Intuisi "aku" perEMPUan

"aku". ana dan al Haq. makhluk perEMPUan dan Khalik NYA. tentang perEMPUan yang mainkan perannya, TUHAN nya yang mainkan takdir diantara jari-jari NYA dan bagaimana ”mereka” saling berhubungan. mari....mengeksplorenya disini


MenJAGA Lelaki

Ujian terberat bagi pere adalah kehadiran pere lain dalam kehidupan bersama lelakinya, sementara ujian bagi lelaki adalah keinginan untuk menghadirkan pere tambahan yang akan menambah gairah hidup (katanya....), meski tidak semua laki-laki lho ...... ? masih sangat banyak lelaki setia dan tidak materialistis memandang pere hanya dari segi fisik.

Untuk lelaki yang memiliki keterbatasan, misalnya keterbatasan ilmu, waktu yang sudah habis untuk mencari nafkah, ekonomi pas-pasan, dan memang tidak ada perempuan yang berminat (Sorry...) tidak terlalu menjadi problem besar, tinggal lelaki tersebut harus tahu diri (maaf,karena ada juga yang tidak). Namun bagaimana dengan lelaki tampan, mapan, pintar, sholeh yang pasti dikelilingi banyak pere ?

Mari lihat perjalanan beberapa pere yang saya temui yang berhasil melewati fase tersebut dengan matang hingga apa yang ditakutkan tidak menjadi kenyataan.

Perempuan pertama. Sejak masih mahasiswa sampai sudah memiliki tiga orang anak tetap konsisten melakukan peningkatan ilmu dan aktif berdakwah, cadar yang dipakainya tidak menghalangi aktifitas sosial. Dikenal sebagai ibu yang ramah dilingkungannya, setiap lewat didepan ibu-ibu yang sedang berkerumun didepan rumah, sebagian besar akan hafal menyebut namanya. Membuat kue untuk dititipkan diwarung-warung bukan untuk mendapat keuntungan tapi untuk menciptakan hubungan baik. Orang yang komit akan prinsip-prinsip yang dianutnya

Beberapa pere yang sempat dekat mengatakan kalau dibalik cadarnya terlihat wajah ramah yang tulus. Pere matang menghadapi segala, tidak rariweh pabila ada sesuatu yang terjadi diluar dugaan. Banyak pere lain yang curhat dan menangis padanya, dia akan menjadi pendengar yang baik tanpa memberikan banyak taushiah dan pere yang curhat tersebut akan merasakan ketenangan.

Ketika ditanya, siapkah pabila suaminya memiliki pere lain ? dia jawab dengan jujur satu masa pernah siap tapi kadang tidak siap. Ketika satu waktu sempat berdialog dengan suaminya tentang kehadiran pere lain dalam rumah tangga yang telah dibinanya sekarang, dia mengatakan ”istri saya sudah menjadi hijab bagi kehadiran pere lain”.

Pere ke dua. Tidak berbeda jauh dengan pere pertama. Lembut dan keibuan, selain ibu yang baik untuk anak-anaknya juga istri yang baik untuk suaminya, lulusan sekolah teknik terbaik di indonesia namun rela meninggalkan karir cemerlang didepan mata.

Ketika peristiwa berat itu terjadi, sesekali kerapuhan terlihat diantara ketegaran yang berusaha dieksposenya. Hingga rasanya perlu memotivasinya meski hanya berbicara sederhana ”Teteh perempuan yang sangat beruntung memiliki suami yang sangat baik, sholeh, dan memiliki kedalaman spritual yang semuanya itu adalah buah dari kesholehahan Teteh. Percayalah, ALLOH akan menjaga suami teteh dengan takdir-takdirnya, sekalipun hal ini mungkin mengecewakan dan menyakitkan bagi suami”.

Dan memang terbukti. Lelaki itu sempat sakit karena impian memiliki pere lain tidak menjadi kenyataan tapi takdir-NYA tetap yang terbaik yang membuatnya TOBAT. Dan menyadari pere yang telah ALLOH titipkan adalah pere terbaik.

Pere yang ketiga ni paling beda. Orang yang sangat biasa dalam berritual, bahkan masih bertanya ”ni sholat apaan sih ?” pabila ada sholat diluar yang wajib. Tapi lelakinya lengket.. ket.. ket kaya prangko. Mo tahu rahasianya ? ada deh, mau tahu aja .... akan aku bahas dalam tulisan yang laen.

