUHAN saja. DIA punya berbagai cara memaksamu agar meng-nol-kan diri. Seorang teman menyampaikan, semua angka jika dibagi nol maka hasilnya tidak terhingga, engkau pasti mengerti apa dan siapakah Yang Tak Terhingga itu.
Itulah mengapa kau dikelilingi banyak perempuan, untuk mengajarkan berbagi kebahagiaan dengan sesama perempuan meski menyakitkan, sesekali sakit adalah jalan-jalan indah menuju-NYA.
Percayalah, setelah bisa memilah cinta, antara KHALIQ dengan makhluq, mengkhidmati dengan khusuk cinta pada makhluq adalah bagian dari mencintai KHALIQ, menemukan cinta TUHAN yang maha luas ada dikedalaman diri, dan hanya cinta TUHAN-lah yang paling hakiki, lelaki itu akan sepenuhnya menjadi milikmu kembali, saat kau telah menjadi milik TUHAN sepenuhnya.
Jangan Menyerah, Lelaki itu syariat yang harus ditempuh dalam kehidupan dunia karena dengannya kau menjadi diri yang satu untuk menuju Yang Satu.
Second Women
”Bertahun-tahun saya mengalami ini, berpindah-pindah tempat mengikuti suami secara sembunyi-sembunyi, tak jarang berada satu pesawat dengan suami dan istri pertamanya, berpapasan tanpa respon seperti yang tidak saling mengenal, kami menginap dihotel yang sama yang aku bisa melihat suami, istri, dan anak-anaknya berenang dibawah. Dalam situasi aman suami mengunjungiku. Aku tidak cemburu melihatnya, aku hanya ingin membuat perempuan itu nyaman.
Terkadang lelah, ingin hidup normal seperti yang lain, bisa bebas menggandeng tangan suami ditempat-tempat umum, tapi aku tidak bisa melepaskannya. Bukan karena uang ratusan juta yang dia hamburkan untukku setiap minggunya namun karena aku begitu mencintainya. Aku mempercayainya, dia lelaki baik yang tulus mencintaiku yang tak akan membuangku saat sudah tua kelak.
Aku tidak tahu kenapa, lelaki yang menyukaiku selalu suami orang, jikalau ada 90 lelaki yang melamarku keseratus persennya telah beristri. Tak pernah terbayangkan sedikitpun, menginginkannya pun tak pernah.”
Sahabatku sayang, aku tahu betapa tidak mudahnya menjadi second women, merasakan gundahmu, didera perasaan bersalah, sembunyi-sembunyi menyayangi seseorang, dibenci hampir semua perempuan, dilirik dengan mata nyinyir, dianggap merebut suami orang.
Takdir, bisakah kita bermain-main dengannya, bisakah memilih saat hanya ada kuasa-NYA dalam kehidupan ?.
Kehadiranmu dalam kehidupan perempuan lain telah menyadarkan perempuan itu untuk mengembalikan segala hanya pada-NYA. Kau telah menjadi jalan menuju TUHAN, dan kau adalah jalan itu sendiri yang sepastinya menuju TUHAN pula.
Alhamdulillahi Robbil ’alamiin
Alhamdulillah 'ala kulli Ha
Syukur yang mana yang harus aku lafadzkan terus menerus, TUHAN ?