SHAUM

Ritual yang satu ini masih saja diidentikkan dengan ibadah yang menyebabkan orang merasa lemas, hingga lebih memilih menyedikitkan aktifitas baik dengan meminta pekerjaan yang ringan atau memilih berdiam diri dirumah dengan membaca Qur’an atau buku daripada bgaul.

Penyakit maag sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan ”akhwat shalihah” hingga sering diledekin kalo mau sholehah harus kena penyakit pencernaan dulu. Terlihat lemas, wajah kuyu, memilih berdiam dimasjid, membiarkan mulut agak bau menjadi kebiasaan para peshaum. Mari kenali hati terdalam adakah riya disana untuk menunjukkan bahwa kita sedang shaum.

Padahal tidak ada satu pun yang ALLOH sukai yang akan menyulitkan kita, sudah sangat banyak pengetahuan ilmiah tentang manfaat shaum misalnya pencernaan memang perlu istirahat tidak melulu bekerja keras. Justru dengan istiqomah shaum kita akan menjaga makanan yang masuk, hanya makanan yang efektif saja yang dicerna. Hal ini pun bisa mengatasi bau mulut para peshaum yang katanya seharum kesturi disurga tetap saja bikin pusing teman bicara, seringkali bau mulut disebabkan karena tidak sehatnya pencernaan. Cara sederhana dan murah adalah minum air putih yang banyak. Ngejadwal olahraga untuk mengatasi lemas dan kuyu juga sangat penting.

Teknisnya sederhana saja, usahakan shahur karena selain sunnah Rosul juga saat itu kita bisa berdoa sebanyak-banyak karena malaikat akan mengaminkan. Shalat malam yang sebelas rakaat dibagi dalam lima kali, setiap jedanya kita bisa minum satu gelas sembari berdzikir dan berfikir / berkontempelasi yang akan membuat sholat lebih khusuk kemudian berbuka dengan makanan sehat, buah dan sayur adalah pilihan tertepat.

Untuk shaum sunnah yang berlaku umum sering tidak menjadi masalah, misalnya shaum Senin dan Kamis karena sebagian besar orang sudah faham sehingga jarang mengadakan aktifitas yang akan menggoda dihari-hari tersebut. Tapi berbeda dengan shaum daud, sehari shaum sehari tidak yang tentu selalu berbeda hari setiap minggunya, sehingga agak kesulitan diprediksi.

Menyeimbangkan bersosial dan berritual melalui shaum daud tentu membutuhkan energi, tetap mau ditugaskan keluar kota, menghadiri makan bersama teman-teman kantor, mengantar sodara berwisata belanja ke mall dan factory outlet, menghadiri undangan pernikahan, tapi kalo ngedate..... ? teuteueup..., harus malah, agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan he..he...

Persoalan makan memakan tentu sudah bukan ujian lagi, ujian selanjutnya adalah riya, dikeramaian kita sendiri yang tidak makan, hingga orang tahu sedang shaum. Mengatasi yang ini, ingat saja hadist Rosul, Rosul mencontohkan shaum karena tidak ada lagi makanan yang dimakan, juga Rosul bersabda apabila sudah berkeinginan untuk menikah tapi belum ada kesempatan maka shaumlah, akui saja diri lemah dan masih difase itu sementara orang lain yang tidak shaum sudah memiliki harta berlebih dan bisa menjaga diri.

Meski tentu, inginnya sih bershaum karena ingin merasakan nikmatnya lapar dan nikmatnya berbuka hingga ujungnya setiap saat bisa menjaga keterkaitan dengan ALLOH karena DIA senang bersama orang-orang yang lapar.

Masih belum bisa juga mengatasi riya ?. Pasrah kunci satu-satunya, bukankah tak ada kuasa diri, bahkan atas hati, fikir, dan khayal sendiri, hanya DIA lah yang punya kuasa, minta ALLOH saja yang menjaganya.

Semoga ALLOH membukakan hikmah untuk ritual lainnya gar tetap seimbang dengan hablumminannaas.




© 2006 Intuisi "aku" perEMPUan | Lia RosS